Reverse

dulu sebelum nikah, dari berbagai buku pernikahan yang saya baca, selalu ada kalimat seperti ini:
"Buat para Lelaki yang ga terbiasa berekspresi, berlatihlah untuk bisa romantis! biar seluruh dunia tahu lahirnya pujangga baru. kalaupun ga seluruh dunia, cukuplah untuk seorang wanita shalihah yang lebih berharga dari dunia seisinya.."

sekarang? aha! saya punya postulat baru:
"Buat para perempuan, berlatihlah untuk menerima bahwa ga semudah itu bagi lelaki untuk mengungkap rasa. Bila kita terbiasa dengan kata, maka mereka tunjukkan itu dengan usaha. maka bersabarlah.. bersabarlah.."


eh, keduanya sama-sama ibadah kan ya?
*love you till the blue sky, Abhiw! :*

'Aqilla 1 tahun

Mumpung 'Aqilla lagi bobok (oh yes, she has been sleeping since 12 PM, siap2 begadang ntar malem Bund!), marii kita tulis 'Aqilla udah bisa apa aja setahun ini..


Fisik
Sudah bisa jalan! Ouh, menakjubkan banget deh punya anak itu.. soalnya tiap bulan kemampuannya nambaaah.. 'Aqilla udah bisa berdiri dari 9 bulan, dan langsung manjat rak tv. Alamaaakk, turunan siapa inih? *lirik tajam keee... diri sendiri, hihihi
Nah, kayaknya sejak dia jago manjat rak tv itu, keseimbangan badannya langsung bagus.. bulan depannya, langsung aja gitu dia melangkah.. bahkan saya dan Dzaky hampir ga pernah titah-titah. Unik memang, tapi 'Aqilla memang ga mau dititah.. dia prefer pegangan sendiri rambat-rambat di tembok. karena memang ga pernah dilarang (yeah, we're such a democratic parents, gitu.. hihi), puncaknya pas saya dan Dzaky lagi serius nonton pertandingan bola Indonesia yang kalah lagi, tau-tau aja dia nyamperin saya sambil cengengesan.
Oh.., itu sungguh 2 langkah pertama yang membahagiakan.. Saya nangis lohhh, percaya ga? :p

Kognitif
Wheeeww, ini susah ya ngukurnya.. Pokoknya rasa ingin tahu nya makin meledak-ledak.. Dispenser dikucurin, kompor diputer-puter, bahkan kemarin dia berhasil nyabut colokan kipas angin dari stop kontak dan saya langsung kena omel bapaknya.. buku diobrak-abrik. wah, ga keitung banyaknya komik pinjeman dari tante qyuqyu yang udah dirobek.
fyuuh.. punya anak itu memang berantakan, capek, riweuh, tapiiii selalu seru dan menyenangkaaan!

Bahasa
Ah ya, ini yang paling menakjubkan, menurut saya. dari bayi yang cuma bisa nangis, trus lanjut fase cooing, babling, sekarang sudah baaanyaaak ngomongnya, dan mulai ada artinya. kata favoritnya sekarang adalah "ini apa?" she keeps asking that question for each things around her. semua ditunjuk dan ditanya. walaupun udah dijawab, teteep aja ditanyain..
selain itu, 'Aqilla juga udah bisa manggil orang tuanya.. Papa dan Mimi. hihihi.. berasa Anang-KD. kadang udah bisa sih panggil Dzaky dengan "Bi..." tapi jarang banget.. cuma kalo lagi keceplosan doang.. dan Bunda? hahaha.. masih jauh panggang dari api nampaknya.. as you wish aja lah, Nak.. you got your own willingness.. :)


kapan mau punya adek?
Loh loh, ini kok dimasukkin ke tahap perkembangan.. Hahahaha.. nantiiii, si Babeh mau ngabisin SKS dulu dan ngerjain TA. do'akan yaaa mudah-mudahan masih inget sama kuliah..Insyaallah, tahun depan mau ambil S2 kasih adek buat 'Aqilla.. entah adeknya dalam bentuk bayi atauuu.. tesis. *pengsan




'Ala kulli hal, Alhamdulillaah :)

Tak perlu jauh ke Lirang..

Impian saya sejak SD adalah: jadi Guru.

Sampe kuliah, mimpi saya belum berubah. Hanya saja, frasenya bertambah:
jadi guru di pedalaman
bahkan ya, dulu itu saya bercita-cita bakal masuk ke pedalaman, ngajar anak-anak ga mampu disana.. terus nikah sama kepala suku biar satu suku itu masuk Islam semua. hehehe..
Kayaknya kalo gerakan Indonesia Mengajar udah ada pas tahun pertama jadi mahasiswa, mungkin saya ga akan memutuskan buat nikah saat kuliah.

Nah, setelah nikah, pekerjaan saya adalah: mahasiswa

Setelah 'Aqilla lahir: Mahasiswa tingkat akhir yang lagi ngerjain skripsi

Setelah skripsi: Ibu rumah tangga

Hehe.. Menikah itu memang bukan sekedar menyatukan status, tapi segalanya! fisik, mental, kebiasaan, sampaaaiii.. visi-misi.

Jadi sodara-sodara, suami saya adalah tipikal suami yang lebih senang istrinya di rumah. bukan masalah di rumahnya sih, tapi lebih ke full ngedidik anak. walaupun ART kami apik menjaga anak, dan TPA (Tempat Penitipan Anak) udah menjamur seantero Bandung, tetep aja suami prefer saya yang pegang penuh. Selain faktor ketidakpercayaan, memang tugas utama saya kan jadi Ibu, ya? Hehehe.. Itulah suami saya.

Saya? Awalnya setujuuu! Gimana nggak coba? jadi ibu rumah tangga kan waktunya luang banyak! hehehe.. Anak tidur, bisa nge-net. Ga perlu bangun subuh-subuh buat siap-siap ngantor.. ga perlu kena macet.. ga perlu mendamaikan hati yang kesel karena pulang saat si kecil udah lelap.. ga perlu banyak hal deh pokoknya! (dear working Mom, u're great :)


Jadilah saya menjalani pekerjaan mulia itu selama beberapa bulan pasca sidang skripsi. Tapi lambat laun, saya mulai gerah.. heee, bukannya saya bosen jaga anak loh yaa.. main sama 'Aqilla yang energinya ga abis-abis itu luar biasa menyenangkan! (Ouh, oke, minus adegan makanan tumpah dan nasi berhamburan dimana-mana). cumaa saya itu dari jaman masih muda (eh, sekarang juga masih kok! :p), udah kebiasaan kocar kacir kesana kesini.. jadi lah saya ngalamin yang namanya.. engg.. apa ya nyebutnya culture shock? apa marriage shock? hehehe.. pokoknya rasa kaget gitu dengan rutinitas yang berubah banyak.

Sampai akhirnya saya minta izin ke Dzaky buat kerja.. Dzaky ngijinin sih. Walau setengah hati, huihihi.. Bayangkan aja, pas saya minta izin ke 'Aqilla buat kerja, Dzaky nimpalin: "Iya, Qilla.. Bunda nya mau kerja biar bisa belanja muluuu.." Aih, jadi ga enak kan ketahuan motivasi aslinya. wkwkwkw..

Setelah izin keluar (iye, masih setengah hati!), mulailah saya searching lowongan.. Singkatnya, saya berhasil sampe tahap wawancara. tapi belum rizqi. Saya coba kirim ke beberapa perusahaan, belum juga ada panggilan. tiba-tiba aja saya diminta tolong buat ngajar PAUD (pre-school gitu..) di daerah Cipaganti. PAUD ini sifatnya pro-bono (coba googling aja yak, artinya apa. hehehe..). tadinya saya cuma jadi guru bantu, tapiii.. tiba-tiba aja guru utamanya mundur karna ga punya cukup waktu. jadilah saya: guru utama, sekaligus guru bantu sekalian pembuat kurikulum dan kegiatan.

Jadi, aktivitas saya sekarang adalah ngajar PAUD tiap Senin-Rabu-Jumat pukul 09:00-11:00.
Dzaky gimana? Wah, dia mah lebih seneng saya kerja yang pro-bono-an gini.
'Aqilla? apalagi, soalnya dia bisa ikut! bahkan boleh masuk kelas selama saya ngajaaar! Dzaky senengnya dobel tuh: Saya tetep bisa pegang 'Aqilla full.
Saya? Senang! karena akhirnya bisa punya aktivitas di luar rumah seperti dulu.. in the name of self-actualization, mari ramai-ramai kita salahkan Bapak Maslow untuk hal ini, hihihi

Allah itu memang unik yaa dalam mengabulkan do'a..
keinginan yang saya rapal bertahun-tahun lalu ternyata dikabulkan justru di saat saya sudah tidak berani memimpikannya lagi.
Saya memang tidak menyusuri kecipak rawa dan lebatnya hutan di pedalaman. Saya tetap disini bersama para jantung hati saya.
Tetapi di tempat yang sama pula, Allah pertemukan saya dengan 60 pasang mata bening yang selalu berbinar di tiap Senin-Rabu-Jumat itu.
juga belasan senyum Ibu-Ibu yang semangatnya menyala tiap mengantar anak-anak mereka.
serta tangan-tangan kecil yang berebut memasukka uang -seadanya dan semaunya- ke dalam kencleng hijau kecil di sudut ruang.
di tiap pasang mata, senyum, dan uluran itu saya tahu, ada harap yang bertumpuk pada PAUD sederhana ini: memberikan bentuk pendidikan yang lebih baik untuk anak-anak mereka

Tahukah kawan, bahagia itu adalah sebuah senyawa yang unik. Tidak ada rumusan zat maupun molekul yang bisa menafsirkannya. bahagia bisa datang dari pintu-pintu yang tidak terduga. seperti sekarang ini: jika beberapa bulan yang lalu saya sedang bahagia dengan angan gaji berdigit tujuh di salah satu tempat yang nyaris menerima saya; sekarang ia menjelma dari senyum nakal murid-murid di pagi hari.

dan tahukah? bahagianya lebih berlipat! puasnya lebih berpangkat!

Sepotong roti yang engkau makan di suatu sudut
Segelas air putih dingin yang engkau minum dari mata air
Kamar bersih tempat engkau menenangkan dirimu
Isteri patuh yang membuat engkau puas dengan melihatnya
Anak perempuan kecil yang dikaruniakan kesehatan
Rizqi yang tidak kau sangka-sangka sumbernya

Allah menetapkanmu menjadi seorang da'i
Di suatu masjid terpencil untuk menghilangkan kerusakan
...
Adalah lebih baik daripada waktu yang engkau habiskan di istana-istana megah
(Muhammad Shalih Al Munajjid)


Tak perlu jauh ke Lirang, do'a saya sudah bertemu dengan takdirNya di langit.
Allah itu Maha Baik.. di segala cuaca kehidupan kita.. :')

ga bakat jadi pemimpin

Ahem! ini sebenernya udah lamaaa banget pengen saya posting, tapi berhubung modem belom dibayar sibuk, jadilah ketunda-tunda mulu. hehe.

jadi gini ceritanya..
saya itu, mulai dari SD (atau TK malah ya?), entah kenapa rada terobsesi dengan yang namanya "jabatan". Sebagai konsekuensinya, jadilah saya itu hampir selalu ikut organisasi. Mulai dari perangkat kelas, sampe BEM fakultas.

Cuma ya, ada satu yang saya sadari dari diri saya (dan sayangnya baru nyadar akhir-akhir ini): 
Saya ga bakat jadi pemimpin.

Yeah, waktu SD itu pernah sih jadi ketua kelas buat 1 periode.. cuumaaaa, saya ga lebih dari seorang perempuan yang kudu berteriak nyaring tiap pagi (Bersiiiaaap, Berdiriii, Berdo'aaa, Memberi Saaalaaam.. eh masih sama gak ya protokolernya? huihihi). Lainnya? Haha, boro-boro dihormatin jadi ketua kelas. Saya justru lebih mirip seksi keamanan karna kerjaannya lebih sering marah2 depan kelas karna temen-temen pada ribut sampe guru mogok ngajar.

Waktu SMA, saya juga pernah ditunjuk jadi ketua panitia workshop ekskul (dimana Dzaky jadi Sekretarisnya. Bayangkan! bayangkan dunia! Saya pernah loohh jadi pemimpin Suami saya, hahahaha). Hasilnya? Tim saya ga solid. panitia kabur-kaburan. hampir semua saya kerjakan sendiri. dan bantuan hanya datang dari the man on the last minute, yang tak lain dan tak bukan adalaaaaah... Dzaky. wkwkwkw.. Ngaco bener deh kalo diinget-inget.. 

Pas kuliah, saya naik jadi steering comittee. supervisi kepanitiaan gitu. Jadi posisi saya di atasnya ketua panitia. cuma yaaahh.. blame my lack of leadership, my maaan.. kepanitiaan yang saya supervisi juga rada amburadul.. Padahal yaahh tugas saya cuma mem-supervisi! ga pake turun tangan segala!

Dan setelah saya renung-renungkaaan.. ternyata kelemahan saya adalah:
Saya ga bisa merintah.

Gini maksudnya, saya itu bukan pleghmatis tapi tipe pendamai (Aih, ambigu deh lo Tam. kuliah S2 sana biar pinteran! Apa Bhiw? ntar aja? baeklah.. *balikngejar'Aqilla).Nah, saking pendamainya, saya jadi rada takut ngeluarin perintah sama seseorang. hemm.. bukan takut sih, tapi lebih ke rasa gak enak

Ini nyata loohh, hati saya rasanya selalu tertohok dan perut keaduk-aduk tiap saya mesti ngasih perintah ke seseorang, walaupun orang itu memang sudah seharusnya dapet perintah. Alhasil, saya lebih banyak jadi yes-man yang ga brani ngritik kerjaan orang lain.

Konyol kan? tapi memang ituuu yang saya rasain..

Banyolnya lagiii, rasa gak enak itu kebawa sampe sekarang.. sampe ke khadimat saya sendiri.
Call me stupid, tapi itu yang terjadi.. saya sering banget ngerasa gak enak ke ART cuma gara-gara cucian piring yang numpuk.. rumah berantakan.. atau kamar tidur yang belom diberesin. Padahal, memang ART itu saya bayar untuk bantu saya di semua hal itu kan? Nah itu makannya saya bilang banyol.. hehehe

Jadilah pagi-pagi sebelum saya berangkat ngajar (iyeee,, ntar saya ceritain tentang ngajar ini di postingan yang lain..), sebisa mungkin saya nyuci piring, beres rumah, atau rapihin kamar dulu. Padahal saya udah injury time banget buat berangkat. Haaaaa.. aneh banget euy, sampe sekarang masih belum bisa ngilangin rasa gak enak itu.. sampe-sampe saya susaaah banget buat kasih kritik ke ART saya (kritik yang memang dia butuhkan). Hal yang sama juga terjadi saat saya mau kasih perintah baru ke ART itu..

Jadinya?

saya pusiaang.. pusiaaang... That's such an unsolved problem, Dude..



24 September 2011

Hey, Cinta.. Asslamu'alaykum..
Malam ini, saat Bunda membuka laptop, kamu udah tidur.
tertidur setelah sebelumnya kita jalan-jalan merayakan milad pertama mu hari ini.

Milad? Ah ya, kenangan setahun lalu di rumah bersalin itu sesungguhnya sudah menggedor-gedor sejak sehari yang lalu.

Betapa tidak? sejak kami sadari kehadiranmu melalui dua garis yang membahagiakan itu (iya, testpack. ini supaya nampak romantis aja.. Apa Bhiw? Lebay? huihihi, oke testpack), lalu perjalanan 9 bulan yang menakjubkan. dilanjut dengan perjuangan 12 jam di RB Depok Jaya. sejak pembukaan 3 sampai 10.. mulai wajah yang masih bisa senyum sampai nyawa berasa diregang dan maut terasa dekat.. sungguh dekat..

'Aqilla.. memilikimu adalah sebuah keajaiban.. :')

(ini klise, tapi suuungguuuh..) Rasanya baru kemarin kami merasai bau ketuban di ubun mungilmu..

'Aqilla kecil yang shalihah, tahukah kau bahwa Bunda langsung jatuh cinta begitu pandangan mata kita beradu untuk yang pertama kali? oh, bahkan mungkin sudah jauh lebih dulu dari itu. sejak tendangan pertama mu di perut? Bukaan.. lebih dulu lagi dari itu.. sejak kami menatap denyut jantung mu di monitor USG kah? bukaan.. bukaan.. Ah, 'Aqilla.. bahkan Bunda tidak bisa mengingat pasti sejak kapan cinta itu hadir. mungkin bahkan ia sudah bertumbuh jauh sebelum Bunda mengenal Abhiwa mu. Mungkin jauh lagi jauuuh sudah hadir lebih dulu saat kanak-kanak Bunda menimang boneka kecil dan memeluknya hingga lelap..

dan untuk cinta yang selalu membesar itu: terimakasih Sayang, terimakasih sudah memilih Bunda dan Abhiw sebagai orang tuamu..

terimakasih untuk segala sakit dan jerit yang harus Bunda rasakan setahun lalu
terimakasih untuk mual dan bedrest yang membuat Abhiwa mu ikut payah berbulan-bulan
terimakasih untuk segala kepenatan dan baby blues bertubi di awal kelahiranmu
terimakasih untuk motivasi kebebasan finansial yang tiba-tiba saja membesar begitu rupa sejak kau tiba
terimakasih untuk berbagai buku berserakan di lantai dan berbagai mainan yang tersebar tak tentu arah di rumah. setiap harinya.
terimakasih untuk tangisan tengah malam yang buat kami -setengah sadar- terjaga demi membuatmu nyaman tidur kembali
terimakasih untuk semua kerepotan-kerepotan menyenangkan. ya, semua bertambah repot dan berkali runyam. tetapi bahagianya pun kian bertambah, berkali, bahkan berpangkat hadirnya.

Dan satu yang 'kan Bunda ucapkan di tiap pertambahan usiamu, Nak:
terimakasih telah meletakkan syurga di bawah kakiku..




Peluk dan Cinta,
Bunda.
(dan Abhiwa yang lagi nonton bola dan berulang kali berusaha ngintip surat ini :p)






And here is my birthday girl this morning, 





Ah ya, satu lagi, Sayang.. jangan heran kalau kamu jarang nemuin foto kita berdua. I'm always be the woman behind the lens.. Cinta yang menyeruak selalu ada untuk kalian berdua! ^_^

Search

 

Followers

Rumah Bahagia ^__^ Copyright © 2011 | Tema diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger