#3.6

"Langit, nih rincian anggaran dana OSIS buat LPJ tengah tahun, " Rei menyerahkan sebundel dokumen ke depan seorang lelaki yang tengah serius dengan komputernya.

Langit menengadah, "Eh, ada calon istri! Makasih ya... Gitu dong, istri kan kerjanya harus cepet," ujarnya dengan mata jenaka.

Kawan-kawan seruangan OSIS tertawa bersamaan.

"Grrrr.. Calon istri-calon istri, apa-apaan ih! Ga usah ngaku-ngaku deh!" Rei memandang dongkol lelaki dihadapannya yang masih cengangas-cengenges. Oh-ya-ampun, permainan "calon istri-calon suami" itu sungguh menyebalkan baginya. Lagian, buat apa sih Langit meledeknya di ruangan OSIS? Belum cukup sindiran kakak-kakak rohis kemarin siang? Belum cukup ledekan adik-adik mentor untuk mereka berdua? Hah? Hah?!

Mengkal, Rei berjalan keluar. Di belakangnya masih terdengar tawa-tawa geli tak beraturan milik teman-teman OSISnya.

"Rei! Hoi, Rei! Tunggu dulu!" 

Rei berhenti, membalik badannya dengan malas, "Apalagi, Langit? Lo itu ya, nyebelin banget sih?!"

"Aku cuma mau tanya masalah kemarin..," Langit membuka percakapan.

"Masalah yang mana lagi, sih?" tanya Rei kesal. Ujung matanya menangkap beberapa teman yang melintas, sedang memperhatikan mereka. "Buruan deh mau ngomong apa. Ga enak dilihat sama yang lain."

"Pertanyaan saya kemarin Rei, jadi calon istri saya ya?"

"Haduh, Langit.. kita aja sekarang baru kelas 2 SMA. Kamu minta saya jadi istri 8 tahun lagi ya kan? Ya udahhhh.. nanti-nanti aja deh ditanya lagi saya nya.."

"Tapi saya serius, Rei.."

"Gw juga, Ngit.. Gw serius. 8 tahun itu masih lama. Bahkan gw sendiri ga kebayang bakal kayak apa 8 tahun ke depan. Kenapa harus sekarang sih ngelamarnya?" Rei berjengit sendiri mendengar kata "lamaran" keluar dari mulutnya.

Langit melipat kedua tangannya, "Abis gimana ya, Rei. Kamu itu udah saya masukin ke planning hidup saya. Kalo kamu ga mau, berantakan dong rencana masa depan saya."

"Itu urusan kamu! Udah ah, gw mau masuk kelas dulu," Rei berbalik lantas berlari kecil menuju kelasnya. Sayup-sayup telinganya mendengar sesuatu, kalimat sapa yang sudah dua hari belakangan ini selalu diucapkan Langit tiap mereka berpisah,

"Calon istriiiiii, hati-hati yaaa!"

Arrggghhhhhh... Langiiiiittt!!!

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Juli, 2006.

"Rei, kamu sama Langit jadian ya?"  

Rei diam, nampak pucat. Yang bertanya namanya Una, sahabat terdekat Rei. Una ini adalah salah seorang petinggi rohis. Jadi, literally, Rei tidak tahu, Una bertanya atas nama dirinya atau atas nama rohis. Tidak berani menebak, lebih tepatnya.

Rei bisa merasakan lidahnya mulai kelu, "Nggak, Unaaa.. Una denger dari siapa sih? Dari anak-anak OSIS ya? Ah, itu mah bisa-bisanya si Langit aja, Un.."

"Yahh Rei, sama aku masih mau ga jujur juga. Tiap pagi Langit dateng ke kelas kamu, kan? Kalo kayak gitu, siapa juga yang ga bisa lihat?" Una nyengir, diam-diam Rei lega karena nampaknya Una bertanya atas nama dirinya sendiri.

Ah-ya, sudah dua bulan ini Langit memang rutin datang ke kelasnya tiap pagi. Sengaja memutar, padahal jelas-jelas rute kelas Langit dan Rei berlawanan arah. Tiap pagi itu juga, Rei mulai terbiasa dengan senyum dan suara khas yang mengatakan, "Selamat pagi, calon istri!"

Rei menggeleng, "Nggak Una, aku udah cerita kan becandaan Langit soal delapan tahun-delapan tahunan itu? Ngaco emang tuh si Langit.."

Una tersenyum, tangannya sibuk merapihkan buku-buku ke rak perpustakaan masjid, "Ngaco memang ya si Langit, Rei, Tapi kamunya suka?"

Mendadak, Rei merasa lidahnya berkali-kali lipat lebih kelu.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

(masih) Juli 2006.

Ada yang aneh hari ini.

Rei berulang kali memeriksa isi tas-nya. Apakah buku? Atau PR yang belum dikerjakan? Atau ada ujian yang ia lupakan? Ia cek sekali lagi, tidak. tidak ada yang tertinggal. Lalu Rei mencoba ingat rutinitas paginya. Tidak, tidak ada shalat shubuh yang kesiangan. Bahkan dhuha sudah ia lakukan sesampainya di sekolah tadi. Dzikir pagi pun sudah diselesaikan. Lalu apa? Apa yang salah hari ini?

Rei memandang sekeliling kelasnya, mencoba mencari-cari lagi perihal yang membuat hatinya begitu tak tenang pagi ini. Siapa tau ada tugas-ketua-kelasnya yang belum diselesaikan. Buku absensi? Lapor piket? seingat Rei sudah semua. Udah kok, udah beres semua.., Rei membatin menenangkan dirinya.

Melirik jam di dinding depan kelas, Rei makin tak tenang. Lima menit sebelum bel masuk, dan Rei belum menemukan apa yang membuat hatinya terganjal pagi ini. Apa? Siapa?

Teeeeet! Teeeeeet! 
Resmi bel masuk berbunyi, kelas langsung dipenuhi dengan murid.
Hati Rei mencelos, ia menemukan apa yang aneh di hari ini.

Langit. Langit tidak datang ke kelasnya pagi ini.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------


 


¡Compártelo!

0 komentar:

Posting Komentar

Selamat datang di Keluarga Hanif!
terimakasih yaa sudah berkunjung.. :)

Search

 

Followers

Rumah Bahagia ^__^ Copyright © 2011 | Tema diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger