Menjadi Ibu

Bismillaah..


Yap, akhirnya saya bisa posting lagi ('Aqilla lagi bobok, jangan berisik yaa.. hihi..)

Satu bulan enam hari ini sungguh menakjubkan! Serius deh, jadi Ibu itu bukan untuk dibicarakan, tapi dirasakan. Dan bagaimana rasanya? LUAR BIASA! yap, sungguh-sungguh luar biasa.

Sejak menjadi Ibu, baru kali ini saya merasakan betapa saya mencintai seseorang melebihi diri saya sendiri. secara dalam, utuh, dan menyeluruh. Ya, rasa melindungi. memberi tiada henti. Rasa yang membuat saya was-was sepanjang masa untuk sekedar melongok 'Aqilla 5 menit sekali: memastikan ia nyaman dengan posisinya, sudah cukup kenyang meminum ASI, atau berada dalam keadaan popok yang kering.

Allah... saya benar-benar bahagia menjadi Ibu. :')

Bagaimana dengan baby blues? haha. jangan ditanya, itu sih manusiawi. Di tiga pekan pertama pasca 'Aqilla pulang ke rumah dan mulai bersama saya sepanjang hari di kamar, keluar lah lelah lelah dan terkuraslah tenaga itu. Mengganti popok. Menyusui. Terbangun tengah malam. Tangisan yang, maaf Nak, tidak saya pahami maksudnya apa.
Belum lagi berbagai tugas yang harus saya kejar karena sudah mendekati masuk kuliah.
Oh oh, saya lupa menyebutkan cucian baju yang menumpuk, rumah yang tak lagi terlihat rapi, kamar mandi yang belum disikat, dan dan dan lainnya..

baby blues? tentu. he he he.
Alhamdulillaah,saya punya suami yang begitu suportif. bahkan sejak awal kami masih di rumah sakit dan belum bisa menggendong sempurna si kecil (karena tangan yang masih diinfus, ba'da pendarahan). Aay terlebih dulu belajar menggendong, bahkan membedong 'Aqilla. Saat ASI saya belum keluar dan si kecil meraung-raung? Ia yang menyanyikan lagu hingga 'Aqilla tertidur.

Belum lagi Ibu dan Tante saya yang turut stay di rumah untuk pekan pertama. Membantu saya menggendong 'Aqilla saat menangis tengah malam. juga membantu menjemurnya di pagi hari.


Huah, beneran deh, social support tuh dibutuhin banget buat ibu-ibu pasca melahirkan. saya cukup ter-coping dengan kebaikan kebaikan mereka. Alhamdulillaah.. makasih ya semuanya..


Sekarang 'Aqilla sudah satu bulan lebih enam hari.
Saya masih punya jadwal kelas senin sampai kamis yang harus dihadiri,
juga badai UTS dan -nanti- UAS yang menerjang-nerjang di akhir tahun ini,
tugas pribadi maupun kelompok,
Dan (ah, hard to say this) proposal penelitian sosial yang sudah ibarat "anak kedua" saya yang mengaduk-aduk kognisi, afeksi, dan psikomotor (bikin gue keliling perpus, soalnya. hehehe).


Tapi Allah,
saya paham bahwa ini adalah pilihan.
Menikah muda dalam kondisi masih sama-sama kuliah, lalu punya anak dengan putusan tidak akan cuti.
Ya, ini adalah konsekuensi kami  saya.

Saya akui saya lelah. ketika malam terjaga, lalu paginya sudah harus membuka mata. menyusui, mandi secepat kilat, menggendong 'Aqilla sebentar, lalu segera berangkat ke kampus.
dan pulangnya, saya harus bertemu dengan ritme serupa: mengganti baju atau mandi (kadang bahkan ga sempet, hehe), menyusui 'Aqilla (Yeah.. she wakes up everytime I go home, now..), menidurkannya, lantas curi-curi waktu untuk mengerjakan tugas atau belajar (haha, yang terakhir mah bo'ong).


dan ini yang bikin saya rada "kehilangan": saya ga bisa lagi nulis blog kapan pun saya mauuuu.. huaaaa..
Ya, saya kehilangan banget sama me-time untuk urusan blog menge-blog ini. saya cinta menulis. dan saya suka katarsis melaluinya.


Tapi sekali lagi, ini konsekuensi. Seperti kalimat yang sering diucapkan Aay; bahwa tiap pilihan mengandung konsekuensi-konsekuensi. Dan tanggung jawab kita lah sebagai pengambil keputusan untuk menjalankan konsekuensi itu sebaik-baiknya. sehormat-hormatnya.

Ya, seperti Aay berkonsekuensi dengan cuti kuliah selama setahun, ini lah konsekuensi saya: kuliah, mengurus suami, dan anak.


Ya... saya cuma paham bahwa Allah tahu saya mampu. saya mampu. saya mampu.


but overall, semuanya jadi terasa menyenangkan loh makin kesini.. :)
pulang ke rumah disambut dengan tangisan 'Aqilla yang tiba-tiba terbangun padahal sebelumnya lagi pulas tidur.
tangisan tidak beraturan, memang. tapi entah kenapa, terdengar seperti: Bunda, Bunda, aku kangen! Sini peluk aku! di telinga saya. Membuat lelah lelah kuliah itu hilang dan tangan jadi ga sabar untuk segera meraihnya ke pelukan.


Ah, 'Aqilla. tiap gerakannya membawa bahagia tersendiri dalam hidup saya.
senyumnya, nyengirnya, tangisnya, bau susu-nya, ocehan-ocehannya, dan -nya -nya -nya lain yang ga terhitung banyaknya untuk diobservasi.

I do. I do. I do. I do love my baby....

Dan semuanya terbayar. impas. impas sudah. Letih dan capeknya ada, tetep berasa. tapi persepsi terhadapnya yang berubah menjadi begitu menyenangkan. saya cinta detik demi detik yang saya habiskan hanya dengan berbaring di sisinya yang sedang lelap. mendengar naik turun napasnya. juga mencium aroma tubuhnya yang wangi.

'Aqilla, Bunda mencintaimu selayak Bunda mencintai syurga, Nak..

Belakangan, ketika saya iseng membaca sebuah buku siang kemarin sembari menunggu 'Aqilla terbangun.
saya menemukan kalimat yang sungguh-sungguh merefleksikan perasaan saya pada 'Aqilla. utuh.

"Tahukah, Nak? Ketika seseorang menjadi Ibu, maka dia telah membagi-bagi sebagian jiwanya pada bayi-bayi mungil yang terlahir.. Bahagia atau sedihnya banyak tergantung padamu. Sebab jiwa seorang Ibu tak pernah utuh lagi sejak seorang makhluk kecil hadir dalam hidup mereka.."

Ah, mata saya basah sore itu. hati saya gerimis.. Allah.. ini sungguh bentuk cinta yang menakjubkan..

Lagi, saya lanjutkan membaca kalimat selanjutnya yang ditulis oleh Asma Nadia, begitu nama penulis buku Catatan Hati Bunda yang tengah saya nikmati sore lalu:

"Jangan salah, mereka berikan setengah nyawa bukan karena terpaksa., melainkan karena tak tahu lagi apa yang bisa diberikan untuk anugerah sebesar itu.."

Ya,
menjadi Ibu memang berarti harus bangun sedikit lebih awal dari biasanya.
tidur sedikit lebih larut dari yang dimau.
menikmati istirahat sedikit lebih cepat.

menjadi Ibu memang berarti harus mandi sedikit lebih cepat sebelum anak terbangun minta susu.
juga berarti sedikit lebih lihai dalam menata ulang agenda-agenda kehidupan. 
sedikit lebih cepat dalam melangkah pulang ke rumah.
sedikit lebih lapang saat harus bersendirian membuka mata di malam buta.

tapi sekali lagi, ini benar cinta yang menggetarkan..

jika dengan suami saja, saya terkadang pamrih dalam berbuat: memberi perhatian dengan harapan diberi perhatian serupa. Untuk 'Aqilla? hukum itu tak berlaku.

Sungguh tak pernah terlintas harapan akan imbalan atas semua kasih-sayang-cinta yang meluap-luap ini.
saya hanya ingin memberi-memberi-dan memberi. tanpa jeda. tanpa henti.




Ah, 'Aqilla, Bunda mencintaimu selayak Bunda mencintai syurga, Nak..

Allah, terimakasih. sungguh terimakasih atas anugerah tak berujung ini.
Dan kumohon, kumohon,
izinkan setiap wanita di muka bumi ini merasai ni'mat menjadi Ibu..
 







Depok,
31 Oktober 2010
di saat saya tersungkur dalam shalat menyadari bahwa hidup saya begitu dekaaaat dengan keni'matan;
sedang diri saya sungguh jauuuuuhhh dengan rasa syukur.

¡Compártelo!

3 komentar:

dea alias dey

Subhanallah.. :)
indah yo Jay? rasa letih terbayar pas lihat 'Aqilla yang susah ngetiknya itu..hihihihi. ;p

mantap, mantap..

kisahilmanda

subhanallah...

(speechless...)
*jadi ingat mama di kampung...
**makin menanti saat menjadi bunda...(sambil ngelus-ngelus dedek di dalam perut)
:)

Tam, terus nulis yak...

suka tulisanmu ^^

tiwi

Ujay, tulisannya two tHumbs...
hadoh jd kpgn cpt" jd Bunda...
n' jd kngen BUNDA tiwi jg..
psti ujay lupa iya sma aku..
hihi..
:)
congratz iya ujay dah pnya si kecil Aqilla...

Posting Komentar

Selamat datang di Keluarga Hanif!
terimakasih yaa sudah berkunjung.. :)

Search

 

Followers

Rumah Bahagia ^__^ Copyright © 2011 | Tema diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger