#3.9

Ini gila, Rei mengumpat dalam hati. Ada kebahagiaan yang sudah menggantung di pelupuk matanya. Tinggal sejengkal, jika saja Rei mau menggapainya.

Tapi tidak, dan ini sungguh gila.  Rei berkelindan dengan dirinya, saat memutuskan menangguh prosesnya dengan Langit.

"Saya belum yakin, Langit. Saya minta semua ini di-pending dulu," sepatah kalimat itu ia kirimkan pada lelaki yang selama ini menumbuhkan yakin dalam hatinya. dalam hidupnya.

Yakin? Ah Rei, konstruk itu kini mengabur dalam kepalanya, menguap entah-kemana. Padahal Langitnya masih yang dulu. Langit yang penyayang. Langit yang bertanggungjawab. Langit yang pemberani. Langit yang berani melamarnya di tahun terakhir kuliah.

Tidak ada hal yang berubah dalam keyakinannya, padahal. Penuhnya masih seperti dulu. Tak ada surut sedikitpun bahwa lelaki ini yang akan jadi seseorang dalam dunia-akhiratnya. Hanya saja ada yang mengganjal di sudut tergelap hatinya. Bukan, bukan keraguan pada sosok Langit.

Tentang Tangguh? Ah-ya, Rei merasa bodoh sendiri saat menemu bahwa Tangguh-lah yang jadi ganjalan itu. Bodoh, sebab yang terjadi antara mereka, jauh lebih absurd dibanding hubungannya dengan Langit. Bodoh, sebab tanya Rei tak pernah menemu jawab. Semua akan sederhana jika saja Rei adalah seorang laki-laki, norma sosial lebih membuka ruang untuk bertanya, untuk meminta. Tapi perempuan? Rei cuma bisa menunggu berhari-hari, berbulan-bulan. Mencoba menerka apa yang lebih dari interaksi mereka. Belum lagi ucapan sana-sini yang mengafirmasi perasaannya, "Tangguh suka sama lo lagi, Rei, masa' lo ga tau sih?" Getir, semua orang nampaknya tahu pasti perasaan Tangguh kepadanya. Semua orang, kecuali dirinya.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

1 Juni 2009.

Ada yang harus selesai di hari ini. Sudah dua pekan sejak lamaran Langit ia indahkan. Tentu, tak bisa berlama-lama, bagaimanapun Langit punya hak untuk bahagia. Punya hak untuk mendapat jawaban pasti darinya.

2 Juni 2009.

Ada yang harus selesai di hari ini. Rei belum juga memberi jawaban. Langit masih menunggu.
Ada istikharah yang berkali-kali dilakukan. Allah.., Rei butuh ketenangan...

3 Juni 2009.

Pagi yang campur aduk. Untuk ketiga kalinya, siluet itu muncul dalam mimpinya. Tangguh.
Dan Rei masih belum (berani) menemukan jawab atas tanyanya.

4 Juni 2009.

Rei merutuki dirinya berhari-hari, kenapa begitu sulit untuk sekedar bertanya tentang kepastian? Padahal jelas ia dan Tangguh berbagi cerita setiap hari. Menyelipkan tanya di sela canda, apa susahnya?

5 Juni 2009.

Kita seperti dua garis rel,
bersama tapi tidak pernah bertemu
(Sitok S.)

Rei sudah sampai di titik akhirnya. Satu pesan terkirim,

"Asslm. Ka, menurut Kakak format undangan yang bagus itu seperti apa?"

terkirim: Kak Tangguh

Berbalas,

"Wal.wr.wb. Wahhhh, gw seneng nih kalo adik gw udah mulai ngomongin undangan."

Rei tercekat, tidakkah Tangguh membaca sms darinya berbunyi implisit,
"Ka, kalo gw nikah, perasaan lo gimana?"

Rei meneruskan pencariannya,

"Loh, kok seneng, Ka?"

terkirim: Kak Tangguh

Tak lama masuk,

"Iyalah.. masa' gw gak seneng. Kalo lo udah ngomongin undangan, berarti rencana nikah lo udah serius kan sama si Langit. Gimana gw gak seneng."

Tes... ada satu titik air yang turun. Rei mempercepat jalannya menuju halte, tempat ia biasa menunggu bus pulang kuliah. Tak ada satu intensi pun untuk membalas, Rei kira ia sudah sampai pada jawaban sampai tetiba,

Drrrrtttt.. Drrrrt....

Hpnya bergetar berkali-kali, nama "Kak Tangguh" muncul disana.

"Assalamu'alaykum, halo Kak?"

"Wa'alaykumussalam. Rei, tunggu dulu Rei!"

ada harap yang muncul, "Tunggu? tunggu apa, Kak?"

"Kamu lagi jalan kan,? berhenti dulu!. berhenti!"

"Ha? emang Kakak dimana?"

"Aku dibelakang kamu, Rei. Tadi ngelewatin Barel kan? Tunggu dulu! Tunggu!"

Rei mendadak berhenti. Ada yang tumbuh di hatinya: harapan. Mungkin pesan tadi bukanlah jawaban. Mungkin disini ia akan mendapat jawaban.

Satu sosok berlari menghampirinya, terengah-engah. "Ya ampun, Rei. Tadi aku lari-lari ngejar kamu dari Barel. Takut kamu keburu naik bus." 

"Masyaallah, Kakak.. Maafin doong.. Abisan saya gak tahu kalo Kakak manggil. Lagian hape dari tadi di dalem tas, jadi gak gitu kedengeran," ujar Rei tersenyum.

Tangguh mengatur napas, "Iya Rei, aku mau kasih tahu sesuatu."

Perut Rei serasa dipenuhi jutaan kupu-kupu, hampir seluruh dirinya berharap Tangguh akan memberi pernyataan yang selama ini ditunggunya. Pertanyaan yang akan mengafirmasi seluruh perasaannya.

"Ada apa, Kak memangnya?"

"Itu.. Tadi ada temen aku di Barel. Dia bawa banyak contoh format undangnya. Rei bisa lihat sekarang, kalau kamu mau."

Mata Rei perih seketika, sensasi jutaan kupu-kupu hilang entah-kemana.
"Oh, nggak Kak. Gak usah. Nanti saya cari aja percetakan undangan dekat rumah,"

Rei diam.
Tangguh diam.

"Maaf Kak, bus nya udah dateng. Saya duluan ya, Assalamu'alaykum..," bersicepat Rei menghentikan bus, lalu menaikinya. Terburu-buru.

Bus bergerak pergi.
Tangguh (masih) diam.


"Assalamu'alaykum," sapa suara di seberang sana.

Rei menyamankan duduknya, "Wa'alaykumussalam."

"Dimana?"

"Di dalam bus. Baru aja naik, ini mau jalan pulang."

"Hati-hati ya, Rei."

Rei tersenyum menengahi air matanya yang masih turun.

"Engg.. Langit?"

"Ya, Rei, kenapa?"

"Pekan depan bisa atur waktu untuk ketemu Ayah Ibu?"

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------





  






#3.63

And I will take, you in my arms
And hold you right where you belong
'Till the day my life is through, this I promise you
This I promise you..

Celah Langit

Langit tidak pernah benar-benar tahu, kenapa ia begitu mencintai gadis ini. Melihatnya selalu membuatnya gila. Berinteraksi adalah candu. Langit cuma tahu indranya hilang sekejap tiap gadis ini bersamanya. Penglihatannya kabur, pendengarannya melemah. Semua hal di sekitarnya memuai, dan tiba-tiba hanya ada gadis ini di dunia. Tidak kurang, tidak lebih.

Seperti gaya gravitasi yang menarik semua benda untuk berpijak ke bumi. Gadis ini adalah pusatnya. Buat ia, Langit akan berubah seperti apa yang dibutuhkan. Menjadi pelindung, menjadi kakak, menjadi teman, menjadi sahabat. Bersamanya, Langit merasa bisa rapi menata hidupnya. Menyusun rencana masa depannya. Vice versa, ketika hilang harapan tentangnya, Langit sesak seakan ada fase malam yang tak kunjung selesai. Seakan mataharinya esok terbit dari barat. Sungguh perasaan yang menyiksa.

Kenapa Rei? Langit tak pernah benar-benar tahu. Berinteraksi saja jarang. Rei dan Langit berada di lingkungan sosial yang berbeda. Rei yang ekstrovert, dunianya berputar ke seluruh penjuru. Siapa yang tidak kenal Rei? Rei yang juara kelas, Rei yang menang lomba debat, Rei yang ketua teater, Rei yang banyak senyum, Rei yang disayangi banyak orang. Langit yang introvert, lebih banyak berdiam di zona nyamannya. Walau tetap, siapa yang tidak kenal Langit? Langit yang ketua kelas, Langit yang calon ketua OSIS, Langit yang berani memprotes kepala sekolah.

Ia dan gadis itu bahkan tidak pernah berinteraksi kecuali saat belajar di kelas.

Tapi seperti itulah kerja misterius bernama takdir.
Langit cuma tahu pijakannya tiba-tiba runtuh di hari pertama gadis itu memakai jilbab. Rei yang selama ini tak masuk dalam dunianya, mendadak menjadi hujan. menjadi mentari. menjadi pelangi.

"Kamu tuh ngaco, Langit.. Masa nentuin calon istri cuma dalam 3 hari!" begitu Rei kerap memarahinya, tiap Langit menanyai urusan delapan-tahun-lagi itu.

Langit cuma bisa tertawa. Mau berargumen apa? Ia juga tidak tahu iblis mana yang membisiki hatinya untuk 'melamar' gadis itu di hari ketiganya memakai jilbab. Langit cuma tahu, ada satu wajah yang kerap muncul di pelupuk matanya. Ada satu nada suara yang menjadi akrab bagi telinganya. Ada satu rasa takut kehilangan yang bertambah tiap kali melihatnya.

Gadis itu. Rei, namanya.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 




 

#3.62

Sudah 5 bulan sebelum hari SPMB tiba.
4 bulan sebelum Ujian Nasional dimulai.
3 bulan sebelum hari-hari dipenuhi dengan berbagai tryout dan simulasi tes.
2 bulan. Sudah 2 bulan setelah terakhir kali Rei berbincang langsung dengan Langit.

Februari akhir 2007.

Siang itu amat terik. Bel istirahat yang berbunyi bahkan tidak mampu memancarkan kebahagiaan di wajah para murid, terlebih murid-murid kelas XII. Ya, bagaimana bisa bahagia kalau tiap hari mereka dibekali PR bertumpuk? Belum lagi penambahan materi tiap pulang sekolah, juga bimbingan belajar bagi sebagian mereka yang mampu.

Rei memasuki ruang OSIS.

"Kak Rei, disini!" panggil salah seorang adik kelas, di sebelahnya berjajar BPH inti OSIS yang baru.

Rei tersenyum, duduk mendekat. "Oke, langsung aja ya? Ini berkas keuangan OSIS tahun saya. Semua udah lengkap, insyaallah gak ada yang salah hitung. Pokoknya tinggal ikutin aja alurnya ya." ia mendorong sebuku besar ke tengah meja.

"Iya Kak, makasih ya.." Mereka kemudian berbincang sebentar sampai akhirnya Rei pamit pergi. Baru saja Rei berbalik menuju pintu, telinganya menangkap satu suara yang familiar.

"Dit, gw cariin dari tadi juga. Buruan, syuro' rohis di mushola ikhwan. Udah ditungguin tuh," Langit masuk ke dalam, mendekati orang yang bernama Adit itu.

Adit menanggapi, "Oh iya, afwan Ngit. Tadi ane ngetik surat perizinan dulu, biar dikasih sekalian pas syuro." kemudian ia keluar mendahului Langit. 

Rei masih diam. Kakinya terasa berat sedari tadi. Seperti ada paku yang dipasang erat di sekujur alas kakinya. Ia tahu, harusnya ia keluar ruang OSIS dari tadi. Harusnya ia keluar saja sejak awal Langit masuk ke dalam. Harusnya ia tidak perlu berdiam menunggu Langit menyelesaikan urusannya. Harusnya ia menunduk, tak perlu menatap Langit yang sekarang berdiri di hadapannya. Harusnya matanya tidak terasa perih sekarang. Harusnya... Harusnya...

Langit masih diam, saat Rei bergegas pergi melewatinya.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Rei, Rei kenapa?" tanya Una lembut ketika tiba-tiba sahabatnya ini menghampirinya dengan mata kaca.

Rei masih terisak, mendekap Una lebih kuat, "Aku gak kuat, Una.. Aku gak kuat.. Padahal tadi kami cuma papasan nggak sengaja.. Tapi aku nggak kuat.."

Una menghela napas, "Langit ya?"

Rei mengangguk. Diam-diam ia membenci dirinya, sudah dua bulan sejak nama itu tidak lagi disebut dalam hidupnya. Terlebih dengan Una. Rei malu, urusan hatinya belum selesai juga.

"Rei.. nangis aja ya, sampai puas," Una mencoba memberi saran. "Tapi setelah ini, semua selesai."

Rei makin terisak. Bulir-bulirnya pecah tak beraturan. Ya, semua (harusnya) sudah selesai.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

#3.61

Siang yang ramai. Lapangan dipenuhi murid-murid yang berebut ingin pulang lebih dulu. Walaupun sebagian dari mereka nampaknya senang berlama-lama di sekolah, mengikut iekskul, mengurus kepanitiaan, pengajian, ini-lah, itu-lah.

Salah satunya Rei.

"Nyariin siapa, Rei?" Una tiba-tiba muncul, mengagetkan.

Rei, matanya masih mencari-cari, "Nggak, Un.. Gak nyari siapa-siapa kok.."

"Lah itu mata kamu kemana-mana dari tadi. Emang aku gak perhatiin?"

"Engg... itu Un.. cari..."

"Hahahaha.. Gw tau! Lo nyari Langit, ya Rei?" tetiba Una terbahak disebelahnya.

Rei memicing, "Nggaaaakk!! Gw gak nyariin dia, Unaa!!"

"Lah jadi nyariin siapa?"

"Ihhh, Una..," Rei memelankan suaranya, "Gw kan cuma penasaran, kenapa dia gak ke kelas gw pagi ini.."

"Hhahaha.. Reiiii.. Kamu udah mulai nyariin Langit ya sekarang. Huahahahaha," Una tidak bisa menahan tawanya.

Wajah Rei memerah, diam-diam bertanya pada hatinya, "Iya ya.. Ngapain juga pake nyariin Langit segala.."

Rei tidak sadar, beberapa meter dari mereka ada sepasang mata yang memperhatikan. Mata yang sedari tadi tersenyum melihat wajah cemasnya.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Agustus 2006.

"Ini serius ya, Rei. Aku mau masuk FKUI selepas lulus nanti. Kuliah kan 4 tahun, ditambah ambil spesialis 2 tahun. Kalo ditambah sama 2 tahun SMA kita, jadi pas 8 tahun kan..," 

Langit dan Rei, keduanya sedang berada di salah satu perhelatan besar OSIS. Acaranya di Tugu Proklamasi, sedari tadi keduanya sibuk patroli sana-sini. Menjadi pengawas karena BPH (Badan Pengurus Harian) inti. Dan seperti biasa, Langit membuntuti Rei kemana-mana.

"Ya ya ya ya, masuk aja ke FKUI, Ngit.." Rei menjawab sekedarnya sambil sibuk membuat catatan.

Langit menatap gadis itu lurus, "Rei, saya serius."

Rei menghentikan kegiatan mencatatnya, walau tetap matanya menunduk.

"Rei, kamu nggak anggep semua ini serius ya?" Nada Langit meninggi.

"Kamu kira saya main-main, minta kamu jadi istri saya 8 tahun lagi?" 

"Rei!" Langit sedikit membentak. Gadis di depannya mulai bergetar.

"Saya harus anggap kamu seserius apa, Langit?" Rei memulai jawabannya, "Kita masih SMA. Lulus PTN aja belum tentu. Bahkan lulus SMA aja belum pasti. Kamu selalu bilang 8 tahun-8 tahun, kalau memang 8 tahun lagi, kenapa harus sekarang? Kamu bahkan masih punya 7 tahun buat ketemu yang lain.."

"Nggak. Saya nggak bisa nunggu, Rei."
Langit pergi, Rei cuma tertegun mencoba mencerna semuanya.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Desember 2006.

“Aku tidak pernah keberatan menunggu siapa pun berapa lama pun selama aku mencintainya" (dalam cerpen Linguae, Linguae, Gramedia, 2007)” 


"Kuliah nanti, kamu mau ambil apa?" tanya Langit kepada Rei, saat keduanya (kebetulan) dapat jadwal piket OSIS bersamaan.

"Psikologi," jawab Rei pendek.

"UI ya, Rei?"

"Emmm.. tergantung, kamu maunya FK UI kan ya?"

"Iya."

"Kalo gitu saya mau ke UGM aja deh, ha ha ha.."

"Yahhhh.. kok UGM sih, " ada nada kecewa.

"Iya, biar jauh dari kamu! Weeee..," Rei membunyikan tawa khasnya. Langit tersenyum, sungguh gadis ini membuatnya jatuh cinta berkali-kali.

Langit dan Rei, sudah sebulan ini keduanya terjebak dalam hubungan aneh. Ada pernyataan memang, tapi Rei tidak pernah memberi jawaban. Semua menjadi absurd seiring dengan kekakuan yang mencair diantara mereka. Rei sudah jarang lagi marah, sedang Langit makin sering datang ke kelasnya. Tidak pernah jalan berdua memang, tetapi melihat kedua makhluk ini berinteraksi, siapapun bisa menebak ada sesuatu yang lebih. Meski itu tak pernah terdefinisikan.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 Januari 2007. 

"Kamu punya pikiran sama denganku?" Lelaki itu berucap patah-patah. Seolah kalimat itu bukan miliknya.

Gadis di seberang sana terisak. Pelan, "I-ya.. aku juga.. sudah lama sebenarnya, tapi.."

"Aku yang salah, harusnya nggak aku mulai semua ini..," suara Lelaki itu ikut bergetar. Entah kenapa tentang gadis ini, ia selalu rapuh.

"Kita salah.. Ya Allah, Langit.. harusnya aku ga nanggepin semua ini..," tidak tahan lagi, tangis Rei pecah.

Langit makin teriris, "Nggak Rei, aku yang salah. Kamu benar, harusnya aku nggak perlu memulai ini dari awal, harusnya..," Langit tercekat, sekelibat memori muncul di kepalanya. Saat sahabat-sahabat terbaik mengingatkan, interaksi Rei dan Langit mulai kelewat batas. Mereka adalah salah satu aset terbaik rohis. Melakukan hal buruk, berarti memberi contoh dan kelegalan yang buruk pula.

"Bisa kita selesaikan semuanya, Rei?" 

masih terisak.

"Rei? Ya-ampun, jangan nangis Rei, saya gak kuat dengernya.."

"Memang harus selesai.. Langit, semuanya harus selesai.." Rei menjawab patah-patah.

"Rei, saya minta maaf.."

"Ya..."

"Kalau begitu, kita sudahi semua..," Langit merasakan sesak naik ke dadanya. "Terimakasih, Rei.. saya minta maaf.."

Klik! Telpon terputus, meninggalkan Rei yang masih terisak.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------





#3.6

"Langit, nih rincian anggaran dana OSIS buat LPJ tengah tahun, " Rei menyerahkan sebundel dokumen ke depan seorang lelaki yang tengah serius dengan komputernya.

Langit menengadah, "Eh, ada calon istri! Makasih ya... Gitu dong, istri kan kerjanya harus cepet," ujarnya dengan mata jenaka.

Kawan-kawan seruangan OSIS tertawa bersamaan.

"Grrrr.. Calon istri-calon istri, apa-apaan ih! Ga usah ngaku-ngaku deh!" Rei memandang dongkol lelaki dihadapannya yang masih cengangas-cengenges. Oh-ya-ampun, permainan "calon istri-calon suami" itu sungguh menyebalkan baginya. Lagian, buat apa sih Langit meledeknya di ruangan OSIS? Belum cukup sindiran kakak-kakak rohis kemarin siang? Belum cukup ledekan adik-adik mentor untuk mereka berdua? Hah? Hah?!

Mengkal, Rei berjalan keluar. Di belakangnya masih terdengar tawa-tawa geli tak beraturan milik teman-teman OSISnya.

"Rei! Hoi, Rei! Tunggu dulu!" 

Rei berhenti, membalik badannya dengan malas, "Apalagi, Langit? Lo itu ya, nyebelin banget sih?!"

"Aku cuma mau tanya masalah kemarin..," Langit membuka percakapan.

"Masalah yang mana lagi, sih?" tanya Rei kesal. Ujung matanya menangkap beberapa teman yang melintas, sedang memperhatikan mereka. "Buruan deh mau ngomong apa. Ga enak dilihat sama yang lain."

"Pertanyaan saya kemarin Rei, jadi calon istri saya ya?"

"Haduh, Langit.. kita aja sekarang baru kelas 2 SMA. Kamu minta saya jadi istri 8 tahun lagi ya kan? Ya udahhhh.. nanti-nanti aja deh ditanya lagi saya nya.."

"Tapi saya serius, Rei.."

"Gw juga, Ngit.. Gw serius. 8 tahun itu masih lama. Bahkan gw sendiri ga kebayang bakal kayak apa 8 tahun ke depan. Kenapa harus sekarang sih ngelamarnya?" Rei berjengit sendiri mendengar kata "lamaran" keluar dari mulutnya.

Langit melipat kedua tangannya, "Abis gimana ya, Rei. Kamu itu udah saya masukin ke planning hidup saya. Kalo kamu ga mau, berantakan dong rencana masa depan saya."

"Itu urusan kamu! Udah ah, gw mau masuk kelas dulu," Rei berbalik lantas berlari kecil menuju kelasnya. Sayup-sayup telinganya mendengar sesuatu, kalimat sapa yang sudah dua hari belakangan ini selalu diucapkan Langit tiap mereka berpisah,

"Calon istriiiiii, hati-hati yaaa!"

Arrggghhhhhh... Langiiiiittt!!!

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Juli, 2006.

"Rei, kamu sama Langit jadian ya?"  

Rei diam, nampak pucat. Yang bertanya namanya Una, sahabat terdekat Rei. Una ini adalah salah seorang petinggi rohis. Jadi, literally, Rei tidak tahu, Una bertanya atas nama dirinya atau atas nama rohis. Tidak berani menebak, lebih tepatnya.

Rei bisa merasakan lidahnya mulai kelu, "Nggak, Unaaa.. Una denger dari siapa sih? Dari anak-anak OSIS ya? Ah, itu mah bisa-bisanya si Langit aja, Un.."

"Yahh Rei, sama aku masih mau ga jujur juga. Tiap pagi Langit dateng ke kelas kamu, kan? Kalo kayak gitu, siapa juga yang ga bisa lihat?" Una nyengir, diam-diam Rei lega karena nampaknya Una bertanya atas nama dirinya sendiri.

Ah-ya, sudah dua bulan ini Langit memang rutin datang ke kelasnya tiap pagi. Sengaja memutar, padahal jelas-jelas rute kelas Langit dan Rei berlawanan arah. Tiap pagi itu juga, Rei mulai terbiasa dengan senyum dan suara khas yang mengatakan, "Selamat pagi, calon istri!"

Rei menggeleng, "Nggak Una, aku udah cerita kan becandaan Langit soal delapan tahun-delapan tahunan itu? Ngaco emang tuh si Langit.."

Una tersenyum, tangannya sibuk merapihkan buku-buku ke rak perpustakaan masjid, "Ngaco memang ya si Langit, Rei, Tapi kamunya suka?"

Mendadak, Rei merasa lidahnya berkali-kali lipat lebih kelu.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

(masih) Juli 2006.

Ada yang aneh hari ini.

Rei berulang kali memeriksa isi tas-nya. Apakah buku? Atau PR yang belum dikerjakan? Atau ada ujian yang ia lupakan? Ia cek sekali lagi, tidak. tidak ada yang tertinggal. Lalu Rei mencoba ingat rutinitas paginya. Tidak, tidak ada shalat shubuh yang kesiangan. Bahkan dhuha sudah ia lakukan sesampainya di sekolah tadi. Dzikir pagi pun sudah diselesaikan. Lalu apa? Apa yang salah hari ini?

Rei memandang sekeliling kelasnya, mencoba mencari-cari lagi perihal yang membuat hatinya begitu tak tenang pagi ini. Siapa tau ada tugas-ketua-kelasnya yang belum diselesaikan. Buku absensi? Lapor piket? seingat Rei sudah semua. Udah kok, udah beres semua.., Rei membatin menenangkan dirinya.

Melirik jam di dinding depan kelas, Rei makin tak tenang. Lima menit sebelum bel masuk, dan Rei belum menemukan apa yang membuat hatinya terganjal pagi ini. Apa? Siapa?

Teeeeet! Teeeeeet! 
Resmi bel masuk berbunyi, kelas langsung dipenuhi dengan murid.
Hati Rei mencelos, ia menemukan apa yang aneh di hari ini.

Langit. Langit tidak datang ke kelasnya pagi ini.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------


 


Search

 

Followers

Rumah Bahagia ^__^ Copyright © 2011 | Tema diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger