Mirip judul lagu nya Wali? Emang! hehehe
Dan saya selalu ter-ha-ru nonton video klipnya.. huhuhu.. Dzaky bilang lebay, tapi gak lama lagu ini dia download juga di bb-nya.. huihihi.. *gengsi ceritanya ya, Ay?*
Dalam segala cuaca, selalu ada Allah Yang Maha Baik, bukan?
Mirip judul lagu nya Wali? Emang! hehehe
Suatu siang ketika si kecil sedang lelap..
B : "Bhiii."
A : "Hmmm..."
B : "Bhi! Dengerin ga siiii?"
A : "Iyaaa. kenapeee?"
B : (merengut) "Kenapa sih ga pernah panggil aku Sayang? atau panggilan sayang lain gitu?"
A : "Ampuuun.. nanya nya itu lagi.. Dek.. Dek.."
B : "Abis, aku baca blog-blog ituu.. para suami manggil Yang-Yang gitu sama istrinya. atau panggilan sayang lain gitu, kek.." (manyun)
A : "Aku kan punya panggilan sayang ke kamu lagi.."
B : "Apa? mana cooobaaa?"
A : "Dedek. Nah, aku manggil kamu kan selalu pake itu."
B : (berpikir pelan. Ah ya, suami ku memang ga pernah manggil "Bunda" kalo cuma lagi berdua)
"Jadi itu panggilan sayang?"
A : (beringsut menatap mata sang istri). "Iyaaa.. itu panggilan sayang aku ke kamu, Dek.."
Untuk pengakuan setelah 2 tahun lamanya, Cinta..
makasih ya, Lelaki Penyabar ku :*
Suami saya..
Dia memang bukan lelaki yang rutin mengecup kening saya setiap hari. atau memanggil saya "Sayang". atau memeluk saya sebelum berangkat.
tetapi lelaki yang sama itu, belum pernah sekalipun membentak saya sejak awal pernikahan.
Suami saya..
Dia memang bukan lelaki yang memberi saya hadiah di saat-saat istimewa. Kado ulang tahun? saya belum pernah diberinya. sama sekali.
tetapi lelaki yang sama itu, tidak memejamkan mata ketika jarum jam bergerak dari tanggal 19 menuju 20 Juni, untuk setelahnya menjadi orang pertama yang mengulas senyum di fase usia baru saya.
Suami saya..
Dia adalah lekaki yang sering "berkomentar" saat saya belanja baju (lagi). mengingatkan saya untuk menahan diri: hal yang sangat jarang saya lakukan saat belum menikah.
tetapi lelaki yang sama itu, jarang sekali membeli baju untuk dirinya sendiri. Saya bahkan bisa menghitungnya dengan jari.
Suami saya..
Dia adalah lelaki yang membuat saya harus menawar saat belanja. berhemat agar kami bisa cukup makan sebulan ke depan.
tetapi lelaki yang sama itu, selalu menyempatkan diri mengajak saya menghibur diri: entah menonton ataupun sekadar jalan-jalan ke Salman.
Suami saya..
Dia memang bukan lelaki yang selalu menawarkan bantuan untuk memegang anak ketika sang Ibu punya urusan. dia akan baru bergerak saat si anak mulai menangis.
tetapi lelaki yang sama itu, membatalkan agenda nya hanya karna Istri nya terlambat bangun untuk masak, sedang si anak merengek minta digendong. dia lelaki yang ketika saya bertanya meninggi, "Kenapa ga pergi hari ini?"; hanya menjawab, "Habis kamu minta aku pegang 'Qilla, aku ga tega lah pergi.."
Suami saya..
Dia memang bukan lelaki yang mendatangi saya dengan pekerjaan tetap, rumah layak, kendaraan lengkap, dan dompet tebal.
tetapi lelaki yang sama itu, selalu mengajak saya melejitkan mimpi kami akan kebebasan finansial beberapa tahun mendatang. Lelaki yang memutus untuk merintis bisnis sendiri, agar senantiasa memiliki waktu buat anak istri.
Suami saya..
Dia memang lelaki yang seringkali terlihat kurang di mata saya. Lelaki yang sering sekali saya kritik ke-alpaan-nya. Saya komentari keminusannya.
tetapi lelaki yang sama itu, tidak pernah mengeluh tentang keburukan saya baik di depan orang lain maupun langsung di depan saya.
Suami saya..
Dia memang bukan lelaki yang pandai memuji.
tetapi lelaki yang sama itu, selalu menghargai apa yang saya masak. jika suka, ia memakannya. jika tak suka, cukup ia tinggalkan.
Suami saya..
Dia memang bukan lelaki yang selalu membawa buah tangan untuk para mertua dan orang tua.
tetapi lelaki yang sama itu..., ah.. saya sungguh tahu birrul walidain nya. Itu yang membuat saja jatuh cinta berjuta kali padanya.
Suami saya..
Dia memang lelaki yang masih harus di bangunkan berkali-kali saat adzan shubuh bertalu.
tetapi lelaki yang sama itu, adalah lelaki yang lisannya jauh dari mengomentari perilaku orang lain.
Suami saya,
adalah cinta pertama yang melingkupi saya dengan kesakralan, saat yang lainnya hanya mampu menawarkan kenikmatan.
Bukan judul sinetrooon, sodara-sodara...
ini tentang cincin kawin saya. Retak? yak, betul. R-E-T-A-K. cincin yang dilekatkan sama Ummi sejak lamaran 2 tahun yang lalu, dinyatakan secara resmi retak hari ini.
Apa pasal? kepentok dinding waktu nahan kepala 'Aqila. ya iyalah yaa.. mending cincin daripada kepala anak gw yang retaaaak >.<
Jadi sodara-sodara, jangan kaget yaa kalo ntar ketemu saya sudah tidak bercincin lagi.. soalnya retak cukup parah.. kalo terus-terusan dipake bisa belah jadi dua..
Sedih ga? Iya! iya banget! soalnya kan itu legitimasi sosial kalo saya itu sudah bersuami, hihihi..
tapi ada satu yang cukup menghibur:
ternyata waktu liqo kemarin, saya perhatiin jemari para temen liqo saya. Dan merekaaa... tidak bercincin!
cukup menghibuur, mengingat temen-temen liqo saya itu usia pernikahannya minimal sudah 4 tahun.. bahkan ada yang baru milad pernikahan yang ke-17! hihihi..
ga mutu ih postingannya.. hehe, sekali-kali ah! berhibur kan tiada salahnya.
-di sela-sela menunggu si Abhiw pulang liqo' (sigh, kenapa ikhwan itu liqo'-nya malem sih? hehe)-
Sejak saya menikah, pertanyaan yang paling sering orang-orang tanyakan pada saya (selain kalimat-tanya-seribu-ummat "Kapan hamil?" itu), adalaaaahhh... "Kenapa dia?"
Yap. dari milyaran kaum lelaki di muka bumi ini, kenapa saya pilih Dzaky? atau yang lebih krusial lagi, kenapa saya yakin bahwa Dzaky lah seseorang itu? Quite hard to answer, actually. Percayalah... sampai milidetik terakhir menuju pengucapan akad pun, saya masih bertanya-tanya, "Duhai Allah, inikah dia? darinya kah tulang rusuk itu Kau ambil?"
Saya kenal Dzaky sudah dari SMP. Berlanjut ke SMA yang sama. Walaupun beberapa kali kami ada di satu amanah, cukup sering interaksi, tapi tentunyaaaa... kehidupan suami-istri itu jaauuuhhh beda sekali dengan sekadar hubungan sekretaris umum-bendahara umum kan?
Dan itu benar-benar terbukti. Pasca pernikahan, saya seperti say hello dengan orang yang benar-benar baru.
Dzaky si Sekre Umum OSIS tentunya beda dengan Dzaky yang saya nikahi.
Ada idiom yang bilang, pernikahan mengelupas segalanya. Untuk perkara orang? Ya. Menikah benar-benar mengelupasi pasangan kita hingga ke sifat 'kulit mati'nya. Mulai dari yang bikin kita seneng sampe kesel seubun-ubun :p
Ga kebayang yak? Gini-gini... Sebelum nikah, akan sangat mudah seekali kita simpatik atau (bahkan) sampai jatuh cinta dengan dia yang nampak macho nan berwibawa sebagai si Ketua Lembaga. atau dia yang (kelihatannya) selalu tunduk tawadhu' nenteng Qur'an kemana-mana. Juga dia yang nampak keren ngisi materi di dauroh. Yah, create your own definition of future-husband deh! He..he..
Lalu, apa yang terjadi setelah nikah? Pernah kebayang kalau si macho tadi ngupi di depan mata? Atau si tawadhu' ternyata punya kebiasaan ngorok super-keras? Sedang si keren makannya banyak? porsi kuli pula, pernah kebayang?
Ga kebayang? Saya tebak, Anda pasti belum nikah :p
Nah.. nah.. keliatan kan kontrasnya dari contoh barusan. Itu baru perihal kebiasaan. Gimana kalau ketika Anda sudah menikah (katakanlah dengan si keren-pengisi-dauroh itu), ternyata orangnya super ga sabaran? (ehhh, ini contoooh.. jangan mendelik ke suami saya gitu doong :p). Lalu ketika Anda telat semeeniit saja dari janji dijemput pulang liqo, Anda menemukannya dengan wajah tekuk seribu. Ga banyak bicara. Melajukan motor. Nganter pulang. Daaan.. sesampainya Anda di rumah, tiba-tiba aja dia ijin mau ke bengkel padahal tadinya ga ada agenda kaya' gitu di jadwalnya. Gimana? Pernah kebayang?
Pernikahan saya dan Dzaky baru masuk tahun kedua. Tapi saya belajar baaaaaaaanyaaaaaakkk banget. bukan sekedar baaaaaaanyaaaaaaaaakkk, tapi buaaaaanyaaakkkk (Kalo kata Ka Cici mesti pake 'U' biar keliatan buaanyak-nya, hekekeke..). Somehow, pernikahan ini memang kaya' jadi perkenalan baru banget buat saya tentang Dzaky, dan saya pun yakin, begitupula yang dirasakan Dzaky mengetahui istrinya yang paling males beres beres rumah.
Di titik itu, saya jadi merenung.. Wah, kalo kaya' gini, memang sampai kapanpun saya ga bisa mendeklarasikan bahwa 'dia lah orangnya', terlebih sampe frase 'dia-lah yang Allah ridha'i untuk saya'. Jawaban itu cuma Allah yang pegang. Seperti yang Allah sampaikan: "Masuklah kalian ke dalam syurga beserta istri-istri dan keturunan kalian yang beriman". Sebelum sampai ke kehidupan kekal itu, bener kan sampai kapanpun kita ga akan tau?
Lalu gimana saat dihadapkan dengan beberapa pilihan jodoh? (Cieee... laku beneeer...)
Buat saya, pilihlah yang paling membuatmu tentram dengan keputusan itu. Ketika sudah mendekatkan diri denganNya, sedekat-dekatnya. Ucaplah Bismillaah, lalu pilih yang paling membuatmu tentram.
Selebihnya? Itu ikhtiyar.
Ikhtiyar penuh-sungguh untuk membuat rumah tangga jadi sakinah, waddah, nan rahmah.
Di tengah jalan nanti, akan sangat mungkin kau temukan buanyak perbedaan. Ada yang kau sukai; banyak pula yang kau murkai. Bahkan mungkin saya syaithan membawamu sampai pada prasangka: "Mungkin kalo gue ga nikah sama dia, ga akan kaya' gini jadinya"
Tapi tetaplah berjalan. tetaplah bergandengan dengannya. Tetaplah berdekatan. Tetap ikhtiyarkan. Senantiasa lah ingat: Ketika sudah melibatkan Allah dalam pengambilan keputusan, maka kesulitan bukanlah pertanda salah mengambil jalan! (kata-kata keren ini saya ambil dari Noi, sahabat seperjuangan sesama Ibu beranak satu di UI angkatan 2007)
Allah sembunyikan takdir, agar kita berusaha bukan? Itulah.. mungkin di sana pula ada hikmah, tentang kenapa kita ga akan pernah tahu apakah yang sekarang berjalan disisi adalah pendamping di syurga abadi. Supaya kita terus berusaha dan mensyukuri segala yang ada. Hingga nanti, ketika cinta berakhir di saat tak ada akhir..
Hey A'a, terimakasih untuk perjalanan 2 tahun ini:
“It’s not always rainbows and butterflies, it’s compromise that moves us along…”
(Maroon 5)
Tolong bawa aku dan anak-anak ke syurga ya? :')