Menikah dengan Dzaky, di tengah segala pusingnya, hahaha, kenal dengan banyak anak ITB jadi salah satu kesenangan tersendiri. Sebagai anak kampus UI yang terbiasa dengan intrik politik sana-sini (bukan gw! bukan gw!), bisa merasakan atmosfer ITB itu pengalaman yang unik. Di sini adem (udaranya) dan adem (gejolak kampusnya). Entah kenapa ya, saya ngerasa lebih nyaman ada di ITB daripada di UI. Apa karena disini banyak cowoknya? Hahahaha, mengerikan -_-"
Oke, kembali lagi ke 4 orang di atas (selain Dzaky, 'Aqila, dan saya). Mereka orang-orang yang saya kenal lewat Dzaky. Lalu, entah bagaimana celetuk-gumam kami mengalir begitu saja. Foto itu diambil saat acara arak-arakan wisuda ITB. Acara pasca wisuda, dimana para wisudawan (iyee, banyakan cowoknya jadi gw sebut wisudawan aja, hehehe) dikasih acara khusus sama masing-masing himpunan. terus mereka perform di area terbuka kampus. Unik dan seru. Saya sudah nonton 3x wisuda dan ga ada bosennya sampai terkahir kemarin. Sepertinya 'Aqila akan saya minta kuliah di ITB aja ;)
Dan tentang foto di atas, entah kenapa bikin saya inget dengan film ini:
Film lucu yang selalu bikin saya dan Dzaky ngakak ('Aqilla diumpetin sama si Uwak karna film ini banyak 17+ nya, hehehe). Sayang, susah nyari foto HIMY yang posisinya persis kayak foto di atas. Tapi lumayan-lumayan miriplah... Anggap saja foto pertama sebagai HIMY versi Marshall dan Lily sudah berputri, hehehe.. Tapi mungkin juga terasa mirip sebab bertemu keempat orang itu selalu membuat saya bahagia.
Baiklah, karena hujan sudah turun. Saya mau pulang k rumah dulu.
Intinya, senang sekali bisa berteman dengan anak-anak ITB yang minim intrik, baik hati, dan tidak sombong.
Mungkin postulat ini memang benar: Saya jatuh cinta pada ITB, lebih dari UI (tolong jangan digeneralisir ke kisah cinta saya, please..) ;)
tapi peduli apa? Aku sungguh sedang rindu pada Rabbku..
Ah ya Rabb, lama tak kusapa Engkau. Terlarut aku dalam keseharian yang -dengan jumawa- kusebut dengan sibuk. Terbenam aku di ritual pagi-malam yang tak jua usai. Terasyik aku dengan pencitraan sana dan sini. Tapi di dalam, ada syak yang tak bisa dibohongi: TanpaMu, aku kosong..
Rabbku, maafkan kekusutan jiwa yang tak lagi mudah husnuzhan pada sesama, terlebih padaMu.. ampuni kekelaman hati yang mulai melihat segala sebagai jelaga. Padahal tak jauh beda diri ini dari mereka..
Pekat ku mungkin memang harus Kau ranggas sebegini jauhnya. Sebab ia terlalu gelap. Pongah ku terlalu tinggi hingga mungkin memang harus Kau tebas sesakit ini. Lihat, Rabb, bahkan baru sejauh ini mau ku akui betapa semua mengarti. betapa semua memakna.
Duhai Rabb, papas aku sesakitnya jika memang pada taraf itu jumawaku lumpuh. Ranggas aku sejauhnya jika memang di kadar itu lepas semua sombong-sombongku. Buang jauh sauh ku jika memang di titik itu, runtuh semua citra-citra yang ku umbar di depan mereka. Ya, mereka semua.
Terlampau asyik ku renangi semua ini hingga ku lupa kemana tujuku: syurgaMu..
Ah ya, terlalu cerewet tanyaku tentang ini itu takdirMu. Mengapa begini? Mengapa begitu? Mengapa dulu? hingga lancangku berani berlisah: Allah, mengapa aku?
sedang ku tahu tak kan ada yang mampu menjawabnya. Tidak juga kau. mereka. atau aku.
Mungkin memang harus sampai titik ini Kau bawa diriku: Noktah dimana aku benar benar merindu pertemuan denganMu.
Agar terselesai semua tanyaku. tentang Ayah yang pergi. tentang Kakek-Nenek yang tak jua padam tengkarnya. tentang dia. tentang semua. tentang takdirMu.
Ya, banyak tanya yang harus kubagi denganMu, Rabb.. Agar tak lagi ku kasihani diri ini. Agar usai keluh kesahku disini. Agar segera selesai urusan dengan diriku sendiri. Agar ada damai-damai yang dapat ku hembus ke sumsum tulang..
Rabb, bukankah ketidakmampuanku berdamai dengan diri sendiri ekuivalen dengan ketidakmampuanku bermanfaat bagi yang lain?
Mungkin sejenak ku harus tuli. bisu. papa sekaligus. hingga hanya hati ini yang menyala, mencoba mengerjap-kibaskan debu-debu yang menggunung. hingga ku tiba di tapal batas keinsyafanku..
Aku tak hendak menggugat takdirMu, Rabb. Sebab inginmulah yang pasti dan suci. Hanya saja aku butuh berdamai dengan diriku sendiri..
Rabb, aku rindu...
Rindu adalah.. ketika syak menaiki kerongkongan. hati dan jiwa mu tak henti bertanya perihal takdir saat ini. tapi kau rapal ulang selalu kekata Bunda Hajar: Sesungguhnya.., Dia tak kan pernah menyia-nyiakan kami!
Rindu adalah.. saat kau sadari jentik jari, bahkan teriakmu, tak cukup hentak untuk memperbaiki. Dan kau tahu kau lemah.. kau sadar bahwa batas mu hanya pada ikhtiyar. Hingga setengah sadarmu menggigil dalam ratapan padaNya: Allah, aku butuh bantuanmu..
-Dipertengah Jum'at siang. Sebab jika bukan padaMU, kemana kah sedu sedanku?-
“Kalau anak Anda lemah di Matematika tetapi sangat kuat di Bahasa Inggris, kira-kira les tambahan apa yang akan Anda berikan pada Anak?”
Seluruh ruangan menjawab. Hampir serempak, “Matematikaaaaaa!”
Pembicara kita tersenyum seakan sudah mampu menebak jawaban sebelumnya, “Nah, itu dia kesalahan fatal negeri kita. Anak lemah matematika kuat di bahasa inggris? Berikan ia les tambahan bahasa inggris!”
Pembicara itu, seorang anak cerdas yang berhasil masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Institusi yang tidak main-main sebab peminatnya hampir puluhan ribu. Dari seluruh penjuru negeri. Pembicara itu yang sejak kuliahnya, atau mungkin lama sebelum itu, mampu menyadari apa yang menjadi potensi dasarnya. Alih-alih bernilai tinggi di kampus, ia justru rajin membawakan acara-acara kampus di sana-sini. Dan kini, pembicara itu memiliki sekolah broadcasting sendiri, sedang dirinya masih mendapat banyak order MC (master of ceremony) beromset milyaran. Mungkin nilainya di kampus dulu tak setinggi teman-temannya, tetapi kini potensinya melejit tak henti. Pembicara itu, Helmy Yahya namanya.*
Sekolah yang mematikan
Ada analogi unik yang diberikan Pak Munif Chatib, Pakar Pendidikan ‘Sekolahnya Manusia’, tentang wajah sekolah negeri ini.
Alkisah ada sebuah sekolah yang didirikan di tengah hutan rimba, dimana muridnya tentu para penghuni rimba sebangsa elang, kelinci, tupai, ataupun gajah. Di hari ketiga pembukaan, datanglah seorang calon siswa, Elang namanya. Kemampuan terbangnya sungguh mengagumkan, melesat kesana kemari tiada dua. Komite sekolah mengangguk-angguk takjub, diterimalah ia. Elang si anak baru sungguh gembira dapat masuk ke sekolah barunya. Tetapi tak lama, terkagetlah ia melihat jadwal pelajaran yang harus ia ikuti, salah satunya adalah mata pelajaran berenang. Tak pelak, di setiap jam pelajaran renang, elang selalu kewalahan. Sayap lebar nan gagahnya tak dapat ia gunakan untuk mengayuh air. Nilainya? Jangan ditanya, tentu selalu buruk rupa. Ujian Nasional renangnya tak lulus (ah ya, di sekolah ini renang menjadi salah satu pelajaran UN), remedial sedemikian rupa tak membantu. Elang sedih bukan kepalang, malu ia pada teman-temannya yang lulus. Tapi apa yang lebih menyedihkan dari itu? Kemampuan renangnya tak ada, sedang kemampuan terbangnya pun perlahan menghilang...
Itulah sekolah yang mematikan. Ketika gedung-gedung tak bernyawa hanya dijadikan sekedar tempat duduk-dengar-catat. Ketika guru-gurunya pun tak ada gairah mencerdaskan. Ada yang salah dengan pendidikan negeri ini, ketika anak datang dengan harta karunnya masing-masing lalu dicerabut paksa. Kepala-kepala mungil yang penuh antusiasme itu diredam dengan kegiatan duduk-dengar-catat. Kelincahan mereka sering dicela dengan, “Sssst! Ayo jangan berisik, Anak-Anak!” bahkan sampai ada perintah diam yang diperhalus dengan lagu, “Tangan ke samping, duduk yaaang maaaniiissss..!”, padahal ilmu psikologi perkembangan sudah lama mencatat potensi psikomotor anak berkembang jauh sebelum potensi-potensi lainnya. Tapi di sini, di negeri ini, anak-anaknya didorong hanya di ranah kognitif (yang sering disalah artikan dengan kecerdasan). Belum cukup sempit? Kemampuan anak di kerdilkan lagi hingga hanya selembar dua lembar tes. Pun dua atau tiga digit nilai angka di atasnya. Ah ya, Indonesiaku...
Sekolahnya Totto-Chan dan Harry Potter
Ketika membicarakan pendidikan, entah kenapa memori saya selalu memutar balik pada salah satu buku favorit saya, Totto-Chan: Gadis Kecil di Jendela. Sekolah Totto-Chan sederhana, hanya beberapa gerbong kereta. Di sana tidak ada jadwal pelajaran, perintahnya hanya satu: “Silahkan lakukan apa yang kalian suka!” Maka kelas menjadi hidup: yang hobi menggambar makin giat menyempurna lukisan, si teliti tekun sekali dengan soal-soal rumit matematika, sedang yang berliterasi tinggi bersemangat sekali membuat tulisan. Dalam hatinya, Totto-Chan kecil berkata, “Sekolah ini aneh sekali.. tetapi semua terlihat bahagia..”**, pendapat yang mungkin jarang sekali didengar pada sekolah zaman sekarang, dimana ekspresi bahagia siswa hanya muncul saat bel pulang sekolah, atau bel istirahat. Ah ya, atau satu lagi, saat guru nya tidak bisa masuk kelas..
Satu lagi model sekolah yang sering saya ingat saat melamun tentang pendidikan Indonesia. Tapi yang ini, berasal dari dunia fiksi, Hogwarts namanya. Sekolah sihir Harry Potter dan kawan-kawannya. Bagi saya, sekolah fiksi ini sungguh menarik dan cerdas. Di Hogwarts, murid-murid diajarkan mantra, ramuan, terbang dengan sapu, serta pertahanan diri terhadap ilmu hitam. Seluruh kemampuan yang diajarkan memang digunakan oleh siswa dalam kehidupan sehari-harinya, maupun kehidupan masa depannya nanti. Mantra-mantra sederhana seperti “Expelliarmus!” yang fungsinya melucuti tongkat sihir lawan duel, terbukti bermanfaat bagi murid-murid sebagai pertahan diri sederhana saat mereka diserang oleh penyihir jahat. Skill of life alias keahlian untuk hidup, ini konsep yang diberikan Hogwarts pada muridnya. Terkadang saya berpikir, “Bukankah sekolah diciptakan agar murid-muridnya mampu bertahan hidup setelah lulus dari sana?”. Tapi sedihnya di negeri ini tidak. Tujuan sekolah adalah nilai dan selembar ijazah. Bergerak dari sana, tak perlu heran ketika remaja usia SMA pun kuliah masih gamang kemana mereka akan melangkah. Bagi mereka, sekolah adalah ijazah. Skill of life? Entah dimana mereka...
Lalu, dimana Kita?
Bertahun saya berkecimpung di dunia pendidikan, mungkin baru-baru sekarang saya menemukan formula ini (yang mungkin sudah lama ditemukan oleh pakar pendidikan lainnya): Anak akan lebih mudah dan semangat mempelajari sesuatu ketika ia tahu apa manfaat untuk dirinya. Sejatinya memang manusia dicipta sebagai makhluk pembelajar, rasa tahunya akan bangkit pada hal-hal yang menjadi atensinya. Nah, disanalah yang terlupa dalam pendidikan kita. Mata pelajaran dipilah-pilah sedemikian rupa, diatur standar kompetensinya sekian sekian, sampai sakit kepala murid kita dibuatnya. Mengapa? Sebab mereka tak paham apa manfaat itu semua baginya. Mereka hanya tahu, ada materi yang harus dituntaskan dan ada standar nilai yang harus mereka lampaui (kalau mereka tak ingin remedial). Akhirnya murid lelah, guru pun putus asa. Dan drama pendidikan kita kian berulang di siklus yang sama.
Stop Cursing Darkness Better Light More and More Candles (Annies Baswedan)
Bagaimanapun gelapnya, harus selalu ada orang yang ingat untuk menyalakan lampu. Begitupun dengan sketsa pendidikan negeri ini. Di saat pemerintah masih belum mampu (atau mau) bekerja lebih keras, filosofis, serta taktis dalam memperbaiki pendidikan negeri ini, geliat geliat “Sekolahnya Manusia” mulai tumbuh, subur, dan menjamur. Meski dalam skala kecil, tapi mungkin dari sanalah harapan itu datang. Seperti hukum Tipping Point yang ditemu oleh psikolog populer, Malcolm Gladwell, perubahan-perubahan besar dunia nyatanya dimulai oleh tak lebih dari 10 % populasi!
Maka teruslah bergerak, mulai saat ini, dari diri sendiri. Bergeraklah, sebab negeri ini butuh harapan...
*cerita tentang Helmy Yahya saya sarikan dari cerita Ibu saya, yang merupakan adik kelas Helmy Yahya saat di STAN
**Ringkasan cerita Totto-Chan disarikan dengan sedikit dramatisasi yang, insyaallah, dalam arti yang positif
"Siapa yang sudah tahu tentang aqil baliiigghhh?" tanya saya dan Pak Rivai di siang itu.
Hampir semua anak mengangguk sambil senyum-senyum "aneh"., terutama yang perempuan. Maklum, di kelas saya perbandingan jenis kelaminnya 20:2, ya 20 laki-laki bersama 2 orang perempuan, ;)
akhir-akhir ini, topik aqil baligh lagi "jor-jor"nya saya dan pak rivai bicarakan di kelas. Bukan apa-apa, mereka sudah kelas 5. Beberapa suaranya sudah mulai berubah. dan beberaoa *ehem* udah mulai lirik-lirik lawan jenis, termasuk ngirim 'surat cinta' yang ga pernah sampai ke tangan penerimanya (karena dikuwel-kuwel sama si pengirim, diselipin dibelakang Al-Qur'an, dan ditemukan oleh pak Rivai. hahahaha :D)
Alhamdulillaah, hampir semua anak sudah paham apa yang jadi indikator bahwa mereka udah aqil baligh: mimpi basah buat lelaki, dan hadi untuk para wanita. Pun kewajiban mandi besar setelahnya mereka juga paham-ini yang bikin saya bangga sama anak SAB-. Setelahnya, kami ajak mereka ke pembahasan yang lebih 'berat': masalah hijab.
Berat disini bukan cuma buat anak-anaknya, tapi juga buat saya dan Pak Rivai sebagai gurunya T_T gimana enggak, setelah aqil baligh, mereka ga boleh lagi salim tangan sama saya (untuk yang lelaki) atau Pak Rivai (untuk yang perempuan). bahkan mereka sepakat mulai ga salim tangan sejak pembahasan kami yang pertama, "buat latihan buuu...", gitu alasan mereka.
Saya nya? ga ga ga relaaaaa.. T_T ternyata yang sudah aqil baligh di kelas saya banyak sekaliii.. hampir separuh kelas.. padahal suara mereka belum berubah, muka mereka masih imut, tingkahnya apalagi. Dan saya udah ga bisa kunyel-kunyel mereka lagi hiks hiks :'(
di SAB itu, hubungan guru dan murid dekat sekali.. seperti orang tua dan anak. ga jarang mereka minta pangku atau nahan tangan saya lama-lama pas salim sambil gerakin bola matanya dengan jenaka. Kadangpun minta bantuan pegangan saat outbond. Oh, I will miss that moment.. dan ini rasanya mellow beneraaaann.. :"(
Lagi-lagi saya belajar, betapa waktu berjalan cepat. dan selamanya anak akan tumbuh tanpa bisa kita hentikan. pertanyaan yang bisa ditelunjukkan adalah, 'Sudah menyiapkan apa untuk mereka?' Ya.. saat aqil baligh sudah dilewati, merekalah penanggung tunggal atas semua perbuatan mereka, 'amal baik dan buruknya. Sedang mereka masih imut sekaliii, dan lucuuu, dan jenakaaa.. Aih, mellow lagi deh..
Ada rasa khawatir yang besar, saat anak-anak-dengan-hafalan-4-juz-ini harus masuk ke masa remaja nya. Anak-anakku yang baik, yang sopan, yang ga pernah mau deketan sama lawan jenis, yang tau harus geser duduk kalo Rifda dan Qinthara masuk kelas, yang selalu nyeplos, 'Bu, di Islam kan ga ada pacaran kan ya bu? ya kan? ya kan?' sampai celetukan 'cerdas' seorang Aldika saat Pak Rivai menjelaskan kategori mahram, "Pak Rivai, berarti kalau aku mau nikah sama Bu Tami, boleh dong?"
cerdas-cerdasku, anak-anakku.. :')
Keep growing up ya, Nak.. tumbuhlah jadi pribadi semurni saat ini. Saat canda kalian adalah permainan seru antar sesama. Saat bertengkar kalian hanyalah satu dua hari saja.
Ibu sayang kalian. selalu. :")
post ini didedikasikan khusus untuk mereka yang ngaku sudah baligh (atopun yang masih ragu-ragu, hehehe..): Arul, Naufal, Gilang, Aldika, Najat, dan Nezar. keep on shining, my boys!