Tampilkan postingan dengan label tamidzaky; cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tamidzaky; cinta. Tampilkan semua postingan

Doaku untukmu, Sayang..

Mirip judul lagu nya Wali? Emang! hehehe



saya ga terlalu suka sama lagu-lagu Wali. Ga pernah ngikutin juga.. tapi pertama kali denger lagu ini, apalagi nonton video clip-nya..., it feels like love at the first sight. 


kau mau apa, pasti kan ku beri

kau minta apa, akan aku turuti
walau harus aku terlelah dan letih
ini demi kamu sayang



aku tak akan berhenti
menemani dan menyayangimu
hingga matahari tak terbit lagi
bahkan bila aku mati
ku kan berdoa pada ilahi
tuk satukan kami disurga nanti



taukah kamu apa yang ku pinta
disetip doa sepanjang hariku
tuhan tolong aku tolong jaga dia
tuhan aku sayang dia



aku tak akan berhenti
menemani dan menyayangimu
hingga matahari tak terbit lagi
bahkan bila aku mati
ku kan berdoa pada ilahi
tuk satukan kami disurga nanti



(tuhan tolong aku juga jaga dia, tuhan akupun sayang dia)



aku tak akan berhenti
menemani dan menyayangimu
hingga matahari tak terbit lagi
bahkan bila aku mati
ku kan berdoa pada ilahi
tuk satukan kami disurga nanti



Itu yang di bold menurut saya yang "nendang" banget liriknya. Entah kenapa selalu suka suka sukaaa sama lagu-lagu cinta tapi yang bertema nya pernikahan atau konteksnya suami-istri. Lebih syahdu rasanya, ehehehe..

Dan saya selalu ter-ha-ru nonton video klipnya.. huhuhu.. Dzaky bilang lebay, tapi gak lama lagu ini dia download juga di bb-nya.. huihihi.. *gengsi ceritanya ya, Ay?*

mau download lagunya? bisa di sini


p.s. btw btw, saya lagi senang sekaliiii.. Indonesia masuk final sepak bola! Yeeeyyyy! Semoga Senin nanti bisa jadi dapetin medali emas yaa.. :D

panggilan sayang?

Suatu siang ketika si kecil sedang lelap..


B : "Bhiii."

A : "Hmmm..."

B : "Bhi! Dengerin ga siiii?"

A : "Iyaaa. kenapeee?"

B : (merengut) "Kenapa sih ga pernah panggil aku Sayang? atau panggilan sayang lain gitu?"

A : "Ampuuun.. nanya nya itu lagi.. Dek.. Dek.."

B : "Abis, aku baca blog-blog ituu.. para suami manggil Yang-Yang gitu sama istrinya. atau panggilan sayang lain gitu, kek.." (manyun)

A : "Aku kan punya panggilan sayang ke kamu lagi.."

B : "Apa? mana cooobaaa?"

A : "Dedek. Nah, aku manggil kamu kan selalu pake itu."

B : (berpikir pelan. Ah ya, suami ku memang ga pernah manggil "Bunda" kalo cuma lagi berdua)
     "Jadi itu panggilan sayang?"

A : (beringsut menatap mata sang istri). "Iyaaa.. itu panggilan sayang aku ke kamu, Dek.."



Untuk pengakuan setelah 2 tahun lamanya, Cinta..
makasih ya, Lelaki Penyabar ku :*





2 tahun kami

Suami saya..
Dia memang bukan lelaki yang rutin mengecup kening saya setiap hari. atau memanggil saya "Sayang". atau memeluk saya sebelum berangkat.
tetapi lelaki yang sama itu, belum pernah sekalipun membentak saya sejak awal pernikahan.


Suami saya..
Dia memang bukan lelaki yang memberi saya hadiah di saat-saat istimewa. Kado ulang tahun? saya belum pernah diberinya. sama sekali.
tetapi lelaki yang sama itu, tidak memejamkan mata ketika jarum jam bergerak dari tanggal 19 menuju 20 Juni, untuk setelahnya menjadi orang pertama yang mengulas senyum di fase usia baru saya.


Suami saya..
Dia adalah lekaki yang sering "berkomentar" saat saya belanja baju (lagi). mengingatkan saya untuk menahan diri: hal yang sangat jarang saya lakukan saat belum menikah.
tetapi lelaki yang sama itu, jarang sekali membeli baju untuk dirinya sendiri. Saya bahkan bisa menghitungnya dengan jari.


Suami saya..
Dia adalah lelaki yang membuat saya harus menawar saat belanja. berhemat agar kami bisa cukup makan sebulan ke depan.
tetapi lelaki yang sama itu, selalu menyempatkan diri mengajak saya menghibur diri: entah menonton ataupun sekadar jalan-jalan ke Salman.


Suami saya..
Dia memang bukan lelaki yang selalu menawarkan bantuan untuk memegang anak ketika sang Ibu punya urusan. dia akan baru bergerak saat si anak mulai menangis.
tetapi lelaki yang sama itu, membatalkan agenda nya hanya karna Istri nya terlambat bangun untuk masak, sedang si anak merengek minta digendong. dia lelaki yang ketika saya bertanya meninggi, "Kenapa ga pergi hari ini?"; hanya menjawab, "Habis kamu minta aku pegang 'Qilla, aku ga tega lah pergi.."


Suami saya..
Dia memang bukan lelaki yang mendatangi saya dengan pekerjaan tetap, rumah layak, kendaraan lengkap, dan dompet tebal.
tetapi lelaki yang sama itu, selalu mengajak saya melejitkan mimpi kami akan kebebasan finansial beberapa tahun mendatang. Lelaki yang memutus untuk merintis bisnis sendiri, agar senantiasa memiliki waktu buat anak istri.


Suami saya..
Dia memang lelaki yang seringkali terlihat kurang di mata saya. Lelaki yang sering sekali saya kritik ke-alpaan-nya. Saya komentari keminusannya.
tetapi lelaki yang sama itu, tidak pernah mengeluh tentang keburukan saya baik di depan orang lain maupun langsung di depan saya.


Suami saya..
Dia memang bukan lelaki yang pandai memuji.
tetapi lelaki yang sama itu, selalu menghargai apa yang saya masak. jika suka, ia memakannya. jika tak suka, cukup ia tinggalkan.


Suami saya..
Dia memang bukan lelaki yang selalu membawa buah tangan untuk para mertua dan orang tua.
tetapi lelaki yang sama itu..., ah.. saya sungguh tahu birrul walidain nya. Itu yang membuat saja jatuh cinta berjuta kali padanya.


Suami saya..
Dia memang lelaki yang masih harus di bangunkan berkali-kali saat adzan shubuh bertalu.
tetapi lelaki yang sama itu, adalah lelaki yang lisannya jauh dari mengomentari perilaku orang lain.

Suami saya,
adalah cinta pertama yang melingkupi saya dengan kesakralan, saat yang lainnya hanya mampu menawarkan kenikmatan.


Suami saya,
memang tak selalu tampak indah di pandangan saya. 
tetapi saya sadari, pun begitu adanya saya di penglihatannya.

kelak, ketika kau tanya padaku 
"Kenapa cinta sama A'a?"
maka semoga imanku menjawab,
"Karena Allah mewajibkan istri untuk mencintai suaminya.."

Sebab hanya alasan itu lah,
yang akan membuat baktiku tak berubah 
di segala cuaca rumah tangga kita
sebab Allah selalu ada
sebagai alasan dari semua cinta..

dan di 18 Juli 2011 ini, saya kembali luruh.. 
bukankah memang Allah sebaik-baik tempat bergantung?



Cincin Yang Retak

Bukan judul sinetrooon, sodara-sodara...
ini tentang cincin kawin saya. Retak? yak, betul. R-E-T-A-K. cincin yang dilekatkan sama Ummi sejak lamaran 2 tahun yang lalu, dinyatakan secara resmi retak hari ini.

Apa pasal? kepentok dinding waktu nahan kepala 'Aqila. ya iyalah yaa.. mending cincin daripada kepala anak gw yang retaaaak >.<


Jadi sodara-sodara, jangan kaget yaa kalo ntar ketemu saya sudah tidak bercincin lagi.. soalnya retak cukup parah.. kalo terus-terusan dipake bisa belah jadi dua..

Sedih ga? Iya! iya banget! soalnya kan itu legitimasi sosial kalo saya itu sudah bersuami, hihihi..

tapi ada satu yang cukup menghibur:
ternyata waktu liqo kemarin, saya perhatiin jemari para temen liqo saya. Dan merekaaa... tidak bercincin!
cukup menghibuur, mengingat temen-temen liqo saya itu usia pernikahannya minimal sudah 4 tahun.. bahkan ada yang baru milad pernikahan yang ke-17! hihihi..

ga mutu ih postingannya.. hehe, sekali-kali ah! berhibur kan tiada salahnya.

-di sela-sela menunggu si Abhiw pulang liqo' (sigh, kenapa ikhwan itu liqo'-nya malem sih? hehe)-

Is he the one?

Sejak saya menikah, pertanyaan yang paling sering orang-orang tanyakan pada saya (selain kalimat-tanya-seribu-ummat "Kapan hamil?" itu), adalaaaahhh... "Kenapa dia?"


Yap. dari milyaran kaum lelaki di muka bumi ini, kenapa saya pilih Dzaky? atau yang lebih krusial lagi, kenapa saya yakin bahwa Dzaky lah seseorang itu? Quite hard to answer, actually. Percayalah... sampai milidetik terakhir menuju pengucapan akad pun, saya masih bertanya-tanya, "Duhai Allah, inikah dia? darinya kah tulang rusuk itu Kau ambil?"


Saya kenal Dzaky sudah dari SMP. Berlanjut ke SMA yang sama. Walaupun beberapa kali kami ada di satu amanah, cukup sering interaksi, tapi tentunyaaaa... kehidupan suami-istri itu jaauuuhhh beda sekali dengan sekadar hubungan sekretaris umum-bendahara umum kan? 
Dan itu benar-benar terbukti. Pasca pernikahan, saya seperti say hello dengan orang yang benar-benar baru. 
Dzaky si Sekre Umum OSIS tentunya beda dengan Dzaky yang saya nikahi. 


Ada idiom yang bilang, pernikahan mengelupas segalanya. Untuk perkara orang? Ya. Menikah benar-benar mengelupasi pasangan kita hingga ke sifat 'kulit mati'nya. Mulai dari yang bikin kita seneng sampe kesel seubun-ubun :p


Ga kebayang yak? Gini-gini... Sebelum nikah, akan sangat mudah seekali kita simpatik atau (bahkan) sampai jatuh cinta dengan dia yang nampak macho nan berwibawa sebagai si Ketua Lembaga. atau dia yang (kelihatannya) selalu tunduk tawadhu' nenteng Qur'an kemana-mana. Juga dia yang nampak keren ngisi materi di dauroh. Yah, create your own definition of future-husband deh! He..he..
Lalu, apa yang terjadi setelah nikah? Pernah kebayang kalau si macho tadi ngupi di depan mata? Atau si tawadhu' ternyata punya kebiasaan ngorok super-keras? Sedang si keren makannya banyak? porsi kuli pula, pernah kebayang?


Ga kebayang? Saya tebak, Anda pasti belum nikah :p


Nah.. nah.. keliatan kan kontrasnya dari contoh barusan. Itu baru perihal kebiasaan. Gimana kalau ketika Anda sudah menikah (katakanlah dengan si keren-pengisi-dauroh itu), ternyata orangnya super ga sabaran? (ehhh, ini contoooh.. jangan mendelik ke suami saya gitu doong :p). Lalu ketika Anda telat semeeniit saja dari janji dijemput pulang liqo, Anda menemukannya dengan wajah tekuk seribu. Ga banyak bicara. Melajukan motor. Nganter pulang. Daaan.. sesampainya Anda di rumah, tiba-tiba aja dia ijin mau ke bengkel padahal tadinya ga ada agenda kaya' gitu di jadwalnya. Gimana? Pernah kebayang?


Pernikahan saya dan Dzaky baru masuk tahun kedua. Tapi saya belajar baaaaaaaanyaaaaaakkk banget. bukan sekedar baaaaaaanyaaaaaaaaakkk, tapi buaaaaanyaaakkkk (Kalo kata Ka Cici mesti pake 'U' biar keliatan buaanyak-nya, hekekeke..). Somehow, pernikahan ini memang kaya' jadi perkenalan baru banget buat saya tentang Dzaky, dan saya pun yakin, begitupula yang dirasakan Dzaky mengetahui istrinya yang paling males beres beres rumah.


Di titik itu, saya jadi merenung.. Wah, kalo kaya' gini, memang sampai kapanpun saya ga bisa mendeklarasikan bahwa 'dia lah orangnya', terlebih sampe frase 'dia-lah yang Allah ridha'i untuk saya'. Jawaban itu cuma Allah yang pegang. Seperti yang Allah sampaikan: "Masuklah kalian ke dalam syurga beserta istri-istri dan keturunan kalian yang beriman".  Sebelum sampai ke kehidupan kekal itu, bener kan sampai kapanpun kita ga akan tau? 


Lalu gimana saat dihadapkan dengan beberapa pilihan jodoh? (Cieee... laku beneeer...)
Buat saya, pilihlah yang paling membuatmu tentram dengan keputusan itu. Ketika sudah mendekatkan diri denganNya, sedekat-dekatnya. Ucaplah Bismillaah, lalu pilih yang paling membuatmu tentram. 
Selebihnya? Itu ikhtiyar. 
Ikhtiyar penuh-sungguh untuk membuat rumah tangga jadi sakinah, waddah, nan rahmah. 


Di tengah jalan nanti, akan sangat mungkin kau temukan buanyak perbedaan. Ada yang kau sukai; banyak pula yang kau murkai. Bahkan mungkin saya syaithan membawamu sampai pada prasangka: "Mungkin kalo gue ga nikah sama dia, ga akan kaya' gini jadinya"
Tapi tetaplah berjalan. tetaplah bergandengan dengannya. Tetaplah berdekatan. Tetap ikhtiyarkan.  Senantiasa lah ingat: Ketika sudah melibatkan Allah dalam pengambilan keputusan, maka kesulitan bukanlah pertanda salah mengambil jalan! (kata-kata keren ini saya ambil dari Noi, sahabat seperjuangan sesama Ibu beranak satu di UI angkatan 2007)


Allah sembunyikan takdir, agar kita berusaha bukan? Itulah.. mungkin di sana pula ada hikmah, tentang kenapa kita ga akan pernah tahu apakah yang sekarang berjalan disisi adalah pendamping di syurga abadi. Supaya kita terus berusaha dan mensyukuri segala yang ada. Hingga nanti, ketika cinta berakhir di saat tak ada akhir.. 




Hey A'a, terimakasih untuk perjalanan 2 tahun ini:
“It’s not always rainbows and butterflies, it’s compromise that moves us along…” 
(Maroon 5)
Tolong bawa aku dan anak-anak ke syurga ya? :')



Catatan Terakhir



Terjagalah dari segala maksiat
dari segala zina dan nafsu dunia yang sesat
disatukan dalam karunia yang suci
bersama  jiwa-jiwa yang selalu haus akan ibadah dan penuh harga diri

Ini bukan cerita cinderella
bukan juga patah arang cinta buta siti nurbaya
tak dapat diukur tapi bersama Allah semua pasti akan teratur

dinyatakan dalam ketulusan dari mutiara ketakwan yang sangat mendalam
bersemi dari pupuk akhlak yang hebat
berbuah dalam kesabaran dan ketekunan yang lebat

tidak, ini takkan dimengerti oleh hati yang penuh dengan dusta
yang buta oleh warna-warni dunia yang fana

ini hanya untuk mereka yang selalu ingin luruskan keteladanan bagi generasi berikutnya
keteladan abadi dalam harum kesturi dan buah ibadah
dan menjadi manis seperti kurma di awal rembulan yang indah
untuk selalu berjalan dalam kesetiaan dan harapan
dan hanya mencium atas dasar kemurnian kita berkata cinta

karena bukan apa siapa dan bagaimana!
tapi luruskanlah dalam wangi surga
karena apa sebenarnya kita berani berkata cinta?


inilah cinta sejati
cinta yg tak perlu kau tunggu
tapi dia tumbuh bersama doa malam yang teduh
tak tersentuh oleh mata dunia yang palsu

petunjuk yg selalu datang dari ruang para malaikat
yang sanggup melihat tak kenal pekat
tak lekang oleh zaman yang kan terus melaju
takkan habis oleh waktu

karena kecantikaanya tersimpan di hati
dalam pesona yang selalu menjaga jiwa
yg menjadikan dunia menjadi surga sebelum surga sebenarnya
yang membuat hidup lebih hidup dari kehidupan sebenarnya

seperti sungai yang mengalir
bening airnya-pun selalu artikan keseimbangan syair
yang satukan dua perbedaan dalam satu ikatan
untuk melihat kekurangan sebagai kesempatan
dan kelebihan sebagai kekuatan

lalu saling mengisi seperti matahari dan bulan
dalam kesetiaan dan ruang kesolehan dan kasih sayang
bagi sejarah penutup halaman terakhir perjalanan para ksatria sastra jihad dan dakwah
tercatat dalam untaian rahmat

berakhir dalam catatan terakhir yang mulia
digariskan hanya oleh ketetapan Allah Subhana Wata'ala 

(Catatan Terakhir-Thufail Al Ghifari)


Ah, lagi-lagi kami merasa kecil.. kecil sekali dari kesempurnaan syari'atNya.
Allah, Engkau lah sebaik-baik peraduan.. 

Tami & Dzaky,
mengenang degup gemuruh hati kami 1 tahun - 6 bulan - 2 pekan - 6 hari yang lalu:
inilah yang kau sebut dengan taqdir: Saat ikhtiyar dan do'a mu terlengkapi oleh kehendakNya..

Search

 

Followers

Rumah Bahagia ^__^ Copyright © 2011 | Tema diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger