Tampilkan postingan dengan label akudandia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akudandia. Tampilkan semua postingan

Lalu, mau jadi apa?


Ini sbenernya percakapan aku dan Aa beberapa waktu lalu. Jadi ceritanya kita abis survey cluster Pawenang buat tahun depan (masih kontraktor kookk.. tapi rumah dan lingkungan yang jauh lebih layak, insyaallah!). Di tengah jalan kepanasan, akhirnya nepi d Indomaret buat minum susu soya dan soda.
“Suka sama rumahnya, Dek?” Tanya Aa memulai.
“Aa, bukan suka suka lagi… tapi suka baaaaangeeeettt!!! Pindah bulan depan aja yukkk..”
Si Aa melotot gemas. Hahahaha… emang dikata kite punya pohon duit bisa langsung pindah bulan depan :p Ah, tapi mimpi mah gak boleh dikemas. Mana tau bisa lompat 3 peringkat bulan depan. Aamiiin… aamiiiin… *yang kenceng*
Eh malah jadi melenceng dari judul, hahaha… jadi si Aa nanya, apa aktivitasku tahun depan. Jadi bisa dikira-kira, kalau pindah ke Pawenang akan menyulitkan nggak. Soalnya bukan lagi di pusat kota Bandung kayak rumah kita sekarang.
Hmm… aku jadi mikir-mikir dan flashback, betapa uniknya ‘perjalanan karir’ ku pasca lulus kuliah. Awalnya, kepingin jadi IRT sejati. Tapi kok ya lama-lama gak betah. Hehehe… kalo kata Ibu sih wajar, dari dulu aku kan memang gak bisa ‘diem’.
Akhirnya nyoba kerja, jadi guru di SAB yang jaraknya cuma 8 menit dari rumah. Awalnya excited, apalagi kan memang suka dengan dunia pendidikan dari dulu. Cuma oh cuma… lama-lama kok bosen juga ya.. udah lagi ditambah guilty feeling ninggalin anak sampe jam 4 sore.. belum lagi aku mikir, “Ini aku mau berkarir sampe berapa lama?” Soalnya di SAB kalo mau dapetin jabatan yag cukup tinggi paling nggak ya setelah 5-6 tahun kerja. Waduh, aku kayaknya nggak kuat kalo mesti meniti karir selama itu. Soalnya berarti aku bakal abisin mayoritas waktuku di tempat kerja dibanding sama anak. I can’t stand the guilty feeling :( terus gimana klo nanti punya anak kedua, ketiga, dst?
Hayah, stress sendiri. Ya udah, di bulan kelima kerja aku resign deh ;)
Pasca resign, karna masih ada khadimat yang bantu jaga bocah semasa aku kerja, akhirnya aku putusin buat gabung sama si Aa di bisnisnya. Rasanya lebih nyaman dan pas, soalnya aku gak di rumah melulu, tapi juga ga ampe seharian ninggal ‘Aqilla, paling jam 2-an juga udah pulang.
Nah, setelah beberapa kali diskusi dengan Aa, akhirnya bulan lalu mutusin u/ masukin ‘Aqilla ke daycare. Karena disana mainnya lebih terarah, terus banyak temen seusianya (di deket rumah, temen-temen bocah pada mulai masuk SD jadi pagi-dzuhur sepiiii banget). Plusnya di daycare kan juga tetep bisa dijemput jam berapa aja. Jadi porsi ninggalin anak juga gak lama-lama.
Qadarullah, gak lama setelah bocah masuk daycare, aku diajak sama beberapa anak ITB buat bikin konsultasi pendidikan dan karir. Alhamdulillaah, klik visi dan misinya, jadi gabung deh sama mereka :)
Sebetulnya sempet kepikiran untuk apply kerja lagi. Soalnya kalo lagi gak ada agenda, ya aku di rumah aja sementara bocil dan Abi nya sama-sama sekolah. Hihihi… rasanya kesepian :p
Tapi ya itu, tiap kepikir aplly kerja, otak selalu nanya, “Mau sampe kapan?” Daann… selalu gak nemu jawabannya :p sepertinya aku bukan tipe yang ngejar karir gitu.. jadi kasian juga kerjaannya kalo aku masukin. Aku lebih prefer nambah anak aja deh, hahhahaha… :p
Jadi ya sekarang aku bantu bisnis Dzaky, ngerjain konsultan pendidikan, sama paling bantu agenda AIMI JaBar tiap bulan. Dengan lokasi rumah tahun depan aku malah jadi bayak kepikiran buat mulai homeschooling-in ‘Aqilla. Soalnya supporting systemnya mendukung. One gate system, ada kamar sendiri buat bocil, ada taman belakang. Ahhhh pokoknya suka suka suka! (Tuh kan jadi kepingin pindahan besok aja boleh gak? Hahhhahah)
Tapi semua balik ke diri masing-masing sih, aku kenal buanyak emak-emak hebat yang bisa berkarir terus anaknya oke-oke. Buanyaak banget. Alm. Ummi Yoyoh misalnya, ah aku aja yang gak sesibuk beliau hafalan qur’annya masih maju munduuurr :(
Yuk ah, bismillaah… apapun langkah yang diambil, selama itu sudah melewati proses istikharah, lalu musyawarah (izin dari suami terutama), insyaallah Allah ridho. Itu kan yang penting? :)

The man I missed

Allah itu memang yang paling tahu bagaimana menyemangati hambaNya..

saya lagi kangen lelaki itu.. dan tiba-tiba aja (oke, g ada yang kebetulan bagiNya. semua sudah di catat rapi. tapi jemari saya yang bergerak di google, I have no intention to do it before), sampai lah saya ke salah satu posting blog ini:

24 September 2010,

Siang ini gue pergi ke Rumah Bersalin, ada temen gue yang lahiran kemaren di situ. Sejujurnya, itu keponakan pertama gue dari temen-temen kuliah gue. Rasanya? Ha, gue gk tau gimana rasanya. Baru kali ini gue merasa se-excited ini. Baru kali ini gue ngerasain bahwa ngelahirin itu penuh perjuangan, butuh keberanian, dan daya tahan yang sangat tinggi. Dan temen gue..berhasil ngelewatin proses persalinan normal yang berat itu. So proud of you, Tami.. Mudah-mudahan, gue juga bisa sekuat lo.Terus, selama gue jenguk keponakan gue yang baru berumur beberapa jam itu, gue ngerasa *kalo kata anak SMA* unyu banget. Tami, Dzaky, dan Chiwa. Oh, God..itu baru namanya unyu! Jadi, ceritanya, si Chiwa nangis, dan Tami ngebiarin Chiwa nangis. Soalnya, si Chiwa belum nangis dari pagi. Dan demi Allah Pencipta Langit Maha Indah, ini pemandangan paling indah yang pernah gue liat. Tami ngehibur anaknya, Dzaky juga gitu. Sesekali mereka saling menatap. Suara suara menenangkan, suara-suara sayang saling mengerti. Aduh.. Subhanallah, Subhanallah.. Subhanallah.. Kalau bukan Dia, siapa lagi yang sanggup membuat 'adegan hidup' seindah ini?Aaa..udah, ah.. mupeng gue. Haha!


Hey Tante Meiz, makasih ya.. itu salah satu pentingnya menulis, IMHO. kita ga pernah tau kapan tulisan kita bisa menyemangati seseorang nun jauh di sana. hingga dari sanalah pahala kebaikan mengalir tiada henti.. makasih ya Meiz.. you are really make my day.. :')

Tuh kan, tambah kangen gue jadinya.. hiks hiks.. pulang ahhh... :')

Dulu.

Sore itu. 2008.

"Can you just stop annoying me? Kenapa harus aku? Banyak yang lebih baik. lebih cantik. lebih pinter. lebih shalihah. Kenapa harus aku?"

dua mata itu menunduk diam. Jemarinya bermain tak tentu arah. ku rasa, kali ini ia mati langkah. Ya, apalagi tanya yang mesti ku uar untuk menghenti langkahnya selain ini?

Lamat terdengar naik turun nafasnya. bahkan ku sudah tersenyum menang dalam hati, Skak mat kini kau!

Dan Lelaki itu,
"Jika ada seribu bintang yang bersinar terang, apa aku harus memilih yang paling terang? Padahal nyatanya yang kubutuhkan bukan terangnya. Tapi ketentramannya.."

aku tercekat. lidahku kelu.
Baiklah, Dzaky, kali ini kau menang lagi..




*mengenang satu separuh perjalanan.
Jangan buatku mencintaimu, melebihi cintaku pada Tuhanku.

Sempurna.

berbicara selalu lebih mudah daripada berbuat, begitu orang bijak berkata. jauh dari berkata, ada berpikir. Ya, berpikir kian mendahului semua kekata. Implikasinya, jika berbicara saja selalu lebih mudah dari berbuat, maka berpikir tentu lebih mudah lagi, bukan?

agaknya itu benar.

Jauh sebelum saya menikah, saat itu rok saya masih abu-abu pula :p, saya berpikir betapa idealnya pernikahan yang akan saya capai nantinya.Saya asyik membayangkan sebuah rumah tangga nan ceria, yang tiada kesedihan di dalamnya sama sekali.

Suami saya yang teratur shalat di masjid, membangunkan malam-malam saya untuk menegakkan lail, memberi nasihat-nasihat bijak, tergelak-gelak dengan anak-anak kami yang bergantian menggelayuti pinggangnya. Ah, sempurna.

Seiring, saya pun membayangkan bahwa saya akan jadi istri yang begitu shalihah. Pagi-pagi sekali sudah bangun menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah tangga. kemudian dilanjut dengan memasak sarapan untuk semua, bersempat diri berdandan setelahnya agar kian mewangi tatkala suami membuka matanya. Saya juga membayangkan wajah yang selalu penuh kasih dan keramahan menyambut suami pulang. juga tawa renyah dan rengkuhan hangat yang selalu terentang bagi anak-anak. Ah, sempurna.

Imaji saya juga mengonstruksi gambaran hari-hari kami yang akan disibukkan dengan berbagai kegiatan manfaat bersama. berjalan gandeng dengan bocah-bocah yang tawanya riang selalu. Lalu sesekali menyepi berdua, mengenang saat-saat romantisme sebelum anak-anak ada. Ah, sempurnanya..

Setelah menikah, hal-hal tersebut, alhamdulillaah, tetap saya temui. tetapi jujur, lebih banyak yang tidak.

Kesibukan saya dengan tugas-tugas di kampus, misalnya, tak jarang membuat saya pulang dengan energi sisa. Membuat tumpukan cucian dan setrikaan makin menjulang. juga kamar-kamar yang seharusnya disapa sapu.
Pun suami saya, kegiatannya berbisnis membuatnya hampir selalu pulang larut. Lail pun terlewat sudah. Bahkan kadang kami tak sempat berbincang sebelum tidur karena sudah sama-sama kelelahan.

Setelah 'Aqilla hadir, saya merasa jauh lebih buruk lagi sebagai seorang istri.
Tumpuk pekerjaan rumah tangga makin tak tersentuh. Hamdallah, Dzaky bukan tipe lelaki yang pilah-pilih tugas. Pernah saya memergokinya kasak-kusuk di dapur tengah malam. Ternyata, beliau sedang mencuci baju-baju kami.
Bukan cuma masalah pekerjaan rumah, saya pun merasa jadi jarang dandan. Paling tidak berpenampilan rapi. Letih bolak-balik ganti baju karena terkena "buangan"nya 'Aqilla membuat saya malas berapi-rapi di rumah. Kalo dipikir-pikir, kasian sekali Dzaky harus bertahan melihat istrinya yang kuyu saat dia pulang dalam kelelahan selama 3 bulan kemarin, ya. he he he.

Itu baru fisik. Emosi saya juga ikut naik turun sejak awal pernikahan ini.

Sebelum menikah dan banyak mengenal Dzaky, saya berkespektasi bahwa beliau adalah orang yang romantis. Kenapa? karena dulu Dzaky tergabung dalam tim nasyid. hehe, sebenernya ga nyambung sih, cuma kan saya mikirnya kalo nasyid itu kan seni, dan seni berbubungan dengan sensitivitas perasaan. Jadi, insyaalloh yang seneng seni, sensitif pula perasaannya. :p
Nyatanya? tidak. Dzaky tipikal orang yang serius. Saking seriusnya, pernah dia pulang dari Malaysia bawaian saya sekotak cokelat. kotaknya bebentuk hati dengan tulisan: "for the world, you might be someone. But for someone, you might be the world". Belum lagi geer dan senang saya hilang, Dzaky tiba-tiba berucap: "Eh, emang itu kata-kata artinya apa ya? aku main ambil aja yang sesuai budget".
buahahahaha.. lenyap deh geer saya.

Menikah juga bukan tanpa masalah. Dulu memang saya berpikir bahwa pernikahan saya akan mulus bak jalan bebas hambatan. Saya ingin menikah dengan ikhwan, dengan orang yang insyaallah meletakkan ketakukan pada Allah di posisi pertama dalam hatinya. Dengan begitu, dia akan sangat hati-hati sekali dalam berlaku pada istrinya.

Yeah, itu membuat saya lupa bahwa saya menikah dengan manusia.
Dzaky dan Tami pernah berantem? Iya dong. sering malah! hehe
Kok ga pernah kelihatan? di status fb ato blog juga nampaknya seneng-seneng aja? Kan ada aurat-aurat keluarga yang tak boleh dipublish ke publik, kawan.. :)

Pernikahan ini, jujur, benar-benar membuat saya belajar, a lot. sungguh banyak.
Saya bukan tipikal yang bisa menahan-nahan emosi. Saya ini meledak-ledak. Dan buruknya, kalo lagi keselnya kumat, rentetan kebaikan Dzaky tuh kayak kehapus. tinggal yang jelek-jeleknya aja. (Eh, apa ini juga dirasa sama semua perempuan ya? hehe).

Kenapa sih gak kayak gitu? gak kayak gini? huah, pertanyaan retoris batin itu udah sering banget kelintasan di otak dan hati. tanpa sadar, ekspektasi-ekspektasi itu membunuh diri saya sendiri. Alhamdulillaah, Allah masih berkenan menjaga kami saya. Ga lama setelah pikiran saya yang menuntut itu muncul, tiba-tiba ada aja hal-hal yang dilakukan Dzaky yang bikin hati saya trenyuh, lalu berucap "Masyaallah.. I'm marrying the right person.."

Dzaky memang ga banyak bicara. Ga suka debat. itu yang kadang bikin saya kesel.
Saya yang sangat senang bicara, selalu merasa perlu diberi tanggapan. sanggahan. atau bahkan, bantahan.

Lucu.
Saya tiba-tiba teringat pertanyaan awal yang saja ajukan padanya di awal-awal kami menikah dulu,
"Ay, kenapa milih untuk nikah sama aku? Kenapa ga sama A, B, C?" (nama akhwat disamarkan demi kelanggengan rumah tangga. hihi :p)
Dzaky cuma tersenyum. ga menjawab.
Berulang kali saya tanyakan hal yang sama, tetap ga dijawab.

Baru-baru kemarin agaknya beliau keceplosan mengenai hal itu.
Saat seorang sahabat bertandang ke rumah, konsultasi mengenai pemilihan istri.
Dzaky ketika itu berucap, "Yang penting fokus pada kriteria, bro.. satu kriteria aja!"
sahabat kami, yang masih jua bingung itu, lantas bertanya balik, "Nah, kalo ente Dzak, pas mau nikah, kriterianya apa?"
Dzaky terdiam, lalu menoleh pada saya sesaat, "Kalo ane sih jelas.. waktu itu.. kriterianya.. nyari ibu yang penyayang buat anak-anak.."
Doh, rasanya pengen nangis terharu aja deh kala itu. :')


Jujur, pernikahan bukan sebuah cerita fairytale yang nikmat saat dibaca. Ia sulit dilaku. bayangkan saja, kita yang biasanya bersendiri, bebas, dan hanya berkonflik dengan peran-leran pribadi, kini harus berhadapan dengan makhluk baru dengan sejuta pembawaan karakter serta latar belakang yang tidak kita ketahui sama sekali.

pernikahan juga bukan sebuah lukisan tanpa cela yang selalu membawakan warna-warna teduh dalam hidup. terkadang ada ceria yang tidak lama dirimbuni tangis menyesak. Ada tawa yang diikuti tekuk cemberut wajah. Ada kalimat-kalimat kasih, yang pada beberapa kali, justru mengiris-iris hati. Ada cinta membuncah-buncah yang mengalir terkespresi, tetapi jangan kaget ketika juga menemukan marah mendidih-didih yang berusaha rapat disimpan hati. Ada pemakluman. Ada kerling jernih. Ada keluh. Ada berbagi. Ada empati. tetapi tentu yang terpenting: Ada Illahi..

Cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna,
tapi menerima pasangan kita dengan sempurna..
(Sakinah Bersamamu, Asma Nadia)


Teruntuk Ahmad Dzaky Hanif yang meminangku dengan namaNya demi keSEMPURNAAN diin kita. yang telah seSEMPURNA itu menentu kriteria dalam memilihku. yang mengajarkan betapa tidakSEMPURNAnya kita berdua. yang kian hari kian SEMPURNA dalam mendewasakan. do'akan Bunda, ya Bhiw, semoga Bunda selalu dituntun olehNya untuk dapat menerimamu dan anak-anak kita dengan SEMPURNA.

tulisan ini juga untuk kalian, sahabat tercinta yang baru saja menikah (Ka ci & Bang Kho, Diska&K'Tesar), yang akan merayakan setahun pernikahan (Hey, Ney! ^_^), yang sedang menanti hadirnya kaki kecil dalam pernikahan (Ibu Champ!, Adik Husnul), dan yang sedang berkasak-kusuk menyiapkan pernikahan (ga perlu disebut lah ya, kalo yang ini.. tunggu undangannya aja. hehehe). dan untuk sesiapa saja yang oleh Allah, digerakkan membaca tulisan ini. Teruslah merayakan cinta dalam penerimaan yang sempurna. Aku cinta kalian karena Allah.. :)

I wanna grow old with you..

Ketika kini, saat kita masih muda dan bersemangat, selalu ada cinta yang meluap-luap,
bagaimanalah nanti ketika untuk menyangga tubuh saja kaki kita tak lagi kuat?

Ketika kini, saat wajahku masih lurus dan mulus, lalu kau rasakan betapa mudahnya tersenyum berucap, "Cantikku..",
bagaimanalah nanti ketika disana hanya kau temukan keriput yang makin berkerut?


Ketika kini, saat suaraku begitu lembut menebar hangat kerap kali kau pulang ke rumah,
bagaimanalah nanti ketika pita suara tak lagi berputar semestinya hingga serak yang keluar bahkan menyerupai burung gagak?

Ketika kini, saat gigiku masih terususun rapi dan bersih. senantiasanya tersenyum semanis madu padamu.
bagaimanalah nanti ketika ianya tak lagi ada. hingga untuk mengunyahpun aku tak lagi mampu?

Ketika kini, saat daya ingatku kuat membantumu menghitung anggaran rumah per bulan, jua bonus-bonus bulanan rizqi kita dari-Nya,
bagaimanalah nanti ketika untuk mengingat namamu saja, aku perlu bekerja keras begitu rupa?




Ketika kini, aku begitu sehat hingga mampu mengerjakan semua: cuci, setrika, juga merapih rumah,
bagaimanalah nanti ketika tahu-tahu kau harus memapahku -yang tanpa daya- kemana-mana?




Ketika kini, aku dan kamu yang seringkali menghabis waktu berdua. menaiki motor menembus malam. atau menunggu bus menuju puncak berjam-jam lamanya. Lalu kita tahajjud di kaki shubuh ditingkahi udara dingin yang makin merapatkan,
bagaimanalah nanti ketika satu-satunya rekreasi yang dapat kita lakukan hanyalah mengurusi cucu-cucu?




Ketika kini, Sayangku, dengan mudahnya kau dapat menemukan berjuta alasan untuk mencintaku..,
akankah... akankah.. akankah itu tetap menjadi perkara mudah bagimu saat di hari nanti aku hanya mampu merepotkanmu?



Ketika kini lalu bagaimanalah..
ketika ketika ketika..
bagaimanalah jikanya nanti..


Ah,


Dapatkah, kita terus seerat ini, hingga nanti, Sayang?





I wanna grow old with you
I wanna die lying in your arms
I wanna grow old with you
I wanna be looking in your eyes
I wanna be there for you
Sharing everything you do
I wanna grow old with you
(I Wanna Grow Old With You, Adam Sandlers)

Beloved 'Aqilla

Abhiwa dan Bunda mu memang berbeda, Cantik.

Lihat! kami saja ingin dipanggil oleh mu dalam tatanan yang kurang seirama:
Abhiwa-Bunda, instead of Abi-Ummi atau Ayah-Bunda.


Shalihah, ketahuilah bahwa kami memang berbeda! maka jangan terkejut ketika dewasa nanti dan kognisi mu mulai memasuki tahap konkrit operasional, lalu melihat Bunda mu yang akan sangat mudah tersedu sedan menonton suatu film, sedang Abhiwa mu cukup menggeleng kepala dan tetap tenang.

atau nanti, saat asupanmu tak lagi hanya ASI;
ketika langkahmu riang menghampiri meja makan dan menemukan begitu banyak lauk yang beraneka dan kontras.
Right, dear, kami punya makanan kesukaan yang saling berselisih pandang.

atau nanti,
saat Bunda mu bersemangat mengajakmu berpesiar keliling dunia,
lalu Abhiwa mu akan berkata, "Ti-dak."

juga saat Bunda menyemangati mu untuk rajin membaca,
sedang Abhiwa mu bicara, "Bundaaa, musik saja!"


Ah ya, kelak kau pun mungkin akan tergeleleng dan tergelak mengetahui betapa uniknya perpaduan Abhiwa dan Bunda mu ini!

tetapi ketahuilah,
Abhiwa dan Bunda mu memang berbeda -hampir dalam segalah hal-, Chiwa sayang..

tetapi satu kepastian yang akan selalu sama:
mencintaimu dengan luar biasa!

:)





Hey Shalihah, 
thank you for choosing us as your parents!
yakinlah,
kan kami buat hari hari mu bernama bahagia sahaja..

 this note is inspired from here.

Ga penting, tapi signifikan..

perubahan panggilan yaa, sodara-sodara..
(haha, berasa banyak yang baca aja gitu blognya? ^__^)

karna sudah terbiasa dari kandungan, dan sepertinya dia sangat menikmati sebutan ituuu.. dan juga cuma mau menengok kalo dipanggil dengan nama ituuuu..

Okey 'Aqilla, kembali ke khittahmu, Nak. hehe..
let's call her "Chiwa", then.

Dan berhubung sayah mupeng sekali dipanggil Bunda sejak zaman dinosaurus dahulu kalaaaa...
plissssss.... panggil saya Bunda Chiwa aja yaaa? *maksa

berhubung Abhiwa nya kagak mau ganti panggilan jadi "Ayah", "Abah", "Baba", ato yang lainnya.. biarlah dia tetap Abhiwa.. yeahh.. ya sudaahhhlaahh.. "bagimu panggilanmu, bagiku panggilanku.." hihihi..

Kok beda? yooo biarlah.. kan saya udah pernah cerita di sini, tentang bagaimana bedanya kami.. yang saya suka pasti dia nggak, gitu juga sebaliknya. termasuk urusan panggil-memanggil ini. hehe.. serius dah, Dzaky tetep kekeuh sama panggilan "Abhiwa".

Yosh, beda tak mengapa, yang penting kan kami tetap sejiwa.. :D

Baiklah sodara-sodara, ini emang ga penting, tapi signifikan..
jadi jangan binun ya kalo berkunjung ke sini (emang ada yang, Tam? hehe..),
oknum berinisial 'Aqilla selanjutnya akan disebut dengan "Chiwa"
trus saya jadi "Bunda" (pliss ya pliss ya, Bunda aja? hehe, maksa teruss)

Sekian dan terimakasih
Wassalamu'alaykum warahmatullah wabarakatuh
(berasa abis ngumumin pidato negara deh saya)

SalamSuper
TaDzakA
TamiDzaky'Aqilla

kita namai ini; kesejiwaan?

Saya telah mengenal lelaki ini hampir sembilan tahun lamanya.

Dimulai dari Sekolah Menengah Pertama saya di 30. Tingkat 3 tepatnya, sebab saat itulah takdirNya dan nilai rapot mendudukkan kami di kelas yang sama. kelas unggulan (katanya, hehe..).

dia bukan sesiapa saat kami masih berstatus "anak baru" SMP.
Ah, saat sudah sekelas pun dia masih belum sesiapa. hanya saja, jabatannya sebagai Ketua Kelas, dan saya (dengan takdirNya pula) sebagai Bendahara, terkadang membuat saya harus bersinggung kalimat dengannya. Entah membicarakan anggaran kelas, kesepakatan iuran kas, entah persiapan lomba menghias kelas menyambut hari kemerdekaan.

Saat itu, saya cukup tau namanya. nama lengkapnya. dimana tempat tinggalnya. kelakukan-kelakuannya di kelas. juga sedikit nilai-nilai ujiannya :)

Cakrawala saya tentang lelaki itu mulai bertambah saat saya-dan dia- masuk SMA -yangsamatentunya-.

saya dan dia bertemu di ruang OSIS, juga di sela rapat gabungan rohis.
Belakangan saya jadi tahu lebih banyak,
tentang caranya berbicara. pola pikirnya. juga sedikit kuat-lemahnya.

Hmm, belakangan saya pun jadi lebih sering melihatnya.
entah serius di belakang berkas LPJ dan sebotol tinta cap OSIS,
entah berkerut di hadapan khalayak syuraa' rohis rutinan,
entah wibawa memimpin barisan anak-anak baru yang ramai dengan atribut MOS mereka.

serius-berkerut-wibawa?
Ah ya, si Lelaki itu, memang begitu ia adanya.


Rasanya seperti baru saja semuanya berlalu. SMP: Kelas 1... 2... dan 3 sampai beranjak SMA: kelas X... XI.. dan XII

Rasanya baru kemarin semua itu berlalu,
dan tahu-tahu saja Allah menakdirkan kami duduk semeja di hadapan Ayahanda 18 Juli 2009 yang lalu.

Ya, belum banyak yang saya ketahui tentang nya: si Lelaki ini.
hanya bertambah seputar kondisi keluarganya, keuangannya, visi-misi, serta beberapa mimpi besarnya yang Lelaki itu ingin capai dengan saya.

Ah, Lelaki itu..
selepas akad diucap dan kami mulai hidup bersama, belakangan saya tahu bahwa saya belum mengenalnya sama sekali!

kami sungguh berbeda -entahkenapa- hampir dalam segala hal.

saya tipikal acak-abstrak, sedang Lelaki itu sungguh-sungguh teratur-konkrit.
saya senang dengan konsep besaaaaarr sehingga tak jarang membuat saya melayang, lupa dengan pelaksanaan.
Lelaki itu? dia konseptor sekaligus eksekutor yang apik sungguh.

saya senang bermain dengan kata. menyelam dalam kalimat. tenggelam dalam makna.
Lelaki itu tidak. ia senang matematika. ~_~

Jika kemudian saya menyenangi hal-hal romantis. kejutan-kejutan kecil yang manis. ataupun sekadar panggilan sayang,
maka buat Lelaki itu, membuat kejutan, romantis, atau panggilan sayang adalah bukan keahliannya. dan sungguh-sungguh bukan keahliannya.

saya ekspresif! saya bisa tertawa terbahak-bahak; juga menangis meraung-raung dalam titik-titik ekstrim saya. saya senang bercerita -bercerita apa saja tentang yang terlintas: kuliah pagi tadi, kejadian di jalan, atau sekadar berita di koran.
Lelaki itu beda, dalam polar emosi nya saja ia masih bisa tenang. seumur 9 tahun kebersamaan ini, saya hanya pernah melihatnya menangis beberapa kali. itu pun dalam kondisi tangisan saya sudah bukan ada lagi. tapi dahsyat. badai. hehe.

saya juga senang menunggu, Bagi saya, menunggu itu berarti waktu tambahan untuk menikmati sekitar, juga cukup untuk bertilawah walau hanya sebentar.
Buat si Lelaki, menunggu berarti menaikkan emosi nya ke titik didih puncak *hahay!


Allah nyatanya memang mencipta kami dalam orbit yang berbeda.
apa yang dia suka, bisa dipastikan tidak saya suka.
begitu juga dengan apa yang saya suka, aha! ternyata dia benci itu setengah jiwa.

Bersama ia, Lelaki itu, saya seakan naik turun gunung, menelusur hutan rimbun, kemah di lembah, menggantang asap di kaki langit, terkadang juga terasa seperti mencacah satu-satu butir pasir di pantai.

Berbeda. hingga saat ini pun saya masih tertakjub dengan perbedaan-perbedaan lain yang baru saya temukan belakangan ini. saya dan dia berbeda. sungguh beda.

Ah Allah, cara MU mengambilku dari rusuknya memang sungguh manis..

karna dalam perbedaan itu pula kami belajar untuk tetap berpegang erat.
ada kalanya saya yang harus memelankan laju, ada pula saatnya ia yang harus berpelan jalan.
tentu, terlebih sering kami sama-sama berlari untuk saling menyeimbangi.


Ah Allah, cara MU mengambilku dari rusuknya memang sungguh manis..

sebab dalam perbedaan itu pula saya temukan cinta. pengertian. kasih. kebersamaan. hangat. berapatan. air mata. usapan. bahu. tawa. canda. ceria.

hingga menjelmalah hari-hari saya menjadi bahagia.

saya dan dia -Lelaki itu- berbeda sungguh.
tapi didalamnya pula kami larutkan cinta seluruh. biar ia meluap-ruah hingga membuat semua itu hanya terpersepsi indah. indah. indah. indah.

Ah, Sayang, dengan apa kita namai ini; kesejiwaan?


 


Kecocokan jiwa memang tak selalu sama rumusnya

Ada dua sungai besar yang bertemu dan bermuara di laut yang satu; itu kesamaan...


Ada panas dan dingin yang bertemu untuk mencapai kehangatan.. itu keseimbangan...


Ada hujan lebat berjumpa tanah subur. lalu tumbuh taman; itu kegenapan


Tapi satu hal tetap sama...


Mereka cocok karena bersama bertasbih memuji Alloh


Seperti segala sesuatu yang di langit & bumi


Ruku' pada keagunganNya


Dan...


"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?"


-ROHIS 34 2009- 

(taken from here)
 

Lelaki itu, Ahmad Dzaky Hanif, terimakasih untuk semua perbedaan yang membuat jemari kita makin mengerat di tiap detiknya..

Oktober keduapuluh lima itu..



Katakanlah saat itu kau dan aku, sama-sama punya banyak pilihan
Lalu tentang menikah ini, hanya menjadi salah satu pemikiran.

seperti kataku dan catatanku dulu,
kau memang tidak sama dengan lelaki pertama
yang tampan selayak Yusuf, tegap segagah Musa

kau pun tak seberbakat lelaki kedua,
yang pandai merangkai kata, menyisipkannya makna,
lalu membuatku merasa jadi wanita paling berharga sedunia

bahkan setelah menikah pun kurasa kau makin tak sama dengan kedua lelaki sebelumnya

kau hanya lelaki sederhana.
sesederhana datangmu tanpa membawa apa-apa.
sesederhana iman-mu merangkai kata cinta

kau hanya lelaki sederhana.
Namun itulah kesyukuranku yang besar kepadaNya.
karna aku tidaklah menikah dengan pria sempurna yang dapat hidup sendiri atas dirinya.

Kau lelaki sederhana.
Itulah mengapa kau butuh aku agar hidupmu sempurna.


Lalu di 3 bulan 7 hari ini, kita berjalan.
bergenggam tangan. berpeluk. tertawa.
Atau terkadang wajah menekuk. bibir mengerucut. menangis.


Dan kita saling banyak bercerita. bertukar peran.
membuka tabir-tabir atas diri. membiarkannya terbagi.

Dan kita pun makin sama tau,
betapa Allah mencipta kita dalam orbit yang sama sekali berbeda.
sangat tidak sama.


Kau bukan lelaki romantis, 
yang sering melayangkan kata-kata manis.
Bahkan saat ku berikan mu panggilan sayang,
kau hanya tersenyum. tak balas merespon pinta ku untuk buatkanku panggilan sayang yang sama.

kau memang bukan lelaki romantis.
hingga di masa-masa awal bahtera ini,
aku sering menangis sendiri. isak dalam hati.
karna ku pikir sikap "dingin"mu, 
mengisyaratkan makna tak sedalam kau mencintaiku,
sedalam ku mencintaimu..

Itu prasangka. Dan aku terlarut di dalamnya.


Lalu menjelang isya akhir ramadhan itu
ketika kau lihat aku yang lelah pulang kuliah.
selekasnya harus menyiapkan makan berbuka.
sayang, 'afwan, saat itu kupikir kau akan cuek seperti biasa.
tidak peka dengan tanda-tanda yang ada.

Tapi ketika tiba-tiba saja kau rengkuh aku untuk bersandar pada dirimu.
berbisik tanya lembut perihal kelelahanku.
kemudian menyilahkanku untuk tidur lebih dulu, dengan beberapa pekerjaan yang belum selesai.
aku terharu.
sungguh cinta , kau romantis.. sangat romantis..
hanya saja kau punya bahasa berbeda dengan mereka.. 
Dan caramu membahasakannya,
aku terharu... aku terharu..


Belakangan aku pun tau kau bukan tipe pria pemuji.
yang seringkali menyanjung sang istri.
tak pernah sekalipun kau menyebutku "cantik"
hingga aku pun kembali berprasangka.
aku tak cukup cantik untukmu , begitu pikirku.
Dan terkadang itu mengurai luka. seakan usahaku menghias diri bagimu tersia. 

Itu prasangka. dan aku terlarut di dalamnya.


Kemudian di bulan kedua pernikahan kita.
saat ku sambangi engkau di Bandung.
bersengaja mengenakan warna kerudung yang kuanggap terbaik. yang paling menarik.
untukmu. hanya untukmu.

Dan kau pun bertindak seperti biasa.
menyambutku di Salman dengan senyum dan salim tangan.
biasa saja. seakan tak kau sadari ada penampilanku yang berbeda.

Hingga tiba masa ku mengganti jilbab itu dengan yang lain.
tiba-tiba saja kau berucap, memintaku untuk tetap menggunakan warna yang itu.
saat itulah ku tau, dengan senyum tertahan :p, bahwasanya kau sedang mencoba mengatakan betapa cantiknya aku di mata mu.

cinta , kau bukannya tak pandai memuji.
hanya saja bahasa mu berbeda.. 
dan caramu memujiku, cinta.. 
aku terharu.. aku terharu..


Tahukan cinta? , aku bahkan sempat berburuk sangka atasmu.
ketika liburan kemarin-awal minggu pernikahan kita,
kau melarangku untuk datang ke Bandung.
Padahal jengah bagi ku untuk tetap di sini tanpa ada aktivitas penting untuk dilaku.

Apakah kau tidak suka bersamaku? , begitu pikirku dulu.

sampai dengan bersikeras aku mendatangimu.
datang dengan prasangka yang bertambah-tambah.

Lalu kau menyambutku, -lagi-lagi seperti biasa-, hanya dengan senyum dan salim tangan.
tak ada yang istimewa. seakan kedatanganku bukanlah hal yang kau tunggu.

Namun ketika senja menutup hari dan matahari mengucap salam perginya.
kau bawa ku mengitari malam.
dengan sengaja membuat waktu berjalan lambat.
menarikku dalam peluk untuk waktu yang lama.
berucap betapa kau menanti pertemuan ini.

Saat itulah ku tau cinta, 
kau senang ada bersama ku.
Dan kau rindu. sama seperti ku.
hanya saja kau punya bahasa yang berbeda.
Dan caramu mengatakan, betapa kau rindu aku;
cinta , aku terharu.. aku terharu.



aku pun sering cerewet mengucap banyak pinta,
Dan salah satunya adalah pergi ke Boscha.

kau tak pernah menggubrisnya.
membicarakannya pun tidak.
lagi-lagi responmu tak jauh dari tersenyum tiap aku meminta.
Lalu berkata bahwa untuk saat ini, kita belum bisa pergi ke sana.

Saat itu aku kesal. sangat.
karna bagiku, pintamu selalu jadi yang utama.
maka kognisi ku pun membuat ekspektasi bahwa kau kan perlakukan pintaku sama.

ku pikir kau tak peduli. 
untuk menyenangkanku, kau seakan tak ada intensi.
aku pun mulai membanding-banding.
atas mu dengan suami-suami yang lain.
mengapa kau begini, mengapa begitu. mengapa berbeda.

Hingga Allah yang menegurku lembut.
ketika datang waktunya aku pergi lagi ke kotamu.
kau tak mengajakku menginap di tempat biasa.
entah kemana, malam itu kau bawa ku membelah malam.
menyusuri jalan dan dingin malam.
hingga sampai di sebuah bukit.
bukit penuh bintang dan cahaya kota Bandung.

ketika itu kau memang tidak mengatakan inilah usahamu memenuhi inginku.
seperti biasa, respon mu hanya tersenyum. seraya menatapku yang sedang memandang langit bercahaya di atas kita. 

saat itulah ku tau cinta, 
kau memikirkan pintaku.
Dan kau memenuhinya.
Meski tidak sama, namun kau buatnya jauh lebih sempurna.
terimakasih cinta.. terimakasih..
aku terharu.. sungguh..


kemudian untuk 3 bulan 7 hari ini,
terkadang kita berebut kemudi, bertukar cubit, gelitik, lalu lari
juga menyemangati. berpegang erat. membiar rindu memeluk rindu. senyum mendekap senyum.
bersyukur atas satu rahmatNya, bahwa jarak jauh ini, justru membuat kita slalu ingin bertemu dalam kondisi terbaik.
Dan kita pun tertawa dengan tulus. merentang tangan menyambut pagi. Dan siap kembali menjala hari.
saling menyedia bahu untuk disandar. tangan untuk digenggam.

Untuk 3 bulan 7 hari ini,
tak jarang ego pun mengalahkan segalanya.
disuatu ketika,
saat suara kita tidak sedang sama dan bulat tak senada..
saat emosi meninggi dan kita tidak bernyanyi dalam satu melodi..
saat angkuh membuat kita tidak saling merengkuh..
saat duka membuat kita lupa bahwa kita juga pernah hidup dalam suka..
saat prasangka membuat kita jatuh kedalam lembah menerka-nerka..
Lalu kita menangis kesal. 
namun sejatinya tetap berpeluk erat. sebab sama tau hanya satu sama lainlah yang mampu menentramkan.

Dan hari ini,
bertambah satu angka usiamu.
telah kau insyafkan betapa aku menikahi manusia.
yang tak luput dari salah kata atau gaya.
aku pun tersadar dengan segala ekspektasi ku tentangmu.
bahwasanya aku pun belum menjadi istri sebaik itu.
meski telah kukerahkan segala cinta dan daya diri
tak pernah utuh aku menjadi istri
sebagaimana kau rasakan aibku di sana-sini

tapi hari ini bertambah satu angka usiamu,
dan tiada berharga yang bisa kuberikan 
selain do'a yang sebenarnya tiap hari kulantunkan
Do'a berisi banyak pinta.
namun ia rahasia. biar Allah sendiri yang menjaganya.
Lirihku pintaku padaNya yang tersembunyi.
biar.. biar ia menjadi sebaik-baik do'a..

bertambah satu angka umurmu, cinta.. 
bertambah pula hari kita menyusuri jalan kupu-kupu.
menjala langit. menanti pelangi.

Semoga Allah kekalkan ikatan ini, hingga kelak
masing-masing dari kita tak merasa perlu akan bidadari-bidadara syurga..
cukupkan dengan engkau saja..sang separuh jiwa...



Lalu teruntuk engkau, Ksatria ku, Ahmad Dzaky Hanif..
untuk keshabaran yang begitu besar, pengertian yang begitu luas, kelapangan yang rasa-rasanya tak pernah habis,
Jazakallah bil jannah... ,
semoga Allah haramkan dirimu dari api neraka atas kebahagiaan yang tak pernah habis kau curahkan..

Dan sayup-sayup,
mp3ku pun memutar lagu itu..

bagaimana..., bila akhirnya ku cinta kau, dari kekuranganmu.., hingga lebihmu... 


Sungguh,
aku mencintaimu..
Lillah.. Fillah.. karena Allah.. 






N.b., terimakasih untuk Salim A.Fillah, Bang Ivan Ahda, dan Teh Heggy Kearen's, atas notes kalian yang menginspirasi. izinkan saya mengutip beberapa kata. memparafrasekan beberapa makna. semoga ridha'... 

Search

 

Followers

Rumah Bahagia ^__^ Copyright © 2011 | Tema diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger