Tampilkan postingan dengan label anakanak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anakanak. Tampilkan semua postingan

Numero Uno


“Happy Mom,
 raises happy kid(s)!”
— Ibu-ibu sedunia



Persiapan yang musti dibawa beberapa minggu ke depan!

Bismillaah..

35 Minggu. Yap, akhirnya Ummi dan Chiwa sampai pada tahap ini.. 6 minggu lagi! (ato lebih cepat, mungkin, hehe..)

Di pekan ke-35 ini, saya sudah rajin meng-googling macem-macem info tentang pra, persalinan, juga pasca. cuma senam hamil aja nih yang belom dilakuin *bandel.
Mudah-mudahan aja pas udah di ruang persalinan nanti, ga mati gaya di depan bidan cuma gara-gara belom tau posisi melahirkan yang baik dan benar. hehehe..

Untuk kali ini, saya ingin memberi info tentang berbagai macam "perkakas" yang kudu disiapin mulai pekan ke-36 nanti, untuk bersiap dibawa kapan aja si Chiwa mau keluar (weekend aja ya, Cantik.. pas Ummi libur kuliah, okey? ^_^)

Perlengkapan Ummi:

  • Dompet ( KTP, ATM, Uang Cash )
  • Al-Qur'an
  • Jilbab segitiga & jilbab bergo & daleman jilbab (kayaknya mah bergo aja ya, lebih simpel..)
  • Peniti & Bros
  • Hp berisi mp3 lagu & charger ( untuk ilangin stress, tegang, dll sebelum & sesudah melahirkan)
  • 1 gamis untuk pulang
  • 3 Baju ( blus ) / gamis) Kancing depan untuk menyusui
  • 3 Kain panjang / kain bentuk sarung (Better bentuk sarung biar dipakenya lebih gampang)
  • 3 Kimono ( jaga2 kalo ribet pake blus kancing depan & kain sarung )
  • 6 atau lebih Pakaian dalam
  • 2 Gurita ibu
  • Kaos kaki ( jaga2 kalo kedinginan )
  • 2 atau 3 bra menyusui
  • Pembalut bersalin untuk darah nifas
  • Sandal Ungu untuk ke kamar mandi dan jalan-jalan
  • Hp & Charger ( buat SMS temen-temen kasih tau kabar bahagia...)
  • Cemilan & minuman
  • Perlengkapan Make up ( biar teteup cakep. Hihihi...)
  • Buku2 ato majalah ( untuk ngisi waktu luang )
  • Perlengkapan Mandi ( sabun, sikat gigi, odol, shampo, deodorant, colonge, handuk )
  • Baby oil
  • Body lotion

Perlengkapan Chiwa:
  • 2 pasang Baju newborn ( untuk pulang dari RS. Karena slama di RS, pake baju dari RS )
  • 2 Topi bayi
  • 2 pasang Sarung tangan bayi
  • 2 pasang Kaos kaki bayi
  • 2 Gurita bayi ( utk jaga2, walopun ada beberapa RS yang ga menganjurkan utk dipake )
  • 2 - 5 Diapers ( new born diapers ) / Cloth diaper
  • 2 helai Bedong bayi
  • Selimut yang ada topi nya ( untuk setelah pulang dari rumah sakit )

Perlengkapan Abi:
  • Dompet ( KTP, Uang Cash, ATM )
  • Camera Digital + Charger ato HandyCam + Charger
  • Peralatan Mandi ( Sabun, Shampo, Deodorant, Sikat gigi, Odol, Cukuran, handuk )
  • Baju ganti + Pakaian dalam
  • Sendal jepit
  • Cemilan & minuman
  • Hp & Charger
  • Al-Qur'an + Sarung + Sajadah

Hoo, nge-post ini membuat saya makin ga sabar bertemu Shalihat kami beberapa minggu lagi.
Ayo, Chiw.. kita banyak-banyak do'a ya.. see u in the next 5 weeks..  ^__^

"Dasar, anak bodoh!" *Loh, siapa yang bodoh sebenarnya? -renunganbuatorangtua-



Bismillaah..

Pernah mendengar ucapan berikut ini,?

"Dasar, anak bodoh!"

atau,

"Ih, kamu, susah banget sih diajarin! Udah bolak-balik dijelasin, ga ngerti-ngerti juga!"

pun yang parah,

"Bego banget sih, kamu! Capek Mama ngajarin, percuma!"


Menghardik anak dengan hal-hal yang bisa mengerdilkan jiwanya.
Yap, Labelling, begitu istilah psikologi menyebutnya.

Fenomena ini unik, menurut saya.
Menyebut anak dengan stigma buruk, sepertinya sudah menjadi kebiasaan "awam" dari banyak orangtua negeri ini. Bahkan sedari si anak masih mungil! Ga percaya? Coba, saya tes, berapa kali pernah denger ada orangtua yang asyik menimang-nimang anaknya sembari berucap,
"Iiih.., anak jelek siapa sih iniiiii?"


Saya sih cuma bisa nyengir aja dengernya. Hwalah, anak sendiri kok dibilang jelek. he.. he.. he..

******************************

Well, kembali lagi ke hardikan "bodoh" pada anak.
Entah ya, ini berdasar perenungan sendiri selama 34 minggu kehamilan saya. Saya merasa sangat tidak adil dan berat sebelah ketika ada orang tua yang dengan mudahnya menyebut si anak dengan label "bodoh".

Bodoh itu biasanya berhubungan dengan intelegensi, maka anak yang nilai ulangannya buruk di sekolah, jadilah ia bodoh bagi orang tuanya.
Bodoh juga biasanya dihubungkan dengan keberhasilan. Maka anak yang gagal melakukan sesuatu, mudahlah si orang tua mencelanya dengan ucapan bodoh. Padahal belum tentu sesuatu yang ingin dicapai itu, benar-benar berasal dari kemauan si anak.
Biasa pula bodoh berkenaan dengan kepatuhan. Sehingga anak yang susah sekali diberi nasihat, sukar diberi masukan, ia lah anak yang bebal. Bodoh, lagi-lagi itu yang keluar dari lisan orang tuanya.

Sekali lagi, saya katakan, saya merasa bahwa hal tersebut tidak adil. sangat tidak adil.

Mengapa?
Sebab, tahukah orang tua, ketika kau menghubungkan bodoh itu dengan intelegensi, ketahuilah bahwa pembentukan sel otak terjadi selama si anak berada di empat minggu pertama kandungan Ibunya.
Maka kecerdasan itu bergantung pada asupan gizi dan nutrisi sang Ibu. Jika yang dikonsumsinya baik, cemerlang lah sel otak si anak.
Bukan.. bukan salah si anak jika cerdasnya tak melampaui ekspektasi orang tua.

Ketika kebodohan disandingkan dengan keberhasilan, renungilah bahwa si anak pun sejatinya tak menginginkan adanya kegagalan. Ketahuilah bahwa kegagalan itu memberikan kesedihan. Dan dengan orang tua yang sibuk menyebutnya, "bodoh". jadilah ia, sedih kuadrat.

Lalu, saat kebodohan diartikan dalam ketidakpatuhan, bukankah kita -orang tua- yang mendidiknya sedari kandungan? Bukankah lisan, laku, juga gerak-gerik kita yang kelak berkontribusi pada karakter si anak yang menjadi suka melawan dan membantah? Bukan kah kita -keluarga- yang seharusnya berperan porsi besar dalam pembentukan jiwa nya?

*******************************************************
"Dan hendaklah takut (kepada Allah), orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraannya).."
Q.S. An-Nisaa (4): 9


Maka (para) orang tua, jauh jauh jauh sebelum lisan mu mengecap sang sibiran tulang dengan stigma negatif yang mematikan jiwanya, sudahkah kau menunjuk dadamu dan bertanya,
"Sudahkah aku mendidik anakku dengan cintaNya?"

Keluarga yang menginspirasi..

Bismillaah..

Sore itu, aku dan A'a meluncurkan sepeda motor ke kawasan Juanda, Depok, untuk bertandang ke rumah salah seorang kakak kelas kami di SMA dulu. :)

Tidak ada maksud khusus, hanya kasih sayang dan rindu ukhuwwah lah yang membuat kami melangkahkan kaki ke sana. Selain itu, sang istri tuan rumah juga baru saja melahirkan anak keduanya sedang kami belum juga sempat menjenguk.

Bang Erwin dan Mba NW, begitu kami biasa menyapa keduanya. Dua orang alumni SMAN 13 yang sama-sama berasal dari angkatan 1999. Keduanya pun melanjut ke UI. sang suami di FT, sedang istrinya di FMIPA. Mereka menikah ketika aku dan Dzaky masih duduk di kelas XI SMA. Kebetulan, Dzaky jadi salah seorang panitia walimah mereka dulu.
Bang Erwin dan Mba NW sudah dikaruniai dua orang jagoan yang shalih, Fathi dan Azka, namanya.

Keluarga mereka adalah keluarga spesial yang menginspirasi! 4 jam kunjungan kami benar-benar terbayarkan dengan berbagai ilmu yang bermanfaat. tentang parenting, khususnya. Alhamdulillaah, mungkin ini yang disebut dengan berkah silaturrahim.
Selama ini, sudah banyak teori yang saya pelajari tentang perihal urus-mengurus anak ini. Tapi ternyata, kunjungan singkat ke keluarga mereka jauh lebih mendidik saya dibanding setumpuk teori psikologi! ;) he he he..

Benar-benar keluarga yang menginsipirasi! Maka saya dan suami pun ga heran melihat Fathi, anak pertama mereka, sudah fasih berbicara di usianya yang menginjak 2 tahun. bukan hanya sekedar berbicara, tapi isi bicaranya jauh dari kata-kata kotor dan ga pantas, seperti yang dewasa ini banyak saya dengar dari anak-anak tetangga. Fathi juga sudah lancar berdo'a. Bukan cuma hapal! tapi ia pun selalu mengucapnya sebelum melakukan aktivitas-aktivitas.
Kalo Azka? hehe.., saya ga bisa observe lebih jauh. karna waktu kami bertandang ke sana, Azka masih jadi bayi mungil berusia 3 bulan. tapi, dari perlakuan Ummi Abi nya, saya sih bisa mastiin, insyaallah Azka akan jadi se shalih kakaknya. Amiiiin.. ^__^

Nah, berdasarkan observasi kecil-kecilan yang kami lakukan pada keluarga ini, ternyata Bang Erwin dan Mba NW memang menerapkan konsep parenting yang baik. juga Qaulan Sadida. Apaan tuh? hehe, makannya baca postingan saya yang ini.

Berikut beberapa hasil observasi yang kami dapatkan dari keluarga yang menginsiprasi ini..

1. Ga ada TV. Yeah.., kayaknya emang makhluk yang satu ini bener-bener jadi hal yang mesti dijauhin ya, kalo mau ngebentuk anak-anak yang kukuh jiwanya? Habis, kalo baca pofil keluarga shalih, pasti syarat utamanya ini: Ga ada TV.
Yap, di rumah Bang Erwin dan Mba NW, cuma ada laptop di ruang keluarga. TV ada sih, tapi cuma digeletakin aja di kamar tamu, yang notabene ga ada penghuninya.
Laptop yang dipajang di ruang keluarga pun berisikan berbagai macam video edukatif anak yang memang di-setting sesuai dengan umur anak. Misalnya Barney dan Thomas and Friends. Jadi, ga ada sejarahnya tuh kita bakal nemuin film-film bergenre kekerasan yang menyelubung diri dengan kategori: pahlawan anak-anak. macem power rangers, atau dragon ball.


                                  Mas Fathi lagi asyik bermain di dunia petualangan Dora!




                                                Fathi dan Azka, kompak main laptop! :D




2. Say, "Assalamu'alaykum", setiap menemui anak. Ini nih yang jadi pemandangan baru buat saya dan Dzaky dalam dunia parenting.
Bang Erwin dan Mba NW membiasakan diri mereka untuk selalu berucap salam tiap kali menemui sang anak. Misalnya aja nih, Azka nangis di kamar, entah karna haus atau sebab lainnya. Ketika Abi atau Ummi nya masuk kamar untuk menggendong Azka, mereka selalu mendahulukannya dengan senyum tulus, kemudian berucap, "Assalamu'alaykum, Azka.." Wiiih, sejuk deh dengernya.. ^_^

Mungkin kita bakal bertanya-tanya, buat apa ngucap salam segala? kan si anak belom ngerti. Hmm, jangan salah.. Ucapan salam itu kan do'a. Do'a yang mempererat kasih sayang. Maka dengan memberi salam tiap menemui anak, itu berarti kita sedang mendo'akan mereka sekaligus mengeratkan kasih sayang antara ortu dan anak.

Subhanallaah ya? Sepele, tapi sangat sangat signifikan.


3. Memberi pilihan. Yap, Bang Erwin dan Mba NW tidak pernah otoriter terhadap anak-anak mereka. apalagi memaksa. Fathi dan Azka dibesarkan dalam budaya memilih. mereka diajari untuk mengambil keputusan sedari kecil. Mulai dari hal-hal yang sederhana.
Misalnya aja nih, waktu kami berkunjung ke sana, ada momen dimana Fathi meminta diambilkan minum pada Abi nya. Kalo ortu biasa bakal ngambilin minum di gelas dan langsung menyorongkannya pada si anak, kalo ortu ini justru engga!

Sebelum mengambilkan, Abi Fathi terlebih dulu bertanya, "Mas Fathi mau air yang dingin, sejuk, atau hangat?"
Fathi pun menjawab dengan senyum lebarnya, "Sejuk!"
Abi Fathi, "Okee, baiklaaaah.." dengan seyum yang tak kalah lebarnya.

Wahhh, saya sih ga heran kalo gedhe nanti mereka punya potensi besar buat menduduki jabatan mas'ul atau Ketua Lembaga. Hehe..

                                                si Calon Ketua Lembaga Kampus. hehe..




4. Mencintai Adik. Bagaimana dengan siblings rivalry? Mmm, berdasarkan diskusi antar para suami (A'a dan Bang Erwin), Fathi dan Azka pun sempat mengalami kecemburuan macem ini. Bahkan di awal-awal kelahiran Azka, Fathi sempet tuh mau ngedudukin adeknya. Walah! ;)
Alhamdulillaah, sekarang nggak lagi. Karna sejak Azka masih di perut, Ummi nya udah rajin mengenalkan Fathi pada makhluk baru yang akan jadi adiknya itu. Tiap hari Mba NW selalu mengajak Fathi untuk mengelus dan mencium perut Umminya.
Setelah lahir pun, Mba NW aktif mengajak Fathi untuk turut andil "mendidik" adiknya.

Sebagai contoh, saat Azka masukin tangan ke mulut, Mba NW sontak berucap,
"Wah, tangannya kok dimasukan ke mulut? tangan itu harusnya buat apa ya Mas Fathi?"
Fathi yang ditanya, nyengir, lalu menjawab, "Buat makan!"
"Iya, buat apa lagi?"
"Buat taro jam tangan!"
"Pinter.. kalo gitu, kasih tau adeknya, Mas, biar ga masukin tangan ke mulut, ya.."
Fathi berputar pada sang adik lalu berucap, "Azka, tangannya bukan buat lomot-lomot yaaa.."
 (*lomot-lomot itu maksudnya diemut-emut, :)


Dengan metode seperti itu, Fathi ga lagi merasa "tersingkirkan" posisinya di rumah. Malah, dia jadi bangga karna punya peran baru sebagai seorang kakak.


                                                   Mas Fathi sayang Azka.. ^_______^


5. biasakan Memuji. Memuji anak? apa sih pentingnya?
wih, jangan salah! karakter anak terbentuk justru di awal masa kanak-kanaknya. Dan pujian, akan menjadi penguat pembentukan karakter anak di masa yang akan datang.

Begitu pula yang dilakukan oleh Bang Erwin dan Mba NW terhadap anak-anak mereka.
Fathi dan Azka tiap harinya diisi dengan pujian-pujian yang akan menguatkan jiwa mereka, seperti
"Anak Shalih" atau "Subhanallaah, anak Ummi pandai sekali.."

Bahkan, mereka pun ga segan memuji anak di depan orang lain, untuk menunjukkan betapa mereka sangat membanggakan anak-anaknya, seperti
"Ini anak Shalih-nya Abi loh, Oom..," ucap Bang Erwin sembari menimang Azka, plus tersenyum bangga.


6. Selalu ada Maaf, Tolong, dan Terima Kasih :). Hmm, biasanya para orangtua, gengsi kan untuk sekedar mengucap tiga kata di atas? Padahal menurut saya pribadi, tiga frase tersebut justru menunjukkan kerendah hatian orang tua terhadap anak-anaknya, bukan justru menurunkan wibawa mereka! Dari pasangan orangtua ini pun saya belajar, bahwa melalui kerendah hatian untuk terbiasa mengucap tiga hal tersebut kepada anak, akan membuat anak merasa dihargai. Dan kelak, anak pun akan dengan mudah menghargai orang di sekitarnya.

Seperti yang terjadi antara Mba NW dan Azka, anak keduanya, ketika kami bertandang ke sana..

Mba NW  : "Azka Shalih, hari ini belum tersenyum ya, buat Ummi? Ummi tolong minta senyumnya boleh?
Azka         : *masih sibuk mengoceh. belum senyum.
Mba NW  : "Sayang, boleh ya, Ummi minta senyumnya? ayo, senyum.." *sembari mencubit lembut pipi Azka
Azka         : *masih belum senyum
Mba NW  : *sembari memegang pipi Azka. "Ayo Nak, senyum.. senyum.. senyum.."
Azka         : *Akhirnya nyengir sedikit
Mba NW  : "Alhamdulillaah.. terimakasih ya, sudah tersenyum buat Ummi hari ini.."

Subhanallaah, sejuk sekali ya mendengarnya?

                                                               Ummi dan Azka



7. Katakanlah, Qaulan Sadida. Apa sih Qaulan Sadida itu?  Qaulan Sadida adalah perkataan yang benar, baik dari segi substansi maupun redaksi. Mudahnya, Qaulan Sadida berarti kita belajar untuk senantiasa menyampaikan informasi yang faktual. yang sebenarnya. 
Biasanya nih, kita sering kan denger orang tua yang berkata, "Ibu pergi sebentar kok, cuma mau ke warung depan!", dengan tujuan agar si anak tidak menangis- padahal tujuan perginya adalah ke kantor.i 
Nah, model perkataan seperti itu, bukan Qaulan Sadida namanya. 


Memang sih, itu bakal jadi shortcut yang sangat membantu ortu mendiamkanan anaknya. tetapi perlu diingat, anak adalah makhluk yang jiwanya akan bertumbuh dalam tiap kata yang kita ucapkan kepadanya.
Dan berkata bohong (walau tujuannya baik, sekalipun), akan membuat si anak terbiasa dibesarkan dalam kebohongan. dalam kepura-puraan. 


Bukankah akan lebih sejuk ketika orang tua berangkat kerja, lalu mereka mohon pamit dengan baik-baik kepada si anak. Memberi pelukan sayang, juga do'a yang menentramkan bahwa perginya Ayah Ibu mereka pun sejatinya untuk dapat  memenuhi kebutuhan mereka?


Biar saja si anak belum paham. Biar saja ia menangis sesenggukan. Tapi setidaknya, kita sudah belajar untuk tidak membiasakan kebohongan bagi mereka. ya kan? :)


Begitu pun yang saya pelajari dari Bang Erwin dan Mba NW. Di saat kunjungan kami hari itu, Bang Erwin bersiap keluar untuk membeli makan malam. Kebetulan, motor beliau tidak bisa dihidupkan. Bukan rusak, tetapi karburatornya sedikit kemasukan air hujan. Jadilah beliau berangkat dengan menggunakan motor suami saya.


Sebelum berangkat, Fathi bertanya pada Abi nya.


"Abi naik motor siapa?"
"Naik motor, Oom Dzaky, Mas."
"Motor Abi kenapa?"
"Motor Abi rusak.," Bang Erwin menjeda sebentar, kemudian melanjutkan,
"Emmm.. sebenernya bukan rusak sih, Mas.. tapi karburatornya kemasukan air kayaknya, jadi sulit dihidupkan deh motornya.."


Wah, saya kagum sekali mendengar penjelasan Bang Erwin terhadap Fathi.
Logika aja ya, anak usia 2 tahun mana ngerti dan peduli sih tentang karburator yang kemasukan air? tahu aja nggak.
Dan dengan mudahnya, padahal, Bang Erwin bisa aja cuma menyebut "motor Abi rusak", kemudian perkara selesai.
Tetapi tidak! Beliau justru memilih jalan panjang. jalan kejujuran. Biar saja anak belum paham. Biar saja ia belum mengerti. Yang penting mereka diberikan kejujuran. dan orang tua pun menjadi terbiasa jujur pada anak. Hmm, ternyata jadi orang tua itu juga berarti belajar, ya.. ^_^

                               wajah cerah anak-anak yang dibesarkan di jalan kejujuran! 



8. Nah ini yang ga kalah penting, Abi Siaga dan Ummi Cerdas .
Mendidik anak sejatinya memang bukan cuma peran Ibu, tapi jadi perpaduan kerjasama yang baik antara suami dan istri. Di keluarga ini, kelihatan banget loh kalo Bang Erwin dan Mba NW sudah sangat sevisi dan semisi dalam mendidik anak-anak mereka. jadi insyaallah ga ada tuh disonansi nilai di anak-anak mereka.

Begitu pula yang terjadi di keluarga menginspirasi ini. Bang Erwin sebagai suami, ga segan-segan mengganti popok Azka yang basah, atau menggendongnya di saat sang Ummi sedang makan.

Bang Erwin juga menyempatkan diri untuk bertanya, "Perlu bantuan apa, Mi?", ketika sang istri sedang menyiapkan makan malam untuk kami hari itu.

Dan dari perbincangan antara beliau dan A'a (yang kemudian diceritakan A'a pada saya), terlihat bahwa beliau memang aktif berperan dalam mendidik Fathi dan Azka. Ya, bukan cuma tanggung jawab sang Ummi!

Maka wajar, kalo Fathi terlihat dekat dan ga canggung dengan Abinya. Beda tuh sama anak-anak yang sering saya temuin. Biasanya kalo sama sosok "Bapak" mereka segan, canggung, atau takut. Lebih banyak nempel ke Ibunya. Tapi untuk keluarga ini, Fathi dan Azka sepertinya mendapat proporsi kasih sayang yang seimbang dari keduanya..

Hmmm, what a great family!

****************************************************

Dan inilah wajah para anggota keluarga yang menginspirasi itu.:



                                                          





                              &





Alhamdulillaah, ternyata silaturrahim itu berjuta manfaatnya.
Jazakumullah ya Bang Erwin dan Mba NW,
semoga lain kali Allah memberi kelapangan bagi kami untuk berkunjung lagi..    ^______^

Bahaya itu berupa "Jangan!"


Bismillaah..

Temen-temen, sering ga denger ucapan kayak gini:

"Dhek, Jangan pegang kompor, bahaya!"

atau

"Aduuuh, Nak.. Ibu kan udah bilang, jangan naik-naik ke atas meja! itu ga sopan! kalo jatoh gimana?"

mungkin juga

"Iiih, ni anak susah banget sih dibilangin! Udah Mama kasih tau, jangan di pegang-pegang gelasnya! jadi pecah kaaan!"

well, kata jangan, apa sih bahaya nya?
*********************************************

Memang sih, semua seruan di atas itu, ditujukan buat kebaikan si anak.
jangan pegang kompor misalnya, tentu untuk menjauhkan anak dari bahaya macem kesulut api atau meledaknya kompor.
juga tentang perintah untuk menjauhi meja. si Anak bisa jatuh karena perbuatannya.
Pun tentang penggunaan gelas, gelas kaca terutama. Salah-salah gerak, si gelas bisa pecah dan pecahannya dapat  mengenai anak.

Tapi siapa yang sangka, bahwa perkataan sepele "jangan", ternyata menyimpan bahaya yang jauh lebih berlipat dibanding apa yang kita anggap akan menjadi kebaikan daripadanya.


Usia balita, terutama periode umur 2 sampai 5 atau 6 tahun adalah masa eksplorasi. Pada masa jelajah ini rasa ingin tahu anak sangat besar dan lebih aktif dari sebelumnya.ini adalah masa penting membangun sikap kemandirian untuk mengekspresikan pikiran dan tindakan (autonomy) anak, serta membangun sikap penuh inisiatif dan kreatifnya. Semuanya ini adalah pondasi penting untuk memupuk rasa percaya diri anak.

Sayangnya, banyak orangtua yang tidak tahu bagaimana menghadapi perangai alami anak-anak usia tersebut. Keinginan untuk mencoba hal-hal yang baru, kelincahan anak yang luar biasa yang sering merepotkan orangtuanya, sering dianggap sebagai suatu kenakalan. Misalnya, seorang anak usia 3 tahun yang begitu gembira mendapatkan ilmu baru bahwa ketika gelas dilempar akan jatuh ke bawah dan pecah, tetapi orangtuanya justru memarahinya. Atau, seorang anak yang membongkar mainannya karena ingin tahu bagaimana bagian benda-benda bisa tersusun menjadi sebuah rangkaian mainan akan membuat orangtuanya marah.

Akibatnya, kata-kata “jangan”, “tidak boleh”, dan ancaman sering dilontarkan oleh para orangtua. Bahkan, banyak anak yang sudah mendapatkan makian dan pukulan. Cara yang salah dalam mendisiplinkan anak seperti ini akan membunuh rasa percaya diri anak karena anak akan takut mengembangkan dan mengekspresikan pikiran dan pendapatnya (shame/doubt). Rasa percaya diri anak akan tereduksi bila anak mengalami ketakutan besar untuk bertindak dan mengambil risiko (guilt), sehingga akan menjadi pribadi minder, apatis, bahkan agresif.

Pengalaman negatif yang dialami semasa kanak-kanak akan direkam otak dan terbawa sampai dewasa, karena 90% perkembangan otak terjadi pada usia di bawah 7 tahun. Jadi, apabila ingin anak mempunyai rasa percaya diri untuk dapat menjelajahi kehidupannya kelak ketika dewasa, berikan sebanyaknya pengalaman positif, yaitu dengan menggantikan kata-kata “jangan” atau “tidak boleh”, dengan kata-kata yang dapat membangun rasa percaya dirinya.

*************************************************

Lalu, bagaimanakah cara yang baik dan mendidik untuk menjauhkan anak dari hal-hal yang dapat membahayakan dirinya, tanpa harus membahayakan kesehatan mentalnya?

berikut ada beberapa trik jitu yang bisa dicoba:
* Ubahlah kata-kata Anda. Anak akan memberikan respon yang lebih baik bila kita menggunakan kata-kata positif. Daripada berteriak, “Awas, jangan main bola di ruang tamu!”, kita dapat berkata, “Ayo main bola di halaman, karena kalau di dalam ruangan bisa kena kaca jendela, nanti bisa pecah.” Atau, “Tidak boleh mencoret-coret meja!”, kita dapat memberikan kertas, “Kalau menggambar bisa di atas kertas, karena meja bisa kotor dan sulit untuk membersihkannya.” Apabila anak dalam keadaan bahaya sehingga memerlukan reaksi cepat, kita dapat menggantikan kata-kata spontan “Stop, ada mobil!”, “Panas sekali” “Bahaya.”

* Berikan pilihan. Pada periode ini anak ingin mengekspresikan keinginannya atau ingin memegang kendali. Misalnya, anak ingin memilih baju yang tidak tepat dengan situasi (memakai baju olahraga untuk pergi ke pesta), orangtua bisa memberikan tiga pilihan baju yang tepat, dan biarkan anak memilihnya.
Apabila anak ingin makan permen sebelum waktu makan malam, orangtua bisa memberikan pilihan, “Mau permen cokelat setelah makan malam, atau permen rasa jeruk setelah makan malam?”
Apabila anak sedang asyik bermain dan Anda ingin menyuruhnya mandi, berikan pilihan “Nak…mau mandi 5 menit atau 10 menit lagi?”
Dengan cara ini anak merasa dihargai pendapatnya dan merasa mampu untuk mengambil keputusan dan memegang kendali, walaupun sebetulnya ia sedang mematuhi perintah orangtuanya.

* Siapkan lingkungan agar terhindar dari kata-kata “jangan”. Orangtua yang mempunyai anak balita harus menyiapkan lingkungan yang aman bagi anak, sehingga kata-kata “jangan” tidak akan terlontar. Misalnya, pindahkan benda-benda yang berbahaya bagi anak dan berikan lingkungan yang membuat anak bebas bereksplorasi secara aman.

* Jangan pedulikan hal-hal yang kecil. Biarkan anak bereksplorasi dan mencoba apa saja. Sejauh hal tersebut tak membahayakan dan dapat membuat anak gembira dan penuh semangat, sebaiknya jangan dilarang. Misalnya, mereka ingin bermain pasir atau tanah, jangan takut kotor, karena mereka bisa mandi dan ganti baju. Atau, biarkan anak ingin tidur dengan baju barunya untuk ke pesta, karena sedang gembira mendapatkan baju baru.
* Ubahlah persepsi Anda terhadap kelakuan anak. Kelakuan mereka yang terkadang membuat orangtua kesal (misalnya melempar gelas, merusak mainan) sebagai tindakan kreatif karena sedang mencoba sesuatu. Anda bisa menerangkan pada mereka bahwa gelas yang pecah itu harganya mahal, kasihan Papa yang bekerja keras untuk mencari uang. Atau, belilah mainan yang tak terlalu mahal, dan siapkan diri Anda bahwa mainan tersebut akan dibongkar oleh anak. Semakin besar anak, semakin mengerti ia untuk tidak merusak mainannya.

* Berkata “jangan” secara tepat. Tentu saja kata “jangan” masih perlu dipakai apabila memang menyangkut perilaku anak yang serius. Apabila memang diperlukan katakan dengan tegas, tapi tak dengan bentakan. Misalnya, “Tidak boleh menarik ekor kucing, kasihan kucingnya kesakitan.” Berikan pujian apabila ia merespon larangan Anda, misalnya dengan senyum atau pelukan,

**************************************

Ternyata mendidik anak itu ga mudah ya? Huuff.. padahal, jauh-jauh abad, Allah melalui Rasulullah tercinta kita udah mengajarkan bagaimana harus berucap pada calon generasi mendatang ini..

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Qaulan Sadida - perkataan yang benar” (QS. 4:9)


Apakah Qaulan Sadida itu?
Ia adalah perkataan yang benar, baik dari segi substansi maupun redaksi.
Ya, dari Qaulan Sadida itulah kita seharusnya belajar untuk senantiasa menyampaikan informasi yang benar lagi faktual, jujur, tidak berbohong, apalagi merekayasa kenyataan.

Dari Qaulan Sadida itu pula lah, kelak akan terlahir generasi yang kuat lagi tangguh. Generasi yang kukuh jiwanya, sebab dibesarkan hanya dalam kejujuran, kebenaran, serta kebaikan..

Allah, karuniakan Qaulan Sadida bagi seluruh orangtua di dunia ini...

(sit. sahabat nestle, note seorang sahabat fb, dan tulisan pribadi.)



Search

 

Followers

Rumah Bahagia ^__^ Copyright © 2011 | Tema diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger