Per-hati-kan: Hati-Hati Menjaga Hati

27 Sep
“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”
Q S Al An’aam 162


Kepada semua orang yang akhirnya menemukan tulisan ini percayalah ini bukan cerita murahan pinggir jalan. Tak pernah benar-benar terjadi, hanya ilusi. Ini benar kisahku, atau bisa jadi telah, sedang, akan menimpa kalian juga, anak-anak, cucu kalian kelak. Walau aku tak tahu akan ke siapa tulisan ini singgah, kemana ia menghempas, kapan ia tertemu, per-hati-kan pesanku: berhati-hatilah menjaga hati. Ini kisahku, tapi bisa juga jadi kisah kalian.


Tepat 9 Juni 2009, kutulis percik ini

Sudah banyak kisah ikhlas yang aku dengar, aku baca, sering bahkan. Selintas atau hingga yang membuatku terpaku, tersedu-sedu. Maklum saja aku, sebagaimana kata orang-orang adalah seorang aktivis dakwah kampus. Walaupun hakikat dari terminologi aktivis dakwah kampus itu sendiri masih tak aku mengerti, pada akhirnya lambat laun sebutan itu menjadi identitasku juga akhirnya. Identitas, kuusahakan tak sampai di level itu saja.

Kisah bunda Hajar. Belum usai letih perjalanan yang ia rasakan. Belum jua ia mampu berpikir jernih, sang lelaki mulai beranjak menjauh. Menjauh, meninggalkannya, meninggalkan mereka tepatnya. Paraunya, “Yaa.. Ibrahim, apa yang kau lakukan dengan meninggalkan kami disini?” Tidak menoleh! Suami tetap melangkah mantap. Mempercepat. Tegas. Sedikit ia keraskan suara, “Yaa.. Ibrahim, apa yang kau lakukan dengan meninggalkan kami disini?” Parau itu mencabik-cabik hati sang lelaki. Hingga langkahnya pun melamban. Hatinya dilema, terbelah dua, Allahu Rabb. Aku tiada mengerti makna perintahMu ini.. sungguh pun…

Tetapi ia, suami, tidak berhenti menjauh. Di tengah kebingungan. Padang gersang tak bertuan.Tanah tandus tak beroase. Tiada penghidupan. Hampir-hampir tiada yang mampu menjadi sumber kehidupan. Dalam kepanikan. Dalam kekhawatiran. Dalam kecemasan. “Tunggu! Suami ku, adakah ini perintah Allah?” Cukup. Hanya dengan dua kali panggilan berulang yang tak terjawab, keimanan kini mengambil alih. Menggubah kata tanya dalam serta merta. Hingga ia, sang suami pun tercekat. Berhenti ia. Memutar. “Ya, duhai istriku… ini adalah perintah Allah..”


Tak hanya narasi-narasi itu bahkan di sekelilingku, aku insyaf akan adanya ikhlas di sana sini. Tanyakan pada jantung yang senantiasa setia memompakan darah ke seluruh nadi. Bagaimana ianya rela memforsir diri bahkan di kala anggota fisik lain tengah mengistirahatkan diri. Lalu tentang hamparan bumi meluas yang tak pernah mengganti posisinya sebagai objek terpijak. Bahkan pun tiada bandingnya ketika perut diuruk, rerambut dicerabut, tulang-tulang dipatah. Tak pernah ia marah. Tak pernah. Inilah ikhlas yang aku tahu bahwa ia sejatinya adalah Sunnatullah.

Benar sesungguhnya Allah menguji keikhlasan dalam kesendirian. Kisah-kisah telah terlampau mudah dicerap, logika mencari analogi pun cerkas dalam labirin kognisiku. Namun, saat ikhlas harus membenturkan diri pada kenyataan bisakah kita, bahkan untuk hal-hal kecil, bahkan untuk hal-hal sederhana. Karena ikhlas bukan materi, bukan definisi, tak dapat diinderai, ia di sini di hati.


Tepat 8 Juni 2009, inilah yang terjadi

Kuperhatikan lagi bayangan yang terpantul pada cermin di hadapanku. Yups, sudah rapi. Aku pun segera meraih ranselku dan melangkah keluar kamar. Namun, oo, di luar mendung rupanya. Aku kembali ke kamar. Kumasukkan sebuah payung ke dalam ranselku. Ketika keluar, aku berpapasan dengan ayahku.

“Mau hujan lebat, Dik. Tetap mau pergi?” tanya ayahku.

“Iya. Udah janji soalnya, Pa.”

“Ya udah. Papa antar sampai depan.” Ayahku memutuskan.

Kami meluncur bersama vespa kesayangan. Awan gelap itu tampak sudah siap menumpahkan airnya ke bumi. Ayahku mempercepat laju vespanya. Namun, apa daya, di tiga perempat perjalanan, air hujan itu turun juga. Kami berhenti sejenak untuk mengenakan pelindung, lalu melanjutkan perjalanan.
Setelah beberapa menit, sampailah kami ke tujuan. Aku segera menaiki angkot yang akan membawaku ke terminal Kampung Rambutan, tempat dimana aku bisa menemukan angkot lain yang akan membawaku ke kampus UI, Depok.

Begitu duduk di angkot pertama, hujan menderas. Benar-benar deras. Angin yang kencang berputar ke sana ke mari membuat jatuhnya air menjadi tidak beraturan. Separuh isi angkot yang pintunya terbuka itu basah. Untunglah penumpangnya hanya dua, aku dan seorang pria di pojok seberang. Supir angkot ini begitu bersemangat (atau sedang kesal? Hehe). Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga tak sampai 10 menit (perjalanan normal 15 menit) kami sudah tiba di terminal.

Aku turun dan memakai payung sambil berjalan menuju angkot 19 jurusan Depok. Pelataran terminal tergenang air. Walhasil, sepatu dan bagian bawah rokku basah. Ditambah lagi, payung yang kupakai menjadi tidak banyak berpengaruh karena ia sibuk diombang-ambingkan angin. Maka, sebagian jilbabku pun ikut basah. Setelah berjalan sambil sibuk menahan payungku agar tidak terbang, aku melihat angkot itu di hadapanku. Finally!

Aku melangkah masuk dan melihat sekeliling. Di bangku panjang berkapasitas empat orang, aku melihat tempat kosong, posisi kedua dari pintu. Posisi terdekat ke pintu diduduki seorang ibu. Aku pun berjalan ke sebelah ibu tersebut.

Ketika akan duduk, sebuah paper bag berwarna pink berisi kertas-kertas yang dimasukkan ke dalam plastik fotokopi bertengger di tempat yang akan kududuki. Aku urung duduk. Bertanya ini milik siapa. Laki-laki yang menduduki posisi ketiga dari pintu hanya diam. Ah, ternyata ibu di sebelahku yang bereaksi. Ia menyentuh paper bag itu. Kupikir akan segera diambilnya, namun ternyata hanya dirapatkannya ke jendela angkot. Aku bingung. Namun, aku tidak bertanya dan memutuskan untuk duduk. Sudahlah, pikirku. Toh, tidak mengganggu dudukku. Kubiarkan paper bag itu di belakangku.

Angkot belum penuh. Itu artinya belum akan berjalan. Kuhitung-hitung berapa lama lagi kira-kira akan penuh. Tempat di samping kanan pria di sebelahku masih kosong. Satu. Bangku panjang di seberangku yang berkapasitas enam orang, baru terisi lima. Dua. Bangku kecil berkapasitas dua orang di depan pintu masih kosong. Empat. Bangku depan di samping supir penuh. Hmm… empat orang lagi.

Sedang aku menghitung-hitung, ibu di sebelahku, yang sejak tadi mengutak-atik ponsel, menyentuh pundakku. Aku menoleh. Si ibu berkata, “Adik basah nggak?” sambil meraba jilbab bagian belakangku. Awalnya aku bingung, sampai aku melihat dia menggeser paper bag itu lebih mendekat kepadanya dengan tetap disandarkan pada jendela angkot.

What? Dahiku mengernyit.

Apa maksudnya? Dia takut kertas-kertasnya basah terkena jilbabku?

Aku mulai tersinggung.

Kalau dia tidak mau kertas-kertas itu basah, kenapa tidak diambil? Dipindahkan jauh-jauh dariku?
Jelas-jelas ini tempat dudukku.

Tidak, bukan tersinggung. Kali ini aku kesal. Benar-benar kesal.
Tapi aku tidak melontarkan sepatah kata pun.

Si ibu, setelah menggeser paper bag-nya sehingga berada dalam posisi yang “aman”, kembali asyik dengan ponselnya. Aku pun berusaha mengalihkan perhatian agar kesal-ku hilang.

Beberapa menit lewat.
Kembali, si ibu menyentuh pundakku. Aku menoleh lagi. Si ibu bertanya,

“Dik, ini kalau mati gini kenapa ya? Baterainya atau karena basah ya?” ia menunjukkan ponselnya padaku. Layarnya mati kulihat.

Kawan, jujur, kau boleh katakan aku jahat, tidak sabaran, tidak menghormati orang tua, payah, atau apalah. Tapi ketika itu, ketika rasa kesal itu masih tersisa, aku tidak berminat untuk membantunya. Bahkan, terkesan tidak peduli.

Alih-alih mencoba memeriksa ponselnya, aku hanya berkata, “Saya juga nggak ngerti, Bu.” dengan nada malas.

“Nggak ngerti ya?” si ibu pasrah.
Mimiknya saat itu cukup membuatku iba. Tapi lagi-lagi aku kalah oleh amarah. Bahkan, untuk sekedar bilang “Mungkin baterainya habis, Bu.” untuk menenangkan si ibu, mulutku terasa berat.

Kawan, setan tertawa. Tapi aku tidak sadar.

Penumpang mulai berdatangan lagi. Seorang wanita berjilbab masuk. Pria di sebelahku bergeser ke pojok. Aku mengikutinya. Si ibu tetap memilih di pinggir. Otomatis wanita berjilbab itu berada di antara aku dan si ibu.

Angkot tinggal menunggu satu orang lagi. Bangku kecil di depan pintu masih kosong satu. Seorang mahasiswi menghampiri. Rupanya, salah seorang penumpang di dalam angkot yang juga berpenampilan seperti mahasiswi, sebut saja ia si baju merah, adalah temannya. Si baju merah merasa senang melihat temannya. Ia pun menyuruh temannya masuk dengan mengatakan, “Bisa, kok. Satu lagi.”

Namun, temannya itu tidak bisa duduk karena ada sebuah payung di atas bangku kecil tersebut.
Si baju merah mengerti, ia pun bertanya kepada si ibu, “Ini payung ibu ya, Bu?” tanyanya. Tentu saja dengan harapan si ibu akan memindahkannya agar temannya bisa masuk.

Namun, kau tahu apa jawaban si ibu?

“Iya. Biarin aja disitu.” Kini si baju merah yang mengernyitkan dahi.

Temannya yang tidak tahan berhujan-hujanan memutuskan untuk menaiki angkot yang dibelakang saja. Si baju merah sedikit kecawa. Namun, apa daya. Melihat itu, respekku pada si ibu semakin berkurang saja rasanya. Seorang penumpang lagi berniat masuk. Sama seperti mahasiswi pendahulunya, ia bingung karena ada payung.

Namun, kali ini, seorang ibu di pojok depanku berkata kepada si ibu, “Ibu, itu tolong payungnya dipindahin, Bu. Biar cepet penuh dan cepet jalan.”

Ampuh. Payung pun dipindahkan.

Angkot bersiap jalan. Lagi. Si ibu menyentuh pundakku. Ia bicara padaku lewat belakang wanita berjilbab yang duduk di antara kami. Ia berbisik perlahan,

“Dik, boleh minta uang seribu nggak, Dik? Untuk tambahan ongkos. Uang saya kurang, tadi habis nebus obat.”

Aku paham maksudnya. Kubuka ranselku. Kuambil selembar uang seribu rupiah dari dalamnya, lalu kuserahkan pada si ibu.

“Terima kasih, ya, Dik.” katanya.

Aku tersenyum tipis. Kawan, jujur, bantuan itu memang kuberikan. Tapi hatiku?
Jika boleh aku mengaku dosa, kawan. Aku memberikannya dengan segera agar urusanku dengannya cepat selesai. Astaghfirullah. Semoga Allah mengampuniku.

Angkot berjalan. Hujan tetap dengan setia turun walaupun tidak sederas sebelumnya. Suasana dingin mengundang para penumpang untuk tertidur. Termasuk aku. Sekitar 15 menit aku tertidur. Aku terbangun ketika penumpang mulai turun. Ketika itu angkot sedang melaju di daerah Universitas IISIP Jakarta.
Penumpang di bangku panjang seberang tersisa dua orang. Akhirnya, perempuan berjilbab di sebelahku memutuskan pindah. Kembali aku berada di sebelah si ibu.

Ketika angkot sampai di depan Stasiun Lenteng Agung, lagi, (perhatikan, kawan, lagi!) si ibu menyentuh pundakku. Ingin rasanya aku mengatakan, “Oh, ma’am, what else?”

Aku menoleh lagi. Ia menyodorkan kertas-kertasnya tadi padaku sambil berkata,

“Dik, ini gimana ya caranya biar nggak basah?”

Aku memperhatikan kertas-kertas dalam plastik yang disodorkan padaku. Ada dua buah plastik, masing-masing berisi berkas yang berbeda. Aku punya ide. Kusatukan kedua berkas itu dengan maksud agar pastik itu bisa saling menutupi. Si ibu melihatku bekerja dengan wajah polos. Tapi, ia panik ketika melihatku menyatukan kedua berkas itu.

Ia berkata, “Itu jangan dicampur, Dik.”

Aku menghela napas. Kali ini aku harus bicara, “Ibu, kalau ini nggak disatuin, nanti berkas yang satu lagi nggak ketutup. Akan tetap basah nanti.” kataku seperlahan mungkin.

“Oh, gitu ya? Ya udah, deh. Nggak papa, Dik. Daripada basah, repot lagi nanti.” katanya menyetujui tindakanku.

Untuk kedua kalinya, kawan. Bantuan itu memang kuberikan. Tapi hatiku? Entahlah. Meski kesal itu mulai berkurang, tapi ikhlas? Rasanya masih jauh. Pekerjaanku selesai. Berkas itu rapi kini. Kusodorkan semua kepada si ibu. Kembali si ibu berterima kasih.

Namun, tunggu.

Ketika kusodorkan kertas dalam plastik itu, sempat terbaca olehku kertas di susunan paling atas bertuliskan “Surat Keterangan Miskin” lengkap dengan stempelnya.

Aku sedikit terkesiap.

Lalu aku mulai mengamati si ibu dengan saksama, hal yang sejak tadi aku abaikan. Ia mengenakan baju tidur panjang berwarna coklat yang terdiri dari satu stel, celana dan baju, yang sudah tampak lusuh. Ditambah dengan kerudung langsung berwarna coklat yang sama lusuhnya. Sandalnya jepit berwarna merah muda. Selain paper bag dan payungnya tadi, ia masih menenteng sebuah plastik berwarna merah muda, yang entah isinya apa.

Kawan, jika tokoh Shinichi dalam komik “Detective Conan” selalu mengatakan bahwa fakta-fakta yang ditemukan di TKP sebenarnya adalah potongan puzzle, yang walaupun kelihatan berantakan dan bentuknya tidak karuan, pasti akan berbentuk jika kita mengubah sudut pasangnya, maka aku pun mulai mencari hubungan antara semua hal yang kulihat dan saksikan.

Pakaian lusuh…
Surat keterangan miskin…
Ongkos yang kurang karena menebus obat…
Kau pun mulai melihat hubungannya, kan?

Analisisku pada akhirnya mengantarkanku ke bibir jurang penyesalan. Atas perasaan tidak sabar. Atas sikap yang tidak ramah. Atas bantuan yang tidak disertai keikhlasan. Kutatap sang ibu iba.
Angkot sampai di daerah Gardu. Sang ibu bilang, “Kiri, Bang. Gardu.”

Ia membayar ongkos (tiga ribu rupiah), lalu turun perlahan. Setelah kakinya menginjak tanah, ia pun mulai berjalan.

Pelan. Dan… terpincang-pincang!

Ya Tuhan! Kini aku sudah bukan lagi berada di bibir jurang, tapi telah dengan sukses terhempas masuk ke dalam jurang itu. Dalam.

Pemandangan itu… hanya sekilas karena angkot segera melanjutkan perjalanan, tapi, mampu membuatku membeku selama beberapa detik. Speechless.


Pun tentang kisah Salman dan Abu Darda’ itu, saudara, teman entah siapa kau kan kusebut,
Ah, kau lebih paham itu.. sungguh..
Pun bahwa aku percaya bahwa “Jika ini adalah perintah Allah… maka sungguh ia tidak akan menyia-nyiakan kami!”


Tapi dalam nyataku ia entah kemana, entah kemana.



Oleh:
Fina Febriani dan Jayaning Hartami dipadu-padan Muhammad Akhyar

¡Compártelo!

0 komentar:

Posting Komentar

Selamat datang di Keluarga Hanif!
terimakasih yaa sudah berkunjung.. :)

Search

 

Followers

Rumah Bahagia ^__^ Copyright © 2011 | Tema diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger