Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan

Selalu ada

Selalu ada alasan untuk kita bersyukur setiap hari.

atas terbukanya mata di shubuh ini, atas sejuknya pagi yang merambati, atas tiap rantai oksigen yang terhirupi.

Demi Allah, setiap detik yang bergerak adalah kesyukuran atas ni'mat-ni'matNya..

Bagi saya, lebih banyak lagi alasan untuk saya bersyukur setiap hari.
untuk 21 tahun kehidupan. tentang suami yang begitu baik. anak perempuan sehat. serta tempaan pendewasaan yang diberikan olehNya sepanjang jalan pelangi ini.

Ya, setiap gerakan masa sesungguhnya pemaknaan dariNya betapa kasihNya sungguh luas, tiada terperi..

"Menakjubkan urusan setiap muslim itu", ujar Rasulullah. "Sebab setiap kejadian adalah kebaikan baginya. Ketika ia diberi karunia, ia bersyukur. Dan ketika ia diuji, maka ia bersabar." Lanjutnya, "Dan keduanya itu adalah baik baginya.."

Tersebab hadits itu, seharusnya tidak ada yang tidak bisa saya syukuri dalam hidup ini. Bahagia, pun cobaan. Sebab Rasul berkata, keduanya adalah kebaikan. Sebab tugas kita memang hanya dua: berusaha dan berdo'a. Lalu selanjutnya, cukup letakkan pada Ia. Allah sendiri yang akan mengurusnya..

Ya.. sebab jika kebahagiaan adalah mentari dan kesedihan adalah hujan, maka kau butuh keduanya untuk bisa melihat pelangi..

Dan untuk semua itu,
Rabb, aku sungguh bangga menjadi penyembahMu.. :')

Tak perlu jauh ke Lirang..

Impian saya sejak SD adalah: jadi Guru.

Sampe kuliah, mimpi saya belum berubah. Hanya saja, frasenya bertambah:
jadi guru di pedalaman
bahkan ya, dulu itu saya bercita-cita bakal masuk ke pedalaman, ngajar anak-anak ga mampu disana.. terus nikah sama kepala suku biar satu suku itu masuk Islam semua. hehehe..
Kayaknya kalo gerakan Indonesia Mengajar udah ada pas tahun pertama jadi mahasiswa, mungkin saya ga akan memutuskan buat nikah saat kuliah.

Nah, setelah nikah, pekerjaan saya adalah: mahasiswa

Setelah 'Aqilla lahir: Mahasiswa tingkat akhir yang lagi ngerjain skripsi

Setelah skripsi: Ibu rumah tangga

Hehe.. Menikah itu memang bukan sekedar menyatukan status, tapi segalanya! fisik, mental, kebiasaan, sampaaaiii.. visi-misi.

Jadi sodara-sodara, suami saya adalah tipikal suami yang lebih senang istrinya di rumah. bukan masalah di rumahnya sih, tapi lebih ke full ngedidik anak. walaupun ART kami apik menjaga anak, dan TPA (Tempat Penitipan Anak) udah menjamur seantero Bandung, tetep aja suami prefer saya yang pegang penuh. Selain faktor ketidakpercayaan, memang tugas utama saya kan jadi Ibu, ya? Hehehe.. Itulah suami saya.

Saya? Awalnya setujuuu! Gimana nggak coba? jadi ibu rumah tangga kan waktunya luang banyak! hehehe.. Anak tidur, bisa nge-net. Ga perlu bangun subuh-subuh buat siap-siap ngantor.. ga perlu kena macet.. ga perlu mendamaikan hati yang kesel karena pulang saat si kecil udah lelap.. ga perlu banyak hal deh pokoknya! (dear working Mom, u're great :)


Jadilah saya menjalani pekerjaan mulia itu selama beberapa bulan pasca sidang skripsi. Tapi lambat laun, saya mulai gerah.. heee, bukannya saya bosen jaga anak loh yaa.. main sama 'Aqilla yang energinya ga abis-abis itu luar biasa menyenangkan! (Ouh, oke, minus adegan makanan tumpah dan nasi berhamburan dimana-mana). cumaa saya itu dari jaman masih muda (eh, sekarang juga masih kok! :p), udah kebiasaan kocar kacir kesana kesini.. jadi lah saya ngalamin yang namanya.. engg.. apa ya nyebutnya culture shock? apa marriage shock? hehehe.. pokoknya rasa kaget gitu dengan rutinitas yang berubah banyak.

Sampai akhirnya saya minta izin ke Dzaky buat kerja.. Dzaky ngijinin sih. Walau setengah hati, huihihi.. Bayangkan aja, pas saya minta izin ke 'Aqilla buat kerja, Dzaky nimpalin: "Iya, Qilla.. Bunda nya mau kerja biar bisa belanja muluuu.." Aih, jadi ga enak kan ketahuan motivasi aslinya. wkwkwkw..

Setelah izin keluar (iye, masih setengah hati!), mulailah saya searching lowongan.. Singkatnya, saya berhasil sampe tahap wawancara. tapi belum rizqi. Saya coba kirim ke beberapa perusahaan, belum juga ada panggilan. tiba-tiba aja saya diminta tolong buat ngajar PAUD (pre-school gitu..) di daerah Cipaganti. PAUD ini sifatnya pro-bono (coba googling aja yak, artinya apa. hehehe..). tadinya saya cuma jadi guru bantu, tapiii.. tiba-tiba aja guru utamanya mundur karna ga punya cukup waktu. jadilah saya: guru utama, sekaligus guru bantu sekalian pembuat kurikulum dan kegiatan.

Jadi, aktivitas saya sekarang adalah ngajar PAUD tiap Senin-Rabu-Jumat pukul 09:00-11:00.
Dzaky gimana? Wah, dia mah lebih seneng saya kerja yang pro-bono-an gini.
'Aqilla? apalagi, soalnya dia bisa ikut! bahkan boleh masuk kelas selama saya ngajaaar! Dzaky senengnya dobel tuh: Saya tetep bisa pegang 'Aqilla full.
Saya? Senang! karena akhirnya bisa punya aktivitas di luar rumah seperti dulu.. in the name of self-actualization, mari ramai-ramai kita salahkan Bapak Maslow untuk hal ini, hihihi

Allah itu memang unik yaa dalam mengabulkan do'a..
keinginan yang saya rapal bertahun-tahun lalu ternyata dikabulkan justru di saat saya sudah tidak berani memimpikannya lagi.
Saya memang tidak menyusuri kecipak rawa dan lebatnya hutan di pedalaman. Saya tetap disini bersama para jantung hati saya.
Tetapi di tempat yang sama pula, Allah pertemukan saya dengan 60 pasang mata bening yang selalu berbinar di tiap Senin-Rabu-Jumat itu.
juga belasan senyum Ibu-Ibu yang semangatnya menyala tiap mengantar anak-anak mereka.
serta tangan-tangan kecil yang berebut memasukka uang -seadanya dan semaunya- ke dalam kencleng hijau kecil di sudut ruang.
di tiap pasang mata, senyum, dan uluran itu saya tahu, ada harap yang bertumpuk pada PAUD sederhana ini: memberikan bentuk pendidikan yang lebih baik untuk anak-anak mereka

Tahukah kawan, bahagia itu adalah sebuah senyawa yang unik. Tidak ada rumusan zat maupun molekul yang bisa menafsirkannya. bahagia bisa datang dari pintu-pintu yang tidak terduga. seperti sekarang ini: jika beberapa bulan yang lalu saya sedang bahagia dengan angan gaji berdigit tujuh di salah satu tempat yang nyaris menerima saya; sekarang ia menjelma dari senyum nakal murid-murid di pagi hari.

dan tahukah? bahagianya lebih berlipat! puasnya lebih berpangkat!

Sepotong roti yang engkau makan di suatu sudut
Segelas air putih dingin yang engkau minum dari mata air
Kamar bersih tempat engkau menenangkan dirimu
Isteri patuh yang membuat engkau puas dengan melihatnya
Anak perempuan kecil yang dikaruniakan kesehatan
Rizqi yang tidak kau sangka-sangka sumbernya

Allah menetapkanmu menjadi seorang da'i
Di suatu masjid terpencil untuk menghilangkan kerusakan
...
Adalah lebih baik daripada waktu yang engkau habiskan di istana-istana megah
(Muhammad Shalih Al Munajjid)


Tak perlu jauh ke Lirang, do'a saya sudah bertemu dengan takdirNya di langit.
Allah itu Maha Baik.. di segala cuaca kehidupan kita.. :')

Seteru yang Saling Mencinta

Ramadhan ini, saya lagi baca ulang buku "Jalan Cinta Para Pejuang"nya Salim A. Fillah.
Fyi, buku itu udah saya beli dari kuliah tingkat 2 dan langsung saya tamatkan di hari itu juga. tapi ga tau kenapa.. justru efek membadai isi bukunya baru saya rasakan pas sesi baca yang sekarang ini.

Ada satu kutipan yang bener-bener bikin saya bergetar..

"Cintailah siapapun yang kau damba! Tetapi ingat, kelak kau kan berpisah dengannya jua.."
(Ucapan Jibril pada Rasulullah Muhammad SAW)

Aih, membacanya seperti menggeruskan dinding-dinding hati saya yang kotor luar biasa ini..

Sejujurnya saja, setelah menikah (terutama), tanpa sadar saya jadi merasa "memiliki" semua yang ada saat ini. Dzaky, misalnya. Ya.., saya (tanpa sadar) merasa memiliki Dzaky. Lupa kalo Dzaky pun bisa diambil sewaktu-waktu. Efeknya apa? Saya jadi kelewat tergantung. Kemana-mana mesti dianter lah. Susah ngambil keputusan lah. Sampe ancaman saya ke Dzaky tentang poligami (Huahahua,, ini mah gara-gara nonton PPT 5! :p).
Saya jadi lupaaaa.. kalau Dzaky cuma titipan.. kalau kebersamaan kami saat ini cuma sementara. kalau pada akhir perjalanan... saya bersendirian. Ya.. untuk urusan ibadah pun, (Allah, ampuni..), saya jadi SANGAT tergantung dengannya. termasuk dalam hal melejitkan 'amalan.


Rabbi, saya lupa bahwa di kubur nanti hanya kan ada saya dan 'amalan seorang diri..


Hiks, sedih sungguuuh kalau muhasabah untuk yang satu ini.. Saya merasa berkhianat padaNya.. pada 'amalan-'amalan saya.. harusnya tanpa Dzaky pun, 'amaliyah saya terjaga.. sebab bukan karna Dzaky saya beribadah.. seharusnya hanya pada Allah saya abdikan diri..

Allah.., tauhid saya terluka..




Padahal gambaran Kalam Allah sungguh nyata, tentang hari itu..
hari dimana mereka yang saling mencinta, sungguh mungkin saling berseteru..

"Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari al-Qur’an, ketika al-Qur’an telah datang kepadaku. Dan syaitan itu tidak akan menolong manusia”. 
(Al-Furqaan : 27-29)


"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa." 
(QS. Az-Zukhruf: 67)


See? Cinta saya ke Dzaky ataupun sebaliknya sungguh ga menjamin bahwa kami ga akan berseteru di hari akhir..


Huwooo.. saya jadi makin mellow :"(
Apalagi di bulan Ramadhan ini, banyak banget dapet berita duka.. mulai dari Kakaknya temen, Ibu si kembar tiga (Allah, saya iri akan syahidnya.. izinkan.. izinkan.. :'), sampe yang terakhir Sahur On The Roadnya SMAN 28. Semua mengaduk tanya, "Akankah ini Ramadhan terakhirkuu?"


Omong2 tentang berita duka.. saya jadi keinget seorang adik kelas yang meninggal karna kecelakaan. Adik kelas itu perempuan, punya pacar.. sebut saja namanya F. Nah si F ini status fb sediiih mulu pas awal-awal bulan meninggalnya si adik. Pake bilang everlasting love segala, dan kawan kawan sejenisnya. Saya aja sampe terharu bacanya.. Eh tapi barusan saya cek, statusnya udah girang lagi (kalo g salah ini belom sampe bulan keenam meninggalnya si adik kelas). Ternyata, si F ini udah punya pacar lagi.. Dan status fbnya sekarang sama kayak status fb di awal-awal si adik meninggal. pake everlasting love2an segala. 


Bedanya?
Yap. Bedanya si objek sekarang udah ganti. Udah dapet pacar baru.


Duh, saya jadi belajar lagi... Betapa pada akhirnya kita benar-benar akan sendirian menghadapNya.
Pada saat meninggal, mungkin ada banyak yang menangis.. merindukan.. menulis status fb tentang duka yang mendalam.. dan  semacamnya.


Tapi bagaimana dengan 6 bulan, setahun, lima, atau sepuluh tahun kemudian?
Masihkah mereka berselimut duka yang serupa?


Allah.. ternyata hanya sampai situ arti sebagai manusia..


Ah ya, belum lagi membaca twit terakhir korban SOTR SMAN 28.. (dicek sendiri yaa.. ga tega nulisnya..); lalu membandingkannya dengan kematian seorang Ibu yang berjuang demi hidup kembar tiganya.
Keduanya diberi Allah hak hidup yang sama.
Tetapi cara mereka mengakhirinya yang kemudian menjadi pembeda.


Ah.., kematian memang hal ghaib yang tersimpan rapi di sisiMu..


Haaaa.. tuhkan jadi mellow lagi.. T_T


Allah, berikanku sebaik-baik akhir hidup.. sebaik-baik kawan perjalanan..


Dan untukmu, sesiapapun yang membaca, semoga kita pun nanti tidak kan saling seteru di hari akhir.. semoga pada kita lah Firdaus memanggil-manggil..


meski sungguh, jauuuh sekali diri ini dariMu..







Search

 

Followers

Rumah Bahagia ^__^ Copyright © 2011 | Tema diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger