Jadi ceritanya, Neng Qilla udah 2 tahun 8 bulan sekarang. Udah bisa diajak ngobrol yang dua arah (dan aslik, ngobrol sama bocah ini suka bikin ngakak sampe sakit perut), makannya tambah banyak (yang ini mah dari dulu yak, hihihi), dan yap kerasa banget kalo sekarang workload saya sebagai seorang Ibu mulai "berkurang". Berkurang dalam artian anak udah mandiri. Yah, namapun lagi masa autonomy ya, apa-apa sekarang Aqilla mah maunya ngerjain sendiri. Kalo diurus Ami-nya, malah doi yang balik marah.
Ini sebenernya postingan sepesial buat tante Puti di Spore, yang nanyain kabar bocil. Maap ya tanteee lama gak apdet blog, abisan kalo malem abis nyetrika bawaannya pegel pinggang. ehehehe.. Mudah-mudahan sedikit cerita ini bisa ngobatin kangen ;)
Suatu pagi...
*Setting situasi, anak bocah abis makan. dan seperti biasa, mukanya cemong-cemong*
Ami : "Aqilla, sini!"
Aqilla : "Apa Ami?"
Ami : "Itu di deket mulutnya ada nasi nempel. Sini Ami bersihin deh!"
Aqilla : "Haa? Apaa?" (oh iyes, ini template bocil kalo dipanggil. agak pengen bikin jitak emang :p)
Ami : "Ituuu ada nasi, sini Ami ambil. (Lalu gw pun ngambil nasi yang nempel di dagunya) Tuh, bersih kaaaan.."
Aqilla : "Aaaaaaaakkkkk Gak maaauuuuu!!"
Ami : "Heee? gak mau apaan?"
Aqilla : "Gak mau! Gak mau!"
Ami : ???
Aqilla : "Gak mau! Mau nempel aja nasinya! Sini balikin nasinya!"
Kemudian anak bocah pun ngambil nasi di tangan gw, dan nempelin lagi tuh nasi di dagunya
Aqilla : "Udah! Udah! Kayak gini aja! Nempel aja nasinya!"
Ami : *geleng-geleng kepala*
In another morning...
*Ceritanya si Eneng baru bangun tidur*
Ami : "Qillaaa.. hiii itu ada kotoran matanya tuuu.."
Aqilla : "Apa, Ami?"
Ami : "Ituuu.. matanya ada kotorannya. Sini sini (lantas gw ambil kotorannya), Nahhh.. bersih sekarang"
Aqilla : "Aaaaaaakkkkk Gak maaauuuu!! Balikin sini kotorannyaaaaaaa..
Oh yes, lalu si anak bocil ngambil kotorannya dan nempelin lagi ke sudut matanya
Aqilla : "Udah udah! Gini aja! Biar aja ada kotorannya! Udah!
Ami : *kayang di tempat*
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Terkadang, ada juga episode dimana anak bocil ngomong njeplak. Ya namapun anak kecil, kelewat jujur kadang-kadang :P
*Setting: Jadi Aqilla sering banget denger saya ngomong kayak gini ke Abi-nya pas mau naik motor: "Bi, aku duduknya nyamping aja yah.. gak pake celana daleman soalnya" Celana daleman disini means celana dobelan yak. Maap agak vulgar bahasanya, hehehe..*
Lalu, begini ceritanya..
Beberapa hari dalam seminggu, Aqilla gw bawa ke daycare di daerah tertentu. Karena ceritanya si Abhiwa lagi di Bandung, otomatis mesti pake bantuan abang ojek buat nganter ke sana.
Ami : "Qilla, sini sini kita naik ojeg."
Aqilla : "Naik ojek ke epi hos (maksudnya Happy House -nama daycarenya-) ?"
Ami : "Iyap, yuks yuks!"
kemudian datanglah si Abang ojeg. Then, gw naik dengan posisi duduk nyamping.
Ami : "Ke cluster deket Masjid *tertentu* ya, Bang!"
Aqilla : "Ami?" (suaranya rada kenceng)
Ami : "Ya, Nak?"
Aqilla : "AMI GA PAKE DALEMAN YA?"
Ami : *nyebur ke laut*
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ah ni, ada satu lagi percakapan unik antara gw dan si Neng Qilla. Jadi ceritanya hampir tiap pagi kita lewatin jalanan samping Gunadarma yang menuju ke stasiun Pocin. Nah, di sepanjang jalan itu suka ada pengemis anak-anak yang tiduran.
Aqilla : "Ami, kok Kakaknya tidulan di jalan?"
Ami : *Mikir bentar* "Engg.. itu soalnya mereka ga punya Ami sama Abi, Qil.."
Aqilla : "Ami Abi-nya kerja?"
Ami : *Mikir lagi* "Bukaaan.. Ami Abi-nya pergi ninggalin Kakaknya. Jadi, Kakaknya sendirian.."
Aqilla : *Nunjukin mimik sok-ngerti* "Oooohh.."
Ami : "Iya.. makannya Qilla bersyukur sama Allah udah dikasih Ami sama Abi.. Jadi Qilla boboknya ga di jalan.."
Aqilla : "Qilla bobonya di kamal, ya?"
Ami : 'Iyaaa.. Jadi Aqilla bersyukur, bilang 'Makasih ya Allah udah kasih Ami sama Abi.'.."
Aqilla : "Iyaaa.. sama-samaaaa..."
Ami : "Qillaaaa itu maksudnya bilang makasih ke Allah, kenapa malah dijawab 'sama-sama'" -_-"
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dan datanglah masa dimana anak mulai bertanya banyak hal. Sampe hal yang bikin Emaknya pengen kayang bolak balik karna bingung mau jawab apa. :P
Aqilla : "Ami, suara kucing gimana?"
Ami : "Miiiioooooongggg"
Aqilla : "Iiiyaaaaa.. Kalo suara Kodok?"
Ami : "Webeeeekkk Weeebeeekk"
Aqilla : "Suara bulung?"
Ami : "Cit cit cuit cit ciiiittt.."
Aqilla : "Suara ulat?"
Ami : *mikir*
Aqilla : "Suara semut?"
Ami : *berpikir keras*
Aqilla : "Kalo suara daun, Ami? Suara bunga? Suara awan? Suara pohon?"
Ami : "Enggg.."
Aqilla : "Suara batu? Suara matahali? Suara bulan? Suara kulkas? Suara jalanan?"
Ami : *pingsan*
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ah ya, saya cintaaaaaaaaaaaaa sekali punya anak perempuan! :*
Si Neng Qilla
#3.64
Jelang kelulusan, beberapa anak malah makin sering wara wiri di sekolah. Siapa lagi kalau bukan mereka yang dulu aktif jadi pejabat sekolah? Akhir tahun, selalu penuh dengan laporan pertanggungjawaban ini itu. Sudah bukan rezim mereka sih, memang. Tapi membantu adik kelas menyelesaikan amanah mereka dengan baik hingga tuntas, ga ada salahnya juga kan? Ya, hitung-hitung kumpulin pahala supaya bisa lancar lulus UN dan SPMB kelak.
"Kita bagi tugas kalo gitu ya.. Saya bakal pilih masing-masing kalian buat supervisi anak-anak OSIS ngerjain LPJnya," Dhama, Ketua OSIS zaman Rei, membuka rapat hari itu.
Semua angguk-angguk. Cuma segelintir yang serius mencatat.
"Saya bakal kordinasi langsung sama Fajar, sebagai sesama ketua OSIS. Selebihnya BPH inti, supervisi adik-adik yang pegang jabatan kalian sekarang ya."
Rei tersenyum, itu berarti dia akan pegang supervisi untuk jabatan Bendahara Umum. Ia memutar badan menghadap Anggi, wakil bendaharanya. Membuat gesture seakan berkata, "Nggi, kita kerja bareng lagi ya!"
Dhama melanjutkan, "Tapi buat jabatan BPH yang ada wakil, bakal gw pecah ya. Soalnya butuh bantuan banyak untuk komisi bawah."
Beberapa suara "yahhhhh" terdengar di sana-sini. Maklum, kabinet OSIS Dhama memang terkenal strategis dan solid. Untuk mereka yang ada di satu jabatan, chemistry nya kuat. Terkadang suka terbawa sampai OSIS berakhir.
"Jadi buat sekretaris umum dan bendahara umum, wakil kalian gw delegasi ke bawah ya." Dhama melirik Langit dan Rei, pemilik kedua jabatan. "Jadi Anggi sama Nova, tolong bantu komisi olahraga."
Mata Rei tidak sengaja beradu dengan Langit saat Dhama menunjuk mereka. Cepat-cepat, Rei menunduk. Pura-pura asyik dengan buku catatannya.
"Oh ya, karena tahun ini format LPJnya dirubah sama MPK. Jadi laporan keuangan mesti integrated sama tiap kegiatan OSIS yang diadain," ujar Dhama sembari tangannya menulisi papan tulis hitam di depan kelas.
Rei memicingkan mata, perasaannya mulai tak enak.
Selesai menulis, Dhama kembali menghadap kelas. Tangannya mengibas bekas kapur di sela jari, "Rei, tolong kerja bareng Langit ya?"
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Rapat sudah selesai sejak setengah jam yang lalu. Tapi Rei masih disana. Matanya menekuri laporan keuangan OSIS yang baru. Di sebelahnya ada beberapa adik kelas yang juga sibuk mengelompokkan beratus lembar kuitansi.
"Kak Rei, kita gak bareng sama sekum aja kerjanya?" salah seorang adik bertanya.
Rei menengok sedikit. Tidak jauh dari mereka, ada beberapa bangku yang tersusun melingkar. Langit dan beberapa adik kelas duduk disana.
"Nggak perlu bareng kok. Saya bantuin kalian di jurnal pembalik aja ya. Abis itu, kalian kordinasi langsung sama anak-anak sekum. Tinggal nyocokin tanggal acara dan kuitansi aja, kok," ujar Rei cuek. "Nih, jurnal pembalik bulan Januarinya. Kasih ke sana dulu," Rei menyerahkan secarik kertas besar.
Tidak lama pekerjaan mereka selesai. Satu persatu pamit pulang, begitu pun Rei. Harusnya sudah pulang sejak satu jam yang lalu, sesuai janjinya pada Ibu. Tapi Rei tidak enak hati kalau mesti pulang lebih dulu. Bagaimanapun, tugas yang diberikan Dhama untuk mensupervisi adalah amanah.
"Rei?"
Yang disebut namanya, berhenti memasukkan buku ke dalam tas.
"Kenapa harus lewat perantara ngasih jurnal pembaliknya? Gak bisa ya, sekedar ngasih sendiri ke saya?" Langit bertanya datar.
"Gak bisa ya, sekedar saya titip aja jurnal pembaliknya lewat orang?"
"Tapi kamu bisa kasih sendiri ke saya Rei, ya kan?" ada nada yang meninggi.
Rei menahan kesal-tangisnya, "Harus ya?"
"Saya mau kamu yang kasih langsung. Bukan orang lain."
Rei menoleh ke beberapa adik kelas yang masih ada di sekitar mereka. Ekspresi aneh-ingin-tahu yang muncul di wajah mereka. Okey, jadi setelah enam bulan gosip ini mereda, harus muncul lagi di depan adik kelas? Maksud Langit apa sih?!
"Buat saya, itu gak urgent." Rei menarik tasnya, lalu beranjak pergi keluar kelas.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Akhir Maret 2007.
Sudah kedelapan kalinya, telepon genggam Rei berbunyi. Cukup berisik, sampai harus Rei ubah ke profil silent agar seisi rumah tidak bertanya. Jangankan diangkat, ditengok saja Rei enggan. Nomor tak bernama itu sering sekali muncul di hpnya akhir-akhir ini. Tidak bernama memang, tapi memori Rei mencatat rapi siapa nama pemiliknya. Langit. Ya, hari H LPJ OSIS memang makin dekat. Kordinasi mereka seharusnya makin rapat. Tapi berkali Rei berkelit untuk melakukan kontak yang hanya melibatkan mereka berdua. Tidak, Rei tidak percaya hatinya sudah sekuat itu.
Panggilan kesembilan, akhirnya Rei angkat juga.
"Assalamu'alaykum."
"Wa'alaykumussalam. Kenapa baru diangkat sih?"
"Kenapa harus telpon sih?"
"Saya mau ngomongin LPJ, Rei."
"Besok juga rapat, Langit. Ga perlu telpon juga bisa," Rei menjaga agar nada suaranya tetap normal.
"Ini harus diomongin sebelum rapat. Ada kesalahan kuitansi di bulan Juni. Tolong kamu cek lagi di jurnal. Jangan sampe laporan kita salah besok."
"Oh, ya udah. Nanti saya cek."
"........."
"Halo, Langit? Udah kan ya? Saya tutup telponnya kalo gitu ya."
Lama tak terdengar jawab. Rei berusaha keras menjaga hatinya tetap netral.
"Langit? Udah ya, saya tutup dul..."
"Rei?" akhirnya ada sahutan.
"Ya?"
"Kamu, apa kabar?"
Rei tercekat, situasi seperti ini yang ia hindari. Tidakkah Langit tahu, Rei sudah terbiasa tidak mengkhawatirkan kabarnya? mempertanyakan keadaanya?
"Saya baik, Langit. Dan akan lebih baik kalau tidak kamu telpon lagi."
Kecewa disana, "Kamu benci saya sebegitunya ya, Rei?"
"Langit, gak usah diterusin.."
"Saya cuma ingin tahu kabar kamu," Langit menjeda. "Saya.. rin-du.."
"Langit, kamu gak tahu ya susah payahnya saya melupakan kamu enam bulan ini?" isak Rei mulai tak tertahan. "Saya belajar lupa sama kamu. Belajar menghapus nomor kamu di hp saya. Saya belajar untuk tidak menanyakan kabar kamu. Saya bahkan sampai di titik lupa dengan janji delapan tahun itu. Langit, saya belajar. Dan saat saya sudah ada di keadaan ini, kamu tega menghancurkan semuanya lagi?"
"Kamu gak ingin saya hubungi lagi?" Langit bertanya, ragu.
"Saya bahkan ga ingin kamu muncul lagi, Langit."
"Kamu ingin saya pergi?"
Rei bisa merasakan pipinya mulai basah.
"Tolong bantu saya, Langit. Bantu dengan pergi dari hidup saya."
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tentang Kamu
Ya, ini tentang kamu. Kamu yang sedari dulu, gak pernah berubah. Bahkan sampai sekarang pun tidak.
Ini tentang kamu. Yang tidak pernah ku mengerti jalan pikirannya. Setidak mengerti aku saat beberapa tahun lalu, langkahmu mendekat lalu bertanya, "Jadi calon istri saya, ya?" Lihat, bahkan tanya mu pun bukan bentuk tanya. Ah ya, aku memang tidak pernah bisa mengerti utuh apa yang ada di kepalamu.
Tapi ini tentang kamu. Ya, kamu yang sedari dulu paham betul di mana rapuhku. Dimana titik lemahku. Mungkin disini yang salah, saat luka-luka itu kubagi denganmu. Lalu, -alih alih- aku yang sedih, malah empati kamu yang kelewat dalam. Mungkinkah itu alasanmu ketika itu, "Aku ingin jaga kamu dari semua kesakitan itu." Dan tahukah? Kamu gak ingkar janji. Kamu benar-benar menjagaku sampai detik ini.
Tentang kamu. Dan kesabaranmu. Bukankah aku yang lebih sering pergi? Juga yang paling sering berlari? Bahkan tak jarang menolak untuk menoleh ke belakang barang sesaat. Padahal aku tahu persis kamu jatuh. Kaki mu berdarah. Jalan mu terseok. Nggak, aku menolak lihat. menolak ingat. Bahkan seringnya marah ketika dengan semua luka berdebu itu, kamu tetap sampai mengejarku.
Hey kamu, yang namanya tercetak tebal di memori terdalam yang berkali ku kikis sedemikian rupa. Kamu yang gak pernah pergi dan tetap disini. Kamu yang gak bergerak sama sekali. Sudah berapa kali kamu ku angkat untuk kemudian ku jatuhkan kembali? Siklus yang ku kira cukup menyakitkan untuk membuatmu pergi. Tapi tidak, aku selalu gagal. Karena kamu tetap disana, dengan senyum-cengiran yang sama. Tahukah? belum ada yang mampu saingi sabarmu hingga kini.
Kamu, yang sedia merentang tangan seluasnya. "Go get it, Dek..," Bahkan dengan keadaan kamu tahu pasti, mungkin aku gak akan kembali. Tapi yakin mu selalu penuh. Membuatku tenang berlari kemana angin membawa. Untuk kemudian merasakan sengatnya panas mentari dan gigilnya hujan badai. Lalu pulang, dan kamu sedia di sana dengan selimut dan pelukan hangat. Di situ aku tahu pasti, "Kamu akan jadi seseorang untuk dunia-akhirat ku."
Untuk kamu yang menunggu entah berapa tahun. Dan implisitmu sering berkata, "I have died everyday, waiting for you.." Gak jera ya? Walaupun sering ku remehkan caramu memilihku. Gak ada kriteria. Gak ada prasyarat. Keyakinan, begitu katamu ya? Maka terimakasih, Cinta.. karena yakinmu yang membawaku pada keadaan maha membahagiakan saat ini.
Lalu kamu yang sering sekali ku uji coba batas kesabarannya. Berulang. Berulang. Berulang, hingga kini belum ada satupun kalimatmu yang ku kategorikan sebagai amarah. Tahu apa kesimpulan yang ku dapat? Sabarmu memang tak terbatas.
Kamu, lelaki yang ku terima dengan ridha sebagai imam, pemimpin, motivator, sekaligus navigator dunia akhirat-ku. Kamu, lelaki yang ku percaya untuk menjadi Ayah dari anak-anak ku. Kamu, lelaki yang ku sebut namanya dalam doa pagi-malam ku.
Kamu, Lelaki yang tak pernah ingkar janji. Sepenggal bait yang kau kirim dulu, masih ingat?
I give you my world
I give you my heart
This is the battle we won
Till the day my life is through,
this I promise you..
Ah, Lelaki langit.. kamu gak pernah ingkar janji.. Ini memang pertempuran yang telah dan akan kita menangkan bersama. Untuk semua perjalanan ini: mentari, hujan, dan pelangi. Apa yang lebih indah selain tahu bahwa kamu selalu ada di sana? Menepuk bahuku untuk kemudian berkata, "Sudah cukup, Sayang.." dan memang hanya kamu yang bisa. Cuma kamu.
Lelaki Langit.. aku cinta kamu, sudahkah ku mengatakannya?
#3.9
Ini gila, Rei mengumpat dalam hati. Ada kebahagiaan yang sudah menggantung di pelupuk matanya. Tinggal sejengkal, jika saja Rei mau menggapainya.
Tapi tidak, dan ini sungguh gila. Rei berkelindan dengan dirinya, saat memutuskan menangguh prosesnya dengan Langit.
"Saya belum yakin, Langit. Saya minta semua ini di-pending dulu," sepatah kalimat itu ia kirimkan pada lelaki yang selama ini menumbuhkan yakin dalam hatinya. dalam hidupnya.
Yakin? Ah Rei, konstruk itu kini mengabur dalam kepalanya, menguap entah-kemana. Padahal Langitnya masih yang dulu. Langit yang penyayang. Langit yang bertanggungjawab. Langit yang pemberani. Langit yang berani melamarnya di tahun terakhir kuliah.
Tidak ada hal yang berubah dalam keyakinannya, padahal. Penuhnya masih seperti dulu. Tak ada surut sedikitpun bahwa lelaki ini yang akan jadi seseorang dalam dunia-akhiratnya. Hanya saja ada yang mengganjal di sudut tergelap hatinya. Bukan, bukan keraguan pada sosok Langit.
Tentang Tangguh? Ah-ya, Rei merasa bodoh sendiri saat menemu bahwa Tangguh-lah yang jadi ganjalan itu. Bodoh, sebab yang terjadi antara mereka, jauh lebih absurd dibanding hubungannya dengan Langit. Bodoh, sebab tanya Rei tak pernah menemu jawab. Semua akan sederhana jika saja Rei adalah seorang laki-laki, norma sosial lebih membuka ruang untuk bertanya, untuk meminta. Tapi perempuan? Rei cuma bisa menunggu berhari-hari, berbulan-bulan. Mencoba menerka apa yang lebih dari interaksi mereka. Belum lagi ucapan sana-sini yang mengafirmasi perasaannya, "Tangguh suka sama lo lagi, Rei, masa' lo ga tau sih?" Getir, semua orang nampaknya tahu pasti perasaan Tangguh kepadanya. Semua orang, kecuali dirinya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1 Juni 2009.
Ada yang harus selesai di hari ini. Sudah dua pekan sejak lamaran Langit ia indahkan. Tentu, tak bisa berlama-lama, bagaimanapun Langit punya hak untuk bahagia. Punya hak untuk mendapat jawaban pasti darinya.
2 Juni 2009.
Ada yang harus selesai di hari ini. Rei belum juga memberi jawaban. Langit masih menunggu.
Ada istikharah yang berkali-kali dilakukan. Allah.., Rei butuh ketenangan...
3 Juni 2009.
Pagi yang campur aduk. Untuk ketiga kalinya, siluet itu muncul dalam mimpinya. Tangguh.
Dan Rei masih belum (berani) menemukan jawab atas tanyanya.
4 Juni 2009.
Rei merutuki dirinya berhari-hari, kenapa begitu sulit untuk sekedar bertanya tentang kepastian? Padahal jelas ia dan Tangguh berbagi cerita setiap hari. Menyelipkan tanya di sela canda, apa susahnya?
5 Juni 2009.
Kita seperti dua garis rel,
bersama tapi tidak pernah bertemu
(Sitok S.)
Rei sudah sampai di titik akhirnya. Satu pesan terkirim,
"Asslm. Ka, menurut Kakak format undangan yang bagus itu seperti apa?"
terkirim: Kak Tangguh
Berbalas,
"Wal.wr.wb. Wahhhh, gw seneng nih kalo adik gw udah mulai ngomongin undangan."
Rei tercekat, tidakkah Tangguh membaca sms darinya berbunyi implisit,
"Ka, kalo gw nikah, perasaan lo gimana?"
Rei meneruskan pencariannya,
"Loh, kok seneng, Ka?"
terkirim: Kak Tangguh
Tak lama masuk,
"Iyalah.. masa' gw gak seneng. Kalo lo udah ngomongin undangan, berarti rencana nikah lo udah serius kan sama si Langit. Gimana gw gak seneng."
Tes... ada satu titik air yang turun. Rei mempercepat jalannya menuju halte, tempat ia biasa menunggu bus pulang kuliah. Tak ada satu intensi pun untuk membalas, Rei kira ia sudah sampai pada jawaban sampai tetiba,
Drrrrtttt.. Drrrrt....
Hpnya bergetar berkali-kali, nama "Kak Tangguh" muncul disana.
"Assalamu'alaykum, halo Kak?"
"Wa'alaykumussalam. Rei, tunggu dulu Rei!"
ada harap yang muncul, "Tunggu? tunggu apa, Kak?"
"Kamu lagi jalan kan,? berhenti dulu!. berhenti!"
"Ha? emang Kakak dimana?"
"Aku dibelakang kamu, Rei. Tadi ngelewatin Barel kan? Tunggu dulu! Tunggu!"
Rei mendadak berhenti. Ada yang tumbuh di hatinya: harapan. Mungkin pesan tadi bukanlah jawaban. Mungkin disini ia akan mendapat jawaban.
Satu sosok berlari menghampirinya, terengah-engah. "Ya ampun, Rei. Tadi aku lari-lari ngejar kamu dari Barel. Takut kamu keburu naik bus."
"Masyaallah, Kakak.. Maafin doong.. Abisan saya gak tahu kalo Kakak manggil. Lagian hape dari tadi di dalem tas, jadi gak gitu kedengeran," ujar Rei tersenyum.
Tangguh mengatur napas, "Iya Rei, aku mau kasih tahu sesuatu."
Perut Rei serasa dipenuhi jutaan kupu-kupu, hampir seluruh dirinya berharap Tangguh akan memberi pernyataan yang selama ini ditunggunya. Pertanyaan yang akan mengafirmasi seluruh perasaannya.
"Ada apa, Kak memangnya?"
"Itu.. Tadi ada temen aku di Barel. Dia bawa banyak contoh format undangnya. Rei bisa lihat sekarang, kalau kamu mau."
Mata Rei perih seketika, sensasi jutaan kupu-kupu hilang entah-kemana.
"Oh, nggak Kak. Gak usah. Nanti saya cari aja percetakan undangan dekat rumah,"
Rei diam.
Tangguh diam.
"Maaf Kak, bus nya udah dateng. Saya duluan ya, Assalamu'alaykum..," bersicepat Rei menghentikan bus, lalu menaikinya. Terburu-buru.
Bus bergerak pergi.
Tangguh (masih) diam.
"Assalamu'alaykum," sapa suara di seberang sana.
Rei menyamankan duduknya, "Wa'alaykumussalam."
"Dimana?"
"Di dalam bus. Baru aja naik, ini mau jalan pulang."
"Hati-hati ya, Rei."
Rei tersenyum menengahi air matanya yang masih turun.
"Engg.. Langit?"
"Ya, Rei, kenapa?"
"Pekan depan bisa atur waktu untuk ketemu Ayah Ibu?"
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
#3.63
And I will take, you in my arms
And hold you right where you belong
'Till the day my life is through, this I promise you
This I promise you..
Celah Langit
Langit tidak pernah benar-benar tahu, kenapa ia begitu mencintai gadis ini. Melihatnya selalu membuatnya gila. Berinteraksi adalah candu. Langit cuma tahu indranya hilang sekejap tiap gadis ini bersamanya. Penglihatannya kabur, pendengarannya melemah. Semua hal di sekitarnya memuai, dan tiba-tiba hanya ada gadis ini di dunia. Tidak kurang, tidak lebih.
Seperti gaya gravitasi yang menarik semua benda untuk berpijak ke bumi. Gadis ini adalah pusatnya. Buat ia, Langit akan berubah seperti apa yang dibutuhkan. Menjadi pelindung, menjadi kakak, menjadi teman, menjadi sahabat. Bersamanya, Langit merasa bisa rapi menata hidupnya. Menyusun rencana masa depannya. Vice versa, ketika hilang harapan tentangnya, Langit sesak seakan ada fase malam yang tak kunjung selesai. Seakan mataharinya esok terbit dari barat. Sungguh perasaan yang menyiksa.
Kenapa Rei? Langit tak pernah benar-benar tahu. Berinteraksi saja jarang. Rei dan Langit berada di lingkungan sosial yang berbeda. Rei yang ekstrovert, dunianya berputar ke seluruh penjuru. Siapa yang tidak kenal Rei? Rei yang juara kelas, Rei yang menang lomba debat, Rei yang ketua teater, Rei yang banyak senyum, Rei yang disayangi banyak orang. Langit yang introvert, lebih banyak berdiam di zona nyamannya. Walau tetap, siapa yang tidak kenal Langit? Langit yang ketua kelas, Langit yang calon ketua OSIS, Langit yang berani memprotes kepala sekolah.
Ia dan gadis itu bahkan tidak pernah berinteraksi kecuali saat belajar di kelas.
Tapi seperti itulah kerja misterius bernama takdir.
Langit cuma tahu pijakannya tiba-tiba runtuh di hari pertama gadis itu memakai jilbab. Rei yang selama ini tak masuk dalam dunianya, mendadak menjadi hujan. menjadi mentari. menjadi pelangi.
"Kamu tuh ngaco, Langit.. Masa nentuin calon istri cuma dalam 3 hari!" begitu Rei kerap memarahinya, tiap Langit menanyai urusan delapan-tahun-lagi itu.
Langit cuma bisa tertawa. Mau berargumen apa? Ia juga tidak tahu iblis mana yang membisiki hatinya untuk 'melamar' gadis itu di hari ketiganya memakai jilbab. Langit cuma tahu, ada satu wajah yang kerap muncul di pelupuk matanya. Ada satu nada suara yang menjadi akrab bagi telinganya. Ada satu rasa takut kehilangan yang bertambah tiap kali melihatnya.
Gadis itu. Rei, namanya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
