Is he the one?

Sejak saya menikah, pertanyaan yang paling sering orang-orang tanyakan pada saya (selain kalimat-tanya-seribu-ummat "Kapan hamil?" itu), adalaaaahhh... "Kenapa dia?"


Yap. dari milyaran kaum lelaki di muka bumi ini, kenapa saya pilih Dzaky? atau yang lebih krusial lagi, kenapa saya yakin bahwa Dzaky lah seseorang itu? Quite hard to answer, actually. Percayalah... sampai milidetik terakhir menuju pengucapan akad pun, saya masih bertanya-tanya, "Duhai Allah, inikah dia? darinya kah tulang rusuk itu Kau ambil?"


Saya kenal Dzaky sudah dari SMP. Berlanjut ke SMA yang sama. Walaupun beberapa kali kami ada di satu amanah, cukup sering interaksi, tapi tentunyaaaa... kehidupan suami-istri itu jaauuuhhh beda sekali dengan sekadar hubungan sekretaris umum-bendahara umum kan? 
Dan itu benar-benar terbukti. Pasca pernikahan, saya seperti say hello dengan orang yang benar-benar baru. 
Dzaky si Sekre Umum OSIS tentunya beda dengan Dzaky yang saya nikahi. 


Ada idiom yang bilang, pernikahan mengelupas segalanya. Untuk perkara orang? Ya. Menikah benar-benar mengelupasi pasangan kita hingga ke sifat 'kulit mati'nya. Mulai dari yang bikin kita seneng sampe kesel seubun-ubun :p


Ga kebayang yak? Gini-gini... Sebelum nikah, akan sangat mudah seekali kita simpatik atau (bahkan) sampai jatuh cinta dengan dia yang nampak macho nan berwibawa sebagai si Ketua Lembaga. atau dia yang (kelihatannya) selalu tunduk tawadhu' nenteng Qur'an kemana-mana. Juga dia yang nampak keren ngisi materi di dauroh. Yah, create your own definition of future-husband deh! He..he..
Lalu, apa yang terjadi setelah nikah? Pernah kebayang kalau si macho tadi ngupi di depan mata? Atau si tawadhu' ternyata punya kebiasaan ngorok super-keras? Sedang si keren makannya banyak? porsi kuli pula, pernah kebayang?


Ga kebayang? Saya tebak, Anda pasti belum nikah :p


Nah.. nah.. keliatan kan kontrasnya dari contoh barusan. Itu baru perihal kebiasaan. Gimana kalau ketika Anda sudah menikah (katakanlah dengan si keren-pengisi-dauroh itu), ternyata orangnya super ga sabaran? (ehhh, ini contoooh.. jangan mendelik ke suami saya gitu doong :p). Lalu ketika Anda telat semeeniit saja dari janji dijemput pulang liqo, Anda menemukannya dengan wajah tekuk seribu. Ga banyak bicara. Melajukan motor. Nganter pulang. Daaan.. sesampainya Anda di rumah, tiba-tiba aja dia ijin mau ke bengkel padahal tadinya ga ada agenda kaya' gitu di jadwalnya. Gimana? Pernah kebayang?


Pernikahan saya dan Dzaky baru masuk tahun kedua. Tapi saya belajar baaaaaaaanyaaaaaakkk banget. bukan sekedar baaaaaaanyaaaaaaaaakkk, tapi buaaaaanyaaakkkk (Kalo kata Ka Cici mesti pake 'U' biar keliatan buaanyak-nya, hekekeke..). Somehow, pernikahan ini memang kaya' jadi perkenalan baru banget buat saya tentang Dzaky, dan saya pun yakin, begitupula yang dirasakan Dzaky mengetahui istrinya yang paling males beres beres rumah.


Di titik itu, saya jadi merenung.. Wah, kalo kaya' gini, memang sampai kapanpun saya ga bisa mendeklarasikan bahwa 'dia lah orangnya', terlebih sampe frase 'dia-lah yang Allah ridha'i untuk saya'. Jawaban itu cuma Allah yang pegang. Seperti yang Allah sampaikan: "Masuklah kalian ke dalam syurga beserta istri-istri dan keturunan kalian yang beriman".  Sebelum sampai ke kehidupan kekal itu, bener kan sampai kapanpun kita ga akan tau? 


Lalu gimana saat dihadapkan dengan beberapa pilihan jodoh? (Cieee... laku beneeer...)
Buat saya, pilihlah yang paling membuatmu tentram dengan keputusan itu. Ketika sudah mendekatkan diri denganNya, sedekat-dekatnya. Ucaplah Bismillaah, lalu pilih yang paling membuatmu tentram. 
Selebihnya? Itu ikhtiyar
Ikhtiyar penuh-sungguh untuk membuat rumah tangga jadi sakinah, waddah, nan rahmah. 


Di tengah jalan nanti, akan sangat mungkin kau temukan buanyak perbedaan. Ada yang kau sukai; banyak pula yang kau murkai. Bahkan mungkin saya syaithan membawamu sampai pada prasangka: "Mungkin kalo gue ga nikah sama dia, ga akan kaya' gini jadinya"
Tapi tetaplah berjalan. tetaplah bergandengan dengannya. Tetaplah berdekatan. Tetap ikhtiyarkan.  Senantiasa lah ingat: Ketika sudah melibatkan Allah dalam pengambilan keputusan, maka kesulitan bukanlah pertanda salah mengambil jalan! (kata-kata keren ini saya ambil dari Noi, sahabat seperjuangan sesama Ibu beranak satu di UI angkatan 2007)


Allah sembunyikan takdir, agar kita berusaha bukan? Itulah.. mungkin di sana pula ada hikmah, tentang kenapa kita ga akan pernah tahu apakah yang sekarang berjalan disisi adalah pendamping di syurga abadi. Supaya kita terus berusaha dan mensyukuri segala yang ada. Hingga nanti, ketika cinta berakhir di saat tak ada akhir.. 




Hey A'a, terimakasih untuk perjalanan 2 tahun ini:
“It’s not always rainbows and butterflies, it’s compromise that moves us along…” 
(Maroon 5)
Tolong bawa aku dan anak-anak ke syurga ya? :')



¡Compártelo!

0 komentar:

Posting Komentar

Selamat datang di Keluarga Hanif!
terimakasih yaa sudah berkunjung.. :)

Search

 

Followers

Rumah Bahagia ^__^ Copyright © 2011 | Tema diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger